5 Cara Hemat Saat Jadi Ibu Baru

Jadi ibu baru pasti penuh euphoria, bawaanya ‘gatel’ belanja ini itu. Padahal, belum tentu dibutuhkan. Supaya bisa hemat dan nggak mubazir coba cek beberapa cara di bawah ini, deh.

Kemarin salah satu sahabat saya cerita, kalau dia dibikin geregetan dengan adiknya yang sedang menanti proses kelahiran. Soalnya, adik sahabat saya ini bawaannya jadi laper mata mau beli semua barang. Hahahha, mendengar ceritanya, kok, saya jadi flash back ke beberapa tahun lalu saat mau melahirkan Bumi, ya?

“Kesel, deh, gue sama Risa, mentang-mentang mau jadi ibu baru, bawaannya gatel mau belanja. Padahal gue udah bilang barang yang dia pakai itu nggak fungsional, umurnya cuma sebentar. Tapi dia ngotot aja mau beli. Padahalkan lebih baik dananya dialokasikan buat kebutuhan yang lain,” ungkap sahabat saya, Nisa. Begitu mendengar, saya pun cuma bilang, “Ya…. namanya juga ibu. Dulu gue juga begitu, kok, yang namanya jadi ibu baru pasti penuh euphoria yang sering membuat kita ‘lupa daratan’. Semua ingin dibeli,”.

cara berhemat bagi ibu baru

Nah, siapa yang sependapat dengan saya? Coba ngacung! Hahaahaa….

Ketika jadi ibu baru, konsep needs vs wants jadi buyar seketika. Belajar dari pengalaman pribadi, dan pengalaman beberapa teman dekat, saya pun akhirnya bisa menyimpulkan ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghemat pengeluaran.

Bukan mau pelit atau apa, tapi sebagai orangtua kita kan perlu menyiapkan dana yang nggak sedikit. Membesarkan anak kan perlu kekuatan finansial. Misalnya dana kesehatan, pendidikan yang nggak mungkin kita hindari. Bukankah menyiapkan segala hal termasuk finansial sedini mungkin merupakan bagian wujud cinta kasih dan tanggung jawab saya sebagai orangtua? #ibubijak.

Jadi, apa yang bisa dilakukan untuk menghemat?

Berikan ASI Eksklusif

Saya yakin kalau sekarang semua Mommies sudah melek ASI. Jadi sangat paham kalau ASI merupakan hak bayi yang patut diperjuangan. Selain kandungan nutrisinya sangat baik dan nggak perlu dibantah lagi manfaatnya, memberikan ASI eksklusif juga bikin kita hemat! Kebayang nggak kalau kita harus membeli susu formula yang harganya makin melambung? Termasuk membeli perlengkapan untuk menyusui? Dana yang dikeluarkan ini tentu saja lebih baik digunakan untuk kebutuhan lainnya.

Beli produk yang dibutuhkan dengan kualitas yang baik

Saya masih ingat sekali, saat mengandung Bumi dulu, list perlengkapan bayi yang harus dibeli sangat panjang. Rasanya nggak kelar ketika membuat daftarnya, hahahaha. Benar saja, Bumi lahir ternyata banyak sekali baby stuff yang ternyata nggak begitu penting. Salah satu pelajaran yang saya dapat, seharusnya saya investasi in good quality stuffs, supaya bisa awet dan dilungsurkan pada adiknya Bumi nanti.

Menerima ‘warisan’, kenapa tidak?

Seperti yang sudah saya singgung di atas, salah satu pelajaran yang saya petik ketika beli barang-barang adalah melihat kualitasnya. Dengan begitu, usia produk pun bisa tahan lama dan bisa diwariskan pada saudara yang lain. Saya pun termasuk orang tua yang nggak gengsian, malu menerima barang lungsuran. Justru, ketika saya mendapatkannya baik dari kedua kakak saya ataupun tante, saya kegirangan. Tandanya, jatah dana yang bisa dikeluarkan bisa saya alihkan untuk yang lain. Salah satu produk lungsuran yang saya terima waktu itu adalah boks tidur bayi yang memang sudah jadi warisan keluarga.

Meminta secara spesifik barang yang dibutuhkan

Memang, sih, meminta itu idetik dengan kesan yang negatif. Seperti pepatah lawas bilang, lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah. Tapi dalam hal ini, maksud saya meminta ditujukan untuk orang terdekat saja, misalnya saudara atau kakak. Nggak perlu sungkan untuk mengatakan kebutuhan apa yang masih belum dibeli ketika ada saudara, kerabat atau sahabat yang bertanya, “Mau kado apa?”. Dengan cara ini justru bisa memudahkan mereka untuk membelikan hadiah untuk kita. Mereka juga akan jadi lebih senang jika mengetahui hadiah yang diberikan benar-benar bermanfaat dan tidak terbuang percuma. Saya sendiri sudah sering kali menerapkan hal ini ketika ada saudara atau sahabat yang baru saja melahirkan.

Popok sekali pakai VS cloth diaper

Nah, salah satu trik berhemat lainnya adalah membatasi pemakaian pospak. Dulu saya sempat menggunakan cloth diaper dalam rangka mengurangi jatah pembelian pospak. Umh, tahu sendiri, dong, ya, harga pospak nggak murah. Dan ternyata kebiasaan menggunakan popok sekali pakai sejak bayi juga pasti berpengaruh terhadap keuangan rumah tangga. Tapi, pemakaian pospak ataupun cloth diaper tentu saja punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Ada yang punya kiat lain? Share, dong!


Post Comment