Gaji Karyawan Perempuan Lebih ‘Murah’ Dibandingkan Laki Laki, Benarkah?

Kesel nggak, sih, kalau kita mengetahui fakta dalam perusahaan ada kesenjangan gaji antara perempuan dan laki-laki, padahal tingkat jabatan sama? Konon, gaji perempuan memang sering lebih ‘murah’ dibandingkan dengan laki-laki. Benarkah?

Beberapa waktu lalu, saya sempat membaca sebuah berita yang menuliskan hasil sebuah survei mengenai perbedaan gaji perempuan dan laki laki di Australia. Survei yang dilakukan tahun 2013 ini menunjukan kalau ada jurang perbedaan gaji antara perempuan dan laki-laki. Angkanya, sih, cukup mencengangkan, soalnya total selisihnya dalam satu minggu bisa mencapai 2,7 juta. Wiiiiih.

gaji karyawan perempuan lebih murah

Kebayang nggak, sih, kalau hal ini terjadi pada diri kita? Kesel? Kalau saya, sih, iya. Rasanya akan sama menyebalkannya begitu kalau tahu ada karyawan yang jauh lebih junior dan pengalamnya jauh lebih sedikit tapi dapat gaji lebih besar dari saya. Soalnya hal ini menang pernah saya alami. Untungnya ketika saya bicarakan dengan baik-baik dengan atasan, beliau memaklumi dan akhirnya gaji saya di- upgrade.

Saya sendiri cukup paham kalau perbedaan gaji ini dipengaruhi berbagai hal. Misalnya, terjadi karena individu yang memiliki pengalaman kerja yang lebih banyak atau memang karena karier path yang dicapai sudah berbeda. Tapi bagaimana dengan isu yang mengatakan kalau perbedaan gaji ini pengaruhi oleh gender? Konon, gaji perempuan masih lebih ‘murah’ dibandingkan dengan laki-laki. Berkaitan dengan hal ini, saya pun akhirnya bertanya pada Dian Puty Oscarini, Psi Praktisis SDM & Psikolog.

Kenapa, sih, standart gaji perempuan dengan laki-laki itu berbeda?

“Sebenarnya, kalau mengikuti aturan dasar dari Pemerintah Indonesia, seperti yang tercantum dalam Undang Undang no. 13, pasal 5 dan 6, di situ tertulis kalau ada kesetaraan antara gaji karyawan perempuan dan laki-laki, Jadi tidak ada diskriminasi antara gender atau sisi yang lainnya. Begitu juga dengan konvensi ILO yang di situ juga jelas-jelas ada peraturan yang menuliskan nggak ada perbedaan gaji based on gender. Itu tegas sekali peraturannya”.

Biasanya, hal apa saja yang memengaruhi perbedaan gaji setiap karyawan?

“Perbedaan gaji ini tentu saja dipengaruhi oleh tingkat golongan, jabatan atau kepangkatan seseorang karyawan. Jadi seharusnya nggak ada bedanya dari sana, bukan dari gender”.

Kenyataannya, masih banyak karyawan perempuan yang merasa gajinya lebih kecil ketimbang karyawan laki-laki. Mengapa demikian?

“Tapi kalau pada praktiknya masih dirasakan berbeda, mungkin karena level posisi hingga top level yang dicapai perempuan sampai sekarang ini belum banyak. Ya, sudah banyak juga, sih, tapi jika dibandingkan dengan laki-laki memang masih banyak laki-laki yang sudah mencapai top level. Dengan begitu yang dirasakan, gaji perempuan itu lebih rendah. Itu kalau kita mau membicarakan karyawati yang disebut dengan white collar alias yang di atas level staff yang tingkat edukasinya S1 atau minimal D3.  Sedangkan, ketidaksetaraan ini dirasakan karena mungkin karyawan perempuan yang kelas pekerja  blue collar atau level operator atau di bawahnya, mereka mungkin masuk dalam sektor industri yang upah minimumnya lebih rendah dibandingkan dengan sektor yang lain. Contohnya sektor tekstil, upahnya akan lebih rendah jika dibandingkan dengan sektor pekerja di bidang otomiotif. Padahal yang terserap di industri tekstil ini adalah perempuan, mungkin dari sinilah kesannya ada kesenjangan gaji”.

Mendengar penjelasan ini saya jadi ingat dengan artikel yang ditulis Hanzkyy di penghujung tahun lalu, ‘Dibutuhkan, Para ibu Muda Untuk Kembali Bekerja’. Dalam artikel tersebut dituliskan di tahun 2015 lalu terjadi penurunan yang cukup drastis karena posisi manajemen dipegang oleh perempuan menurun hingga 20%. Ini sudah di bawah rata-rata global, lho, dan juga di bawah rata-rata negara berkembang di Asia Pasifik.

Padahal,saat perempuan tidak bekerja atau tidak berada di posisi manajemen puncak, ada impact yang mungkin tidak kita sadari! Dengan begitu semakin jelas ya, kalau kita sesama working mothers, apapun pekerjaanya memangarus saling merangkul dan punya kesempatan besar untuk sama-sama mengubah sistem yang lebih baik lagi.

 


Post Comment