Hotel Transylvania 2: Anak Bukan Kuasa Orangtua Untuk Dibentuk Sesukanya

Ditulis oleh: Arnis Ardianti

Siapa yang belum sempat mengajak si kecil menonton film ini? Wajib nonton karena filmnya sangat pas dengan kondisi keluarga masa kini :).

59

*Gambar dari sini

Kami berangkat untuk menonton film ini pada hari pertama film mulai diputar di bioskop Indonesia. Kalau mau menunda, bisa-bisa kesempatan baru datang seminggu kemudian karena jadwal Ayah yang mulai padat. Mau tidak mau kami berangkat meski saat itu Ayah sedang dalam mood yang kurang oke. Sepertinya Ayah terlalu letih dan mulai banyak pekerjaan yang harus dipikirkan. Tapi, heeeei.. Surprise! Kami nyaris tertawa di setiap kesempatan saat menonton Hotel Transylvania 2. Keluar dari studio 3 Premiere XXI dengan wajah berseri-seri sambil terus membahas adegan yang menurut kami sangat lucu. Film yang sungguh menghibur!

Kami menonton Hotel Transylvania 2, melewati prekuel Hotel Transylvania (2012). Tapi ternyata tidak terlalu kehiangan esensinya.

Film yang dibesut oleh Genndy Tartakovsky (sutradara Powerpuff Girls, serial kartun favorite saya!) mengisahkan kehidupan Mavis, putri dari Drac (klan vampire) yang baru saja menikah dengan seorang manusia bernama Johnny. Drac adalah vampire yang modern dan berpikiran terbuka menerima Johnny dengan lapang hati sebagai menantunya. Drac tidak peduli, apakah Mavis akan menikah dengan manusia, unicorn atau sesama monster, yang utama baginya adalah kebahagiaan Mavis.

Kebanggaan Drac bertambah ketika mengetahui, tak lama lagi ia akan menjadi seorang kakek. Makin membuncah saat Dennis, sang cucu lahir dan tumbuh sehat menggemaskan. Namun bersamaan itu pula konflik muncul. Karena Ayah Dennis seorang manusia, maka anak itu berpeluang tumbuh sebagai manusia. Namun demikian Drac memiliki harapan sendiri mengenai masa depan Dennis.

Drac menginginkan, Dennis tumbuh menjadi vampire seperti dirinya. Akan tetapi tanda-tanda ke-vampire-an Dennis belum juga tampak. Tenggat waktu adalah saat Dennis berusia 5 tahun. Ketika itu seharusnya taring Dennis sudah muncul.

Tidak mudah menjadi orangtua. Saat menemui ketidaksesuaian di tengah jalan, apakah orang tua, kakek dalam kisah ini, akan mengizinkan anak tumbuh sebagaimana adanya dia, dan mencintainya tanpa syarat, atau memanipulasinya agar tumbuh sesuai dengan harapan?

1271033 - THE WALK

*Gambar dari sini

Pergulatan Drac dan Mavis dalam pengasuhan Dennis menjadi titik berat film yang diproduksi oleh Sony Picture Animation ini. Gaya asuh yang berbeda mengena sekali untuk kita yang baru mempraktikkan ilmu parenting terkini namun masih menumpang dengan orang tua yang punya gaya asuh berbeda. “Apakah kau akan membuatnya tumbuh menjadi dia yang bukan dia?” gugat Mavis pada Ayahnya.

Educate your children for a time not yours, -meminjam tagline sebuah sekolah di Cinere.
Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri, kata Kahlil Gibran.

Zaman berganti. Beberapa hal berbau kekinian ditangkap dengan cermat oleh film yang menampilkan suara Adam Sandler dan Selena Gomez ini. Facebook. Serial The Walking Dead. Smartphone. Frankenstein yang dulu ditakuti kini lebih keren diajak selfie. Lewat youtube, apa yang baru saja terjadi di hadapan kita bisa tiba-tiba dapat disaksikan jutaan orang lengkap dengan versi remixnya. Dan anak pun bukan lagi semata kuasa orangtua yang bisa dibentuk sesukanya.

Maka.. Vampire atau bukan vampire, biarlah Dennis tumbuh menjadi dirinya sendiri. Tugas orangtua hanyalah pendamping, yang menyiapkan bekal dan memberitahu rambu agar anak nyaman di perjalanan. Kalaupun tersasar, bisa kembali lagi ke jalannya.

 


Post Comment