Single Mom and Pregnant, Harus Bagaimana?

Sex & Relationship

Mommies Daily・28 Jan 2016

detail-thumb

Ditulis oleh: Waristi Amila

Menjadi ibu hamil sekaligus orangtua tunggal sudah pasti double tantangannya. Apa yang saya lakukan agar bisa menjalani kondisi ini dengan lumayan menyenangkan?

Ada banyak alasan mengapa wanita menjadi orangtua tunggal, apakah memang karena pilihan atau karena kejadian yang tidak bisa dihindari. Kehamilan memang menyenangkan, namun tidak bisa dipungkiri bahwa emosi kita bercampur aduk selama masa itu – bahagia, sedih, khawatir, atau marah karena lelah. Dan ini bisa menakutkan karena kita harus mengatasi masalah emosi sementara kita merasakan perubahan secara fisik.

Di kedua kehamilan saya, saya merasa sendirian. Secara status, saya menikah, namun terlalu banyak hal yang membuat saya tidak merasakan dukungan dari pasangan selama proses itu. Tapi saya tidak menyerah, karena saya ingin anak saya tumbuh dan besar dalam rasa cinta. Dan ternyata saya tidak sendirian, ada banyak wanita yang senasib dengan saya. Jadi, apabila saat ini mommies mengalami hal yang sama, coba lakukan beberapa hal yang pernah saya (dan beberapa teman) lakukan saat kami menjalani kehamilan dalam kesendirian.

1. Find some support

Satu hal yang terasa hilang saat menjalani kehamilan tanpa pasangan adalah dukungan moral. Menjalani proses kehamilan tanpa dukungan moral yang cukup ternyata sangat melelahkan. Untuk menggantikan posisi pasangan, dibutuhkan “support group”, mulai dari keluarga, teman terdekat, bahkan “orang asing” yang kita temui di internet dan kemudian menjadi teman kita. Kita membutuhkan mereka untuk memberikan sugesti positif, dukungan moril dan tempat berbagi.

[caption id="attachment_61861" align="aligncenter" width="308"]IMG_7338 Anak tertua saya termasuk pendukung nomor satu yang sangat memahami saya[/caption]

2. Seek and accept help

Tidak memiliki pasangan bukan berarti kita harus menjalani semua ini sendirian – bukan saatnya menunjukkan bahwa kita kuat dan bisa melakukan semuanya sendiri. Misalnya, saat terserang morning sick, terima bantuan dari Ibu yang ingin memasak makanan untuk kita.

3. Talk with other single mom.

Memang tidak semudah itu untuk menemukan orang yang mengalami hal yang sama dengan kita – tapi pasti ada. Beruntunglah dengan kemudahan komunikasi yang kita punya sekarang. Kita bisa bergabung dengan forum online untuk single parents, membaca pengalaman dan tips dari mereka, lalu memulai komunikasi dua arah. Sangat membantu lho memiliki teman bicara dan dukungan dari mereka yang juga merasakan apa yang kita rasakan.

Bagaimana dengan urusan pekerjaan?Bisakah kita mencari bantuan?

4. Make adjustments at workplace – you can ask for flexibility

Mungkin semua terasa mudah saat trimester pertama, namun saat kehamilan makin membesar kondisi fisik akan menurun. Inilah saat kita harus melakukan beberapa penyesuaian di tempat kerja. Atur ritme kerja agar efektif dan tidak perlu lembur di kantor, atur waktu break di sela-sela pekerjaan. Apabila kondisi terlalu berat, diskusikan dengan atasan bagaimana agar kita bisa menjaga kualitas kerja namun dengan beberapa penyesuaian – misalnya mempersingkat jam kerja atau bekerja dari rumah. Di kehamilan kedua saya, kondisi tubuh saya melemah di bulan ke lima dan saya meminta izin untuk bekerja hanya enam jam sehari dan bekerja dari rumah dua hari seminggu. Asalkan kita tetap bisa memberikan hasil kerja berkualitas, harusnya atasan tidak akan keberatan. Minta bantuan pada rekan kerja juga bisa.

Single parent dan hamil2

5. Make financial & legal plan

Memiliki anak membutuhkan dana yang tidak sedikit, kita semua tahu itu. Lalu bagaimana kalau seluruh tanggung jawab keuangan harus ditanggung sendiri? Bagi mereka yang berpisah dengan pasangan, bisa bicarakan dana pengasuhan anak, bagi yang tidak (atau pasangan tidak bisa diajak bekerjasama setelah perpisahan) mulai rencanakan keuangan secara matang, cek asuransi yang diberikan oleh kantor, buat tabungan, dan mulai membuat pos-pos keuangan secara matang. Status anak secara hukum dan administrasi juga sangat penting, jangan ragu untuk membuat akta lahir anak walau hanya dengan nama Ibu, ini sangat penting untuk administrasi dan kekuatan hukum anak dikemudian hari. Jangan ragu meminta bantuan pada keluarga, sahabat dekat, atau bahkan pakar.

6. Seek a birth partner

Entah kenapa, saya tidak suka ditemani saat melahirkan, malah bingung dan risih :), tapi memiliki seseorang untuk menemani kita melewati masa kelahiran sangat membantu (terlepas dari kita ingin mereka ikut ke ruang bersalin atau tidak). Ibu, saudara kandung, bahkan sahabat dekat bisa jadi pilihan.

Single parent dan hamil1

7. Stay Happy!

A happy mom will raise happy children, itu yang selalu saya katakan - dan anak kita bisa merasakannya sejak mereka dalam kandungan. Kehamilan membuat emosi naik turun, maka penting bagi kita untuk selalu positif. Fokus pada hal-hal yang membahagiakan seperti bagaimana dia bergerak di dalam perut kita atau bagaimana lucunya dia saat lahir. Rayakan momen ini dengan membuat foto perjalanan kehamilan kita misalnya. Lakukan hal-hal yang membuat kita tenang – saya membaca dan menulis banyak sekali puisi dan cerpen saat saya hamil karena itu menenangkan. Satu lagi, wajar untuk merasa takut, siapa yang tidak?! Yang terpenting, percaya pada diri sendiri kalau kita bisa dan akan baik-baik saja.

Mommies, trust me, you will be an amazing mother! Memiliki pasangan bukan jaminan kita akan jadi orangtua yang lebih baik, dan walau sendirian bukan berarti kita adalah orangtua yang buruk, bahkan kita bisa jadi panutan tentang kekuatan dan kemampuan untuk berdiri sendiri. It’s not going to be easy, but, it’s definitely going to be worth it.