Menjadi Perempuan Berdaya Dalam Banyak Hal

Selamat menyambut datangnya bulan Maret. Selamat menjadi perempuan berdaya.

Saya bersyukur dalam sepanjang saya hidup saya tidak pernah merasa ‘sulit’ menjadi perempuan di Indonesia. Saya bisa melakukan nyaris apapun yang saya mau dan menjadi siapapun yang saya inginkan. Tanpa adanya batasan yang berarti dari orangtua (walaupun mama saya cukup mengekang untuk beberapa hal), pasangan hidup maupun anak-anak saya. Bisa dibilang, support system saya sangat baik ya :D.

Pun demikian, saya tidak bisa menutup mata bahwa di luar sana masih banyak perempuan yang tidak seberuntung saya. Dan tidak jarang, mereka ada di dalam ring satu kehidupan saya alias orang-orang yang cukup dekat dengan saya. Mereka yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari atasan atau rekan kerja laki-laki, dari suami, bahkan dari orangtua sendiri. Mereka yang pada akhirnya berpikir bahwa diri mereka memang perempuan biasa-biasa saja yang tidak memiliki hak untuk melakukan apapun. Sedih ya!

Yuk, sudah saatnya kita mengubah pola pikir seperti itu. Yuk, kita mulai menjadi perempuan berdaya. “Yaaaaah, pasti mau ngomong tentang pentingnya perempuan bekerja biar menjadi berdaya nih!” Nggak kok. Karena berdaya bisa dilakukan melalui banyak cara!

empowering woman

*Image dari www.graceri.org

Jadilah perempuan yang suka belajar biar melek ilmu. Paling gampang tentu saja dengan banyak membaca. Menjadi perempuan pintar itu nggak perlu memaksa diri kuliah di universitas ternama atau kuliah sampai S3. Banyak membaca, banyak mencari tahu. Dengan menjadi perempuan yang memiliki banyak pengetahuan, kita menjadi tahu apa yang kita inginkan. Kita menjadi tahu apa yang menjadi hak kita sebagai seorang perempuan, seorang isteri, seorang ibu, seorang pekerja. Boleh saja kalau tidak mau bekerja, boleh saja tidak memiliki posisi tinggi dalam pekerjaan, itu semua pilihan kok, tapi bukan berarti kita boleh menjadi bodoh.

Bersosialisasilah dengan banyak orang dari beragam latar belakang. Mulai dari kelompok arisan ibu-ibu gaul, tukang sayur, para staf biasa di kantor hingga CEO sebuah perusahaan ternama. Dari sini kita belajar melihat dunia dari berbagai sudut pandang. Nggak jarang, saat melihat susahnya hidup seseorang, ini memacu kita untuk semangat berusaha lho, karena beberapa alasan: kita ingin membantu orang tersebut atau kita tidak ingin mengalami seperti apa yang orang itu alami!

Berdaya secara finansial. Eng ing eng…….. hahahaha. Oke, saya tetap akan membahas mengenai finansial karena ini memang penting. Lakukanlah sesuatu agar kita mandiri secara finansial. Tidak bisa atau tidak mau bekerja kantoran yang jam kerjanya luar biasa bikin pusing? Good, nggak mau jadi karyawan jadilah mompreneur, buka usaha, jualan online, apapun yang membuat Anda menghasilkan uang dan mandiri secara finansial. Dengan mandiri secara finansial, minimal kita tahu, jika terjadi apa-apa dengan suami kita (knock on wood sih ya) yang menjadi pencari nafkah utama di keluarga, kita masih bisa memiliki simpanan untuk hidup kita dan anak-anak kita ke depannya. Merasa tidak punya kemampuan yang bisa menghasilkan sesuatu? Balik ke point nomor satu saya, belajar!

Terlibat dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Baiklah, Anda benar-benar tidak bisa bekerja karena mungkin suami tidak memberi izin, anak-anak benar-benar tidak bisa ditinggal, kondisi kesehatan Anda tidak memungkinkan, tapi setidaknya terlibatlah dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Saya tidak bicara mengenai kas rumah tangga yang digunakan untuk belanja harian, bayar listrik, uang sekolah dkk, tapi tentang investasi dan rencana jangka panjang keluarga Anda. Jangan hanya pasrah. Jangan sampai, tanpa Anda sadar, Anda mengalami KDRT Ekonomi (tunggu bahasannya di tulisan bulan ini ya Mom).

Berdaya sebagai orangtua juga perlu, lho Moms!