3 Tantangan Anak Pra-Remaja & Cara Menghadapinya

Bagi yang belum memiliki anak pra-remaja, nggak ada salahnya artikel ini dibaca untuk persiapan kelak, agar hubungan kita dengan si anak yang akan beranjak remaja nggak penuh dengan konflik :).

Duh… pusing, deh, punya anak pra-remaja masalahnya lebih sulit, ya. Saya pikir lebih mudah mengurus dan mendidik anak yang usianya sudah 9 tahun ke atas ketimbang balita. Tapi, ternyata dugaan itu salah”.

Kira-kira begitulah kalimat curhatan yang dilontarkan salah satu sahabat saya yang sudah punya anak ABG. Sebagai ‘tong sampah’ yang baik, saya pun hanya bisa merespon dengan senyuman dan sesekali melemparkan pertanyaan. Salah satunya adalah, “Memang, ada masalah apa sih?” Pertanyaan singkat ini pun lantas dijawab dengan singkat, “Intinya sih, sekarang, antara Vira dan gue sering banget terlibat konflik. Ada aja yang diributin”.

0e525863dc58bcd3327745674ac906aa

Masalah yang sedang dialami kawan saya ini tentu sudah sering kali kita dengar. Banyak orangtua yang merasa kewalahan dengan perubahan sikap anaknya. Buat saya yang anaknya masih berusia 5 tahun, masalah ini memang belum saya alami. Namun,  sebagai orangtua kita memang dituntut untuk terus belajar. Biar bagaimanapun, cara menghadapi anak saat mereka masih bayi, balita, remaja, ataupun dewasa memang berbeda.

Hal ini pun diamini Psikolog Spesialis Perkembangan Anak, Vera Itabiliana K. Hadiwidjojo, Psi. “Fase perkembangan anak memang punya tantangan masing-masing. Tidak bisa dikatakan kalau anak pada masa balita lebih mudah diurus dibandingkan anak-anak yang masuk pada usia pra-remaja. Hanya saja, memang menghadapi anak-anak yang mulai masuk pada usia pra-remaja ini lebih banyak tantangannya, karena mereka sudah memiliki keinginan sendiri. Berbeda dengan anak balita, yang memang mudah mengikuti keinginan orangtuanya.”

Vera mengungkapkan bahwa perubahan ini tidak terlepas dari masa pubertas di mana seorang anak akan menghadapi perubahan hormonal yang besar. Hal ini pun akan memengaruhi perkembangan secara fisik ataupun psikologis, yang akhirnya berujung kepada kematangan seksual.

Biasanya orangtua suka nggak ngeh kalau anaknya sudah masuk dalam masa pubertas. Memang untuk ciri fisik belum bisa terlihat. Namun sebenarnya, kita bisa melihatnya dari ciri emosi anak-anak. Mereka lebih mudah mengalami mood swing dan labil. Jadi mudah ngotot dan membantah orangtua. Rupanya, hal inilah yang akhirnya menimbulkan ‘gesekan’ hingga terjadi konflik antara orangtua dan anak. Ujung-ujungnya, anak-anak pun akan melarikan diri pada situasi yang mereka anggap bisa memberikan kenyamanan.

Masa pubertas anak-anak sendiri sebenarnya tidak bisa disamaratakan. Tumbuh kembang anak tentu akan berbeda. Namun, seperti yang sudah sempat saya tulis di artikel ‘Anak Puber? Ini Yang Harus Dilakukan!’, biasanya masa pubertas anak perempuan akan terjadi pada usia 9 hingga 11 tahun. Sementara untuk anak laki-laki akan terjadi ketika mereka berusia 11 hingga 13 tahun.

Menurut Vera Itabiliana, Psi, problem utama anak pra-remaja umumnya berkaitan dengan pubertas. Dan, ada 3 hal yang sering dihadapi  oleh anak-anak usia pra-remaja yang sebaiknya dipahami oleh para orangtua. Apa saja itu?