Ayo, Berani, Nak!

Ditulis oleh: Nina Samidi

Membesarkan anak tanpa rasa takut (yang berlebihan), mungkinkah? Bagaimana cara membesarkan anak menjadi pemberani?

Saya ingat seorang teman pernah curhat mengenai anaknya yang sangat penakut. Bukan penakut yang berkaitan dengan setan atau hantu, tapi lebih kepada si anak cenderung takut melakukan sesuatu yang baru, berkenalan dengan orang baru atau melawan ketika dirinya dirugikan. Yang ada malah ibunya akhirnya gregetan sendiri dan mati-matian membela anaknya.

Masalahnya, ibu kan tidak bisa juga 24 jam selalu berada di samping anak. Mau sampai kapan teman saya itu mengawasi si kecil. Akhirnya teman saya sibuk memasukkan anaknya ke berbagai les dengan harapan pelan-pelan keberanian si anak timbul.

anak pemberani

 

*Image dari parentingsquad.com

Setiap anak tentu punya rasa takut. Itulah yang diungkapkan psikolog Vera Itabiliana, saat ditanya apakah setiap anak memang punya rasa takut. Namun, rasa takut anak berbeda-beda sesuai tahapan perkembangan usia khususnya perkembangan kognitifnya. Misalnya, anak yang terlihat tidak takut bahaya akan seenaknya lari atau memanjat sana-sini akan lebih berhati-hati saat dia sudah pernah terjatuh, ini karena dia takut jatuh lagi. Contoh lain, anak usia 3 tahun yang takut gelap, ketika dia berusia 5 tahun kemungkinan besar tidak takut lagi karena sudah lebih paham atau sudah tahu bagaimana atasi rasa takutnya.

Membesarkan anak pemberani
Waktu saya kecil, ibu saya marah kalau saya pulang dengan menangis. Alasannya biasanya karena saya bertengkar dengan teman. Ibu saya biasanya akan bilang, “Jangan takut sama temanmu. Kalau kamu benar, kamu harus berani lawan!” Seperti Popeye yang baru makan bayam, lalu saya akan kembali ke permainan dan lanjut main tanpa memedulikan teman yang tadi membuat saya menangis. Hal seperti di atas pasti banyak dialami anak-anak lain. Menurut Vera, mendorong anak untuk selalu berani, dalam arti berani mencoba dan berani membela diri seperti saat menghadapi bully, adalah hal yang tepat dilakukan orangtua. Ini adalah salah satu cara untuk mengatasi rasa takut. Tentu saja, saat mendorong anak untuk berani melawan bullying, bentuk perlawanannya tidak menggunakan kekerasan yang sama dengan yang dilakukan pelaku bully.

Sebaliknya, orangtua overprotektif yang tidak pernah memberi kesempatan pada untuk mencoba hal-hal baru bisa jadi membuat anak menjadi penakut saat dia dewasa. Karena itu, menurur Vera, untuk membesarkan anak yang berani, rasa takutnya harus diatasi. “Lain halnya jika ketakutan anak tersebut dilestarikan, misalnya justru dimanfaatkan untuk memanipulasi perilaku anak, seperti anak yang takut badut justru ditakuti agar dia makan,” tambah Vera.

Apakah jika orangtua penakut maka akan menurun ke anaknya?


Post Comment