Merdeka Versi Saya

Dari dua kegiatan sederhana saya bisa merasakan indahnya ‘merdeka’ atas diri saya sendiri.

Sejak SMU saya suka sekali lari. Awalnya karena saya mengikuti kegiatan ekskul softball di sekolah yang salah satu bagian dari latihannya tentu adalah berlari. Dulu saya melihat lari ini sebagai kewajiban semata, belum merasakan kenikmatannya selain bahwa setelah lari akan berlatih softball.

Untungnya kebiasaan rutin lari ini saya bawa terus sampai masa kuliah dan kemudian saat bekerja. Dulu saya pernah menjadi perokok berat, sebelum hamil anak saya yang pertama, meski demikian saya tetap rutin lari.

Setelah menikah dan punya anak, saya tetap berlari meskipun on dan off, tapi saya sudah bisa menghargai lari sebagai kenikmatan tersendiri, walaupun saat itu belum hits yang namanya event lari. Sampai hari ini, setelah saya memiliki dua anak, saya masih tetap berlari dan semakin merasakan bahwa lari adalah kemewahan. Walau tetap saya hanyalah pelari yang lari di taman atau di sekeliling komplek, hahaha.

Buat saya lari adalah happy place. Happy place karena beberapa hal.

Merdeka bagi seorang ibu

 

*Gambar dari sini

Pertama saat lari berarti itu me time saya, hal yang saya yakini dibutuhkan semua ibu. Saat lari saya harus mendengarkan musik, saya buat playlist khusus dan bernyanyi kencang dalam hati saat berlari (kalau bernyanyi keras, khawatir orang-oang lain di taman pada kebingungan :p).

Liberating, saat lari saya merasa merdeka atas diri saya, saya memegang kendali berapa lama saya mau lari, seberapa nikmat saya mau keringetan. Saya memiliki postur dan berat badan yang tidak langsing. Apalagi ditambah dengan melahirkan dua anak dan kecintaan pada makanan enak, sebenarnya saat lari saya sering kali merasa berat. Tapi saya seringkali berhasil membebaskan diri dari hal-hal yang menghalangi tersebut, dengan cara membuat catatan waktu khusus untuk waktu berlari dan saya menjaga agar saya tidak mundur dalam catatan waktu berlari.

Purposeful pain, semua yang berat dan bikin pegal saat berlari itu saya lihat sebagai ketidakenakan (pain) yang bertujuan (purposeful). Tujuannya adalah kenikmatan setelah selesai lari, yaitu keringat mengucur luar biasa deras, badan segar dan ringan.

Saat berlari sambil mendengarkan musik ini saya juga tak jarang sambil meluruskan pikiran-pikiran yang kusut, karena kabarnya saat berolahraga badan kita mengeluarkan hormon yang membantu kita berpikir positif.

Hal lain yang saya anggap nikmatnya sama dengan berlari (dan katanya juga sama menyehatkannya) adalah membongkar barang, menyortir dan menyusun ulang barang-barang di rumah. Atau lebih sering disebut dengan istilah decluttering.

decluttering

 

Setelah memiliki dua anak, saya sering kali menjadikan rumah yang tidak rapi dan barang yang menumpuk sebagai excuse: namanya juga ada anak kecil di rumah, berantakan itu wajar. Saya merasa sudah menerima keadaan itu tapi tetap stress, hahaha.

Sebulan sekali saya melakukan decluttering. Barang-barang yang sudah 1 tahun disimpan dan tidak dimainkan artinya super wajib untuk dikeluarkan dari rumah. Anak-anak biasanya sangat senang dengan aktivitas ini. Jadi sekalian kami menghabiskan waktu bersama. Setelah kegiatan menyortir selesai, kami menyusun kembali posisi penyimpanannya dan tak jarang kesenangan berlanjut karena kesempatan untuk lay out ulang tampilan interior.

Buat saya, melakukan hal ini tidak kalah nikmatnya dengan lari, meski berbeda, yaitu bukan me time tapi justru nikmat karena bonding dengan anak-anak, tapi juga liberating (karena berhasil melawan malas :p) dan meski awalnya ruwet banget berantakan (pain) tapi setelah selesai (purposeful) leganya tiada tara. Lalu ditutup dengan duduk-duduk sambil makan es krim bareng anak-anak.

Being happy and healthy, selalu nikmat kalau kontrolnya ada di diri sendiri, nggak nunggu siapa-siapa, nggak tergantung tempatnya di mana dan nggak selalu butuh banyak biaya. :p

Yulia Indriati, Content Manager di Keluarga Kita – yang semula bernama 24hourparenting.com – kini berubah menjadi keluargakita.com. Keluarga Kita adalah penyedia konten edukasi keluarga dan berharap bisa menjadi teman seperjalanan keluarga Indonesia. Ikuti updatenya di Twitter: @KeluargaKitaID, Instagram: @keluargakitaid dan Facebook: Keluargakitaid


Post Comment