Jangan Katakan 5 Hal Ini Kepada Ibu Bekerja

Anggap saja, ada hal-hal yang sebaiknya Anda simpan sendiri di dalam hati dan tidak perlu diucapkan. ini 5 hal yang sebaiknya tidak dikatakan kepada ibu bekerja. 

Sepanjang nyaris 10 tahun saya menjadi ibu sekaligus pekerja, banyak pertanyaan yang diajukan kepada saya atau kepada sesama ibu lain dalam konteks status kami sebagai ibu yang bekerja. Mungkin si penanya tidak bermaksud apa-apa. Sekadar ingin memuaskan rasa ingin tahunya atau memang ingin mengasah mulutnya yang nyiyir, hahaha.

Apapun alasan mengapa pertanyaan itu diajukan, pesan dari saya adalah, pikirkan baik-baik dampak pertanyaan ke orang yang Anda tanya. Kalau itu akan menyakitkan, lebih baik telan kembali pertanyaan yang sudah ada di ujung lidah Anda :).

1. “Serius lo langsung kerja lagi? Nggak mau nunggu nanti anak lo besaran dikit. Tahun-tahun pertama kan tahun paling penting dalam tumbuh kembang anak?”

Maaf, tapi bagi saya, sepanjang dia masih menjadi anak saya, maka setiap waktu dalam hidupnya adalah hal penting bagi saya. Tidak hanya saat dia berusia 1 tahun, 5 tahun, 12 tahun atau bahkan nanti saat dia sudah bekerja dan menikah. Saat dia bayi, saya masih bisa menyaksikan wajahnya yang puas saat menyedot ASI dari payudara saya setelah saya pulang bekerja. Saya menyaksikan langkahnya yang tertatih-tatih saat menyambut saya pulang kerja dan sekarang pun saya masih bisa menemani anak saya belajar mengerjakan tugas sekolah. Just because I am at work does not mean I am not ‘there’ for my kids.

2. “Lo bisa ya nitipin anak lo sama orang lain. Duh, kalau gue nanti punya anak, kayaknya nggak bisa deh. Mending gue resign.”

Yang seperti ini nih yang bikin saya ingin ‘nelan’ orang, hehehe. Yakin nggak akan ‘nitipin’ anak ke orang lain kalau nanti sudah punya anak? Mending kalau belum mengalami langsung nggak usah komen :D. Jangan ragukan kemampuan saya untuk melakukan screening bagi mereka yang akan mengasuh anak-anak saya! Ibarat kata, untuk urusan yang sepele seperti memilih baju saja, saya rewel dan benar-benar teliti, apalagi memilih orang yang akan menemani anak saya!

jangan katakan 5 hal ini kepada ibu bekerja

*Image dari excelle.monster.com

3. “Kenapa sih masih kerja aja? Bukannya suami bisa memenuhi kebutuhan lo dan anak-anak ya?”

Yakin amat alasan saya bekerja karena kebutuhan akan finansial? Atau, yakin amat kalau suami saya bisa menjadi satu-satunya sumber penghasilan bagi keluarga kami? Jangan sok tau ah. Belum tentu apa yang kita lihat di luar mencerminkan apa yang benar-benar terjadi di dalamnya. Kalau orang memilih melakukan sesuatu itu pasti karena ada alasan, kan? Masalah alasan itu apa, ya itu urusan dia. Nggak ada hubungannya sama Anda!

4. “Ngoyo amat nyari uang, sampai rela ninggalin anak. Percaya deh, rejeki itu sudah ada yang mengatur! Percaya aja sama Tuhan.”

Nah, ini tipe pertanyaan berikut yang membuat saya ingin menelan orang yang bertanya :D Iyaaaa deh, rejeki sudah ada yang mengatur, tapi kadang tetap dibutuhkan usaha dan kerja keras lho dari kita untuk meraih apa yang kita tahu terbaik untuk keluarga kita. Bukan masalah ngoyo, tapi masalah keinginan untuk memiliki kehidupan yang lebih layak dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak.

5. “Nggak kangen ya sama si kecil kalau lagi di kantor?”
Pssst…. sini saya bisikin sesuatu….. Tidak ada yang bisa mengalahkan rasa rindu seorang ibu kepada anaknya. Catat itu! Jadi jangan tanya apakah kami kangen atau tidak, saat harus business trip sekian hari keluar kota tanpa bisa memeluk si kecil Jangan tanya kegalauan kami saat si kecil demam dan kami harus meeting. Lha, kalau kami nggak kerja, terus anak-anak nggak bisa berobat atau makan karena nggak ada uang, bagaimana??? Dan, kenapa sih pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak pernah diajukan kepada para ayah? Apa itu berarti anak-anak nggak akan rindu ayahnya?

Ketika para perempuan bekerja, di jidat mereka seolah dipasang stempel bahwa mereka ibu yang tidak bertangung jawab, perempuan egois dan sederet stempel negatif lainnya. Pertanyaan saya, kalau ada isteri yang bekerja demi membantu suami memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, kenapa suami tidak dianggap “Bukan suami yang bertanggung jawab, sampai membiarkan isterinya bekerja!” Di mana sosok suami diletakkan saat hanya isteri yang dituding dengan jari telunjuk?

So, salut saya untuk semua ibu hebat yang bekerja keras demi keluarga dan bertahan menerima cercaan. You are my HERO. Dan, bagi siapapun yang masih asik menghakimi, tanpa peduli untuk mencoba simpati, next pay check, buy a heart!


2 Comments - Write a Comment

  1. Saya memutuskan resign dan full time mengurus anak pun banyak komen aneh2, macam “nggak sayang tuh udah susah2 kuliah malah di rumah aja?”, “nggak bosen tuh di rumah aja?” *hari gini masih ada ya yg suka komentarin ibu bekerja atau nggak kerja atau apalah*. Memang sebaiknya kita perlu berpikir ulang setiap mau memberikan komentar, apapun itu.

    1. Setuju @anitasei……. seperti yang waktu itu saya perna tulis, dunia ibu-ibu itu kadang suka kejam *__*, selalu ada yang berkomentar mengenai keputusan yang kita ambil. Tinggal kitanya aja yang perlu ndableg ngadepin orang-orang begitu kan, kalau dari merekanya nggak ada kesadaran untuk berpikir sebelum komentar :).

Post Comment