Ketika Harus Menjelaskan Tentang Terorisme Pada Anak

Apa yang bisa dilakukan orangtua saat harus menjelaskan tentang terorisme pada anak?

Ketika Harus Menjelaskan Tentang Terorisme Pada Anak

Gambar dari www.mocpages.com

Beberapa bulan terakhir penduduk dunia dikagetkan dengan kejadian penembakan di beberapa tempat. Kali ini Paris dan US menjadi sasaran tindak terorisme kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab. Hal tersebut tersiar di media cetak maupun elektronik, tanpa disadari si kecil pun dapat mengetahui kejadian tersebut. Termasuk bagaimana cara para jurnalis mengumpulkan fakta-fakta dari pada narasumber mengenai kejadian tersebut.

Karakteristik khas yang dimiliki jurnalis luar negeri adalah pertanyaan mereka yang fokus pada perkara yang sedang terjadi, tidak mengawang-ngawang seperti melontarkan pertanyaan “Bagaimana perasaan bapak atau ibu sebagai orangtua dari korban?” “Apakah Anda sudah memiliki firasat sebelumnya, kalau Anak Anda akan berpulang?”. Bisa Anda bayangkan jika menjadi narasumber jurnalis yang seperti ini? Tapi mirisnya pertanyaan-pertanyaan semacam ini masih saja saya temui dari jurnalis di Indonesia saat mewawancarai keluarga korban sebuah peristiwa (walau tidak semua). Ada baiknya bentuk pertanyaan diambil dari segi hukum, misalnya “Sudah terpikirkah akan mengambil tindakan hukum tertentu?” atau “Dari mana dan kapan bapak atau ibu mendapatkan informasi mengenai peristiwa ini?”

Ya memang sih, si kecil belum tentu akan menjadi jurnalis – tapi dari momen tersebut kita bisa mencontohkan bagaimana berempati kepada keluarga yang sedang berduka saat bertugas menjadi jurnalis.

Kembali lagi ke pokok persoalan – walau anak saya belum genap berusia dua tahun, namun tetap saja saya kepikiran – apa jadinya ya kalau anak saya sudah lumayan besar dan bertanya seputar serangan teror di Paris dan US? Dengan bantuan dari Psikolog Anak dan Keluarga Maharani Ardi Putri Msi. Psi saya mencoba menguak cara yang paling tepat menjelaskan perihal kejadian tragedi atau yang sejenisnya kepada anak tanpa menimbulkan kecemasan.

Memulai Percakapan 

“Apabila anak tanpa sengaja melihat adegan atau berita kekerasan terorisme atau sejenisnya, maka Mommies perlu bertanya dahulu perihal pemahaman anak terhadap kejadian yang baru saja mereka lihat. Karena nantinya akan menjadi ukuran dan bahan pertimbangan untuk memberikan penjelasan.” Tutur Putri kepada Mommies Daily.  Pertanyaan itu bisa berupa:

  • Apakah tadi kamu melihat berita penembakan itu?
  • Apa yang kamu pikirkan setelah melihat berita tersebut?
  • Bagaimana perasaan kamu terhadap berita tersebut?

Dari pertanyaan-pertanyaan di atas orangtua dapat menentukan langkah selanjutnya, yang perlu diingat anak masih memiliki keterbatasan untuk mengelola informasi – jangan sampai informasi yang kita berikan malah menjadi beban pikiran mereka. Misalnya nih, apabila si anak melihat tindakan kekerasan, katakan padanya bahwa tidak semua orang didunia ini memiliki maksud baik, jadi kita memang harus berhati-hati. Tapi seimbangkan dengan jaminan dari kita orangtuanya dengan memberikan rasa aman kepada mereka. Katakan padanya kita akan menjaga mereka, dan apabila tindakan kekerasan yang mereka lihat ada di film – beri pemahaman jika dalam dunia nyata mereka (para pelaku kekerasan) akan diberikan ganjaran atas perbuatannya.

Katakan kepada mereka kenapa seseorang bisa berbuat kejahatan, contoh kalimat yang bisa Anda gunakan “Kadang-kadang ada orang yang marah pada orang lain tapi mereka tidak mau membicarakan perasaannya sehingga akhirnya mereka menjadi sangat marah dan melakukan tindakan seperti itu, jadi kalau kamu merasa marah sama orang lain sebaiknya kamu segera cerita pada mama, papa, guru atau orang dewasa lain yang bisa kamu percayai.

Selanjutnya perhatikan tata bahasa Anda, hindari mendramatisir keadaan, contohnya: “Iya dek perampok itu jahat banget, nanti bisa menangkap dan mengikat kamu!”. Pastikan juga seluruh orang rumah memberlakukan hal yang sama, termasuk asisten rumah tangga Mommies.

Penting untuk menjelaskan sesuai dengan realitas & memberikan pemahaman sesuai usia


Post Comment