5 Faktor ‘Perusak’ Pemberian ASI Eksklusif

Ada beberapa hal yang membuat pertahanan seorang Ibu ‘jebol’ untuk memberikan ASI eksklusif. Apa saja?

Seperti yang sudah sempat saya ceritakan di artikel ini, saya gagal memberikan ASI eksklusif. Ya, namanya ASI eksklusif, artinya bisa memberi ASI  thok, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula ataupun air putih, terlebih makanan tambahan seperti pisang. Sementara saya, setelah pulang dari rumah sakit, ASI-nya malah mandek. Saya sinyalir waktu itu mengalami stress dan kurang percaya diri. Hahaha, ini sama sekali nggak bermaksud cari pembenaran, lho. Tapi memang selain karena merasa letih, saya benar-benar merasa kelelahan yang berujung pada stress. Serius, deh!

ngasi

Alhasil, selama beberapa hari saya pun memberikan susu formula pada anak saya, Bumi. Padahal ketika itu saya sudah berusaha mati-matian untuk mengonsumsi segala makanan yang dipercaya bisa menambah ASI. Sayur bayam, daun katuk, pepaya muda, segala jenis kacang-kacangan ataupun booster alami sudah saya lahap.  Termasuk makan daun bangun-bangun.  Nyatanya, selama beberapa hari ASI saya masih juga nggak mengalir dengan semestinya.

Kalau ada yang tanya apakah saya merasa sedih dan kecewa, itu pasti. Lah wong, ASI merupakan hak dan sumber makanan terbaik untuk bayi. Tapi saya yakin, meskipun nggak bisa memberikan ASI eksklusif, rasa cinta saya pada Bumi tidak berkurang. Begitu pun sebaliknya.  Tapi saya bersyukur, walupun pada awalnya ASI seret, toh, anak saya bisa merasakan ASI hingga usianya 2 tahun lebih. Harapannya, sih, kalau saya hamil lagi, saya bisa memenuhi kebutuhan ASI eksklusif untuk adiknya Bumi.

Pengalaman ini justru mengajarkan saya bahwa menyusui itu tidaklah mudah, dan tentunya sangat dipengaruhi beragam faktor. Mulai dari pikiran kita sendiri hingga pengaruh lingkungan sekitar. Yang jelas, setiap mommies pasti punya catatan sejarah yang berbeda. Belum lama ini saya sempat ngobrol dengan beberapa teman dekat, ternyata di antara kami punya pengalaman serupa.

Dari obrolan tersebut, saya bisa menyimpulkan ada beberapa hal yang membuat pertahanan seorang Ibu ‘jebol’ untuk memberikan ASI eksklusif. Apa saja?

Belum Siap Mental

Percaya, deh, kehidupan kita akan mengalami perubahan yang begitu drastis ketika punya anak. Kalau dulu gampang sekali ngumpul bersama teman-teman, pergi jalan-jalan buat me time, ataupun melakukan kegiatan yang mengasyikkan lainnya, saat jadi ibu kita harus siap untuk kehilangan kebebasan untuk melakukannya. Terlebih ketika baru punya bayi.

Setelah melahirkan, lebih dari separuh waktu kita akan habis untuk menyusui bayi. Masalah akan muncul kalau kita belum siap mental dengan kondisi yang  harus dijalankan. Rasanya belum pulih rasa lelah karena harus begadang semalam, eh, harus mengalami masalah pada payudara ketika menyusui. Padahal ketika rasa bosan menyerang karena harus menyusui terus menerus, ada banyak hal menarik yang bisa kita lakukan.

Terlalu Percaya Mitos

“ASI-nya kurang, tuh… anaknya masih haus.”

“ASI-nya masuk angin, jangan berikan lagi, nanti anaknya sakit perut.”

Siapa di antara Mommies yang pernah ‘kemakan’ dengan komentar seperti ini? Percaya, deh, Mommies… ketika menyusui si kecil sebenarnya modal kita itu niat dan yakin. Termasuk yakin kalau komentar miring yang kita dengar sebenarnya mitos yang menyesatkan. Supaya nggak keliru, coba, deh, perhatikan mana saja yang yang fakta dan mitos menyusui.

Kurangnya Support System

Sudah jadi rahasia umum, ya, kalau menyusui membutuhkan support system yang baik. Jika tidak, ya, bisa berabe. Hal inilah yang dikeluhkan salah satu sahabat saya. Mertuanya, berpikir kalau jumlah ASI-nya tidak mencukupi. Alhasil, sedikit-sedikit meminta sahabat saya ini untuk memberikan susu formula. Padahal, banyaknya ASI dipengaruhi pengosongan payudara.  Makin sering ASI diperah, produksi ASI justru jadi  bertambah.

Belum lagi, kalau ada komentar teman yang menurunkan semangat dengan bilang, kalau setelah jadi Ibu kita jadi teman yang menyebalkan.  Komentar miring seperti ini tentu saja bisa bikin nge-drop. Saran saya, sih, kalau ada teman yang suka asal komentar kita nggak perlu masukkan hati celoteh dan kritiknya. Walaupun berteman baik, belum tentu punya visi dan misi kita yang sama, termasuk masalah menyusui.

Donor ASI

Dalam hal ini saya tidak bermaksud untuk menyalahkan donor ASI. Biar bagaimana pun dengan adanya donor ASI tentu sudah ada ratusan bahkan ribuan anak bayi yang tertolong dan bisa hidup sehat. Namun sayangnya, tidak sedikit Ibu yang salah kaprah memanfaatkan donor ASI ini. Salah satu teman saya bercerita, ada kerabat yang meminta donor ASI padanya. Alasannya hanya karena stok ASIP-nya menipis, lantaran setelah bekerja tidak sempat memompa. Padahal, memberikan ASIX itu kan memang perlu perjuangan. Kalau santai dan usaha, ya, mana bisa?

Tenaga Medis

Menjelang persalinan, coba, deh, perhatikan apa saja yang dipersiapkan. Sudah ‘shopping’ tenaga medisnya belum? Baik memilih dokter kandungan ataupun  Rumah Sakit Bersalin. Tanpa disadari, tidak sedikit tenaga medis yang terlalu menggampangkan dengan menyarankan kita menggunakan susu formula begitu ada masalah, misalnya ketika bayi kuning. Untuk itulah ada baiknya kita harus bijak dalam memilih tenaga medis. 

Setelah menentukan, Mommies bisa mendiskusikannya dengan dokter dan mengatakan keinginan memberi ASI eksklusif. Bila memang ada masalah, tidak ada salahnya langsung minta rujukan ke konselor laktasi. Jika Mommies membutukan rekomendasi ingin diskusi mengenai rumah sakit bersalin bisa langsung bergabung di thread forum.

Kalau menurut saya ke lima faktor di atas yang jadi ‘perusak’ rencana pemberian ASIX, bagaimana dengan Mommies yang lain? Kalau ada pengalaman atau cerita yang berbeda, share, yah!