Penyakit Pada Anak Pasca Lebaran

Ditulis oleh: Nayu Novita

Perjalanan mudik yang melelahkan, waktu bermain yang kelewat panjang, ditambah asupan makanan yang tidak terkontrol sering sekali membuat anak-anak terancam sakit setelah liburan hari raya. Duh, bagaimana mengatasinya ya?

Seperti jutaan penduduk Indonesia lainnya, keluarga kami juga punya tradisi mudik untuk menghabiskan liburan hari raya. Selain melepas kangen pada sanak saudara, kami juga senang menikmati suasana Lebaran yang khas di kampung halaman. Sayangnya, sepulang dari mudik selalu ada saja “kejutan” yang menanti kami. Apalagi kalau bukan keluhan batuk, pilek, dan masalah pencernaan yang menyerang anak-anak.

b8ec1fc998650aa4e6bd8985875a2cbc3420884672-1359383536-51068bf0-620x348

*Gambar dari sini

Tadinya saya pikir, anak-anak saya saja yang mengalami hal seperti itu. Apakah saya yang terlalu membebaskan anak-anak? Tapi ternyata, setelah bertanya ke sana-sini, tak hanya keluarga kami yang mengalami hal tersebut. Sedikit bernapas lega, hehehe. Nah, berdasarkan ‘pengamatan’ saya, ini beberapa jenis penyakit yang sering mampir ke tubuh si kecil pasca liburan hari raya.

Batuk Pilek

Semua mommies pasti sudah akrab dengan jenis penyakit yang satu ini. Batuk pilek alias batpil atau common cold  yang ditandai dengan gejala hidung tersumbat, mata berair, batuk, dan terkadang demam ringan. Batpil bisa disebabkan oleh dua hal, yaitu virus dan reaksi alergi. Virus penyebab batpil bisa menyebar melalui udara atau kontak langsung dengan permukaan benda yang terkontaminasi virus. Banyaknya orang yang kita temui—salah satunya bisa jadi sedang menderita batpil, pada saat bersilaturahmi bisa menjadi “pintu gerbang” masuknya virus ke dalam tubuh si kecil. Paparan virus ditambah stamina tubuh yang sedang merosot adalah kombinasi ideal yang bisa mengakibatkan kuman di dalam tubuh berkembang menjadi penyakit.

Biasanya untuk mengurangi kans terkena batpil, saya selalu mengingatkan anak-anak untuk tidak lupa mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin. Saya sendiri juga membawa amunisi di tas berupa hand sanitizer. Nah, saat silaturahmi, kebetulan di keluarga saya ada budaya untuk mencium tangan, akhirnya saya bilang ke anak-anak untuk mengarahkan tangan ke dahi, bukan hidung atau mulut. Ini bisa memperkecil risiko masuknya kuman penyakit melalui saluran pernapasan si kecil.

Diare

Salah satu momentum yang ditunggu-tunggu  dari perayaan hari raya adalah acara menikmati hidangan khas Lebaran. Mulai dari ketupat, opor, rendang, sampai beraneka jenis kue kering dan jajanan siap menanti untuk dicicipi. Siapa yang bisa menolak semua jenis hidangan ini, ya, kan! Sayangnya, yang sudah-sudah, kalau anak-anak saya kalap mengonsumsi semua jenis hidangan, ujung-ujungnya pencernaan mereka bermasalah. Tahu kan, betapa beragamnya jenis bumbu yang digunakan untuk meramu hidangan khas Lebaran?

Jika si kecil memiliki sistem pencernaan yang cukup sensitif, besar kemungkinan jenis-jenis hidangan yang terlalu spicy tersebut akan membuatnya terserang diare. Bukan hanya karena pencernaan yang sensitif, diare juga bisa disebabkan oleh konsumsi makanan yang terkontaminasi virus.

Menyiasati masalah yang satu ini, biasanya saya meminta anak-anak untuk mencicip dalam porsi kecil. Jadi, kalau kita bersilaturhami itu kan berarti kita keliling ke beberapa rumah (dan tidak dilakukan dalam satu hari saja), nah, saya buat deh pembagian di situ. Di rumah eyang boleh mencicip rendang dan snack, di rumah tante boleh mencicip es krim dan opor, demikian seterusnya. Tapi untuk hidangan yang saya merasa tidak yakin dengan bahan-bahan pembuatnya, saya tegas berkata tidak.

Sembelit

Sembelit atau konstipasi adalah suatu kondisi dimana feses berbentuk keras dan sulit dikeluarkan. Akibatnya, frekuensi buang air besar (BAB) menjadi jarang dan seringkali disertai rasa sakit. Terkadang, sembelit disertai pula oleh sakit perut dan rasa mual. Jika berlangsung cukup lama, si kecil bisa menjadi rewel dan gelisah serta mengalami penurunan nafsu makan.

Kalau saya perhatikan, saat anak-anak saya terlalu banyak menyantap junk food, asupan sayur dan buah juga berkurang banyak (ya kan tidak semua tempat menyediakan sayur dan buah) dan kurang minum air putih, jadilah sembelit muncul.

Karena memastikan ketersediaan buah dan sayur jauh lebih susah dibanding memastikan air putih selalu ada, biasanya saya ‘genjot’ anak-anak untuk minum air putih sesuai dengan kebutuhan tubuh mereka. Apalagi kalau mereka terus bermain bersama sepupunya sampai lupa waktu, jadilah saya wira wiri mengingatkan mereka untuk tetap minum air putih di sela waktu main.

Kalau mommies yang lain ada yang mengalami seperti apa yang saya alami nggak?

 

 

 


Post Comment