Mengatasi Efek Negatif Multitasking

Sebagai perempuan yang seringkali dianggap sebagai mahluk yang paling bisa melakukan beragam pekerjaan dalam satu waktu bersamaan alias multitasking person, tak jarang kita merasa bangga mendengarnya. Faktanya? Ternyata multitasking memiliki efek samping yang kurang baik untuk kesehatan otak.

Pernah dengar atau membaca kalimat ini? A man’s work is from sun to sun, a women’s work is never done. Rasa-rasanya benar banget ya. Terlepas dari kita ibu bekerja atau bukan, yang namanya seorang ibu memang selalu ada saja hal yang perlu dilakukan. Jadi, sah-sah saja kalau saya menganggap semua ibu pasti ahli melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu yang bersamaan alias multitasking. Dan seperti yang sempat saya singgung di atas, tak jarang kita merasa bangga menyandang ‘gelar’ tersebut. Atau kalaupun kita melakukannya karena ‘terpaksa’ mengingat banyaknya pekerjaan yang harus kita lakukan, kita memaksa diri untuk bermultitasking.

3283458_orig

*Gambar dari sini

Menurut www.forbes.com, saat otak dipaksa melakukan beberapa hal sekaligus, sebenarnya otak membutuhkan waktu berpikir yang jauh lebih lama dibanding jika kita melakukan pekerjaan satu per satu. Everyone complainig of memory issue these days – they are symptoms of this multitasking epidemic.  Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Standford University membuktikan bahwa multitasking bisa mengurangi produktivitas karena saat kita menerima beberapa informasi dan mengolah beberapa informasi sekaligus, kemampuan otak yang kita gunakan tidak bisa maksimal karena pada dasarnya otak hanya bisa fokus pada satu hal dalam satu waktu. When you try to do two things at once, your brain lacks the capacity to perfom both tasks successfully. Sedangkan penelitian yang dilakukan di University of London menemukan bahwa saat beberapa peserta diminta melakukan beberapa pekerjaan sekaligus, hasil IQ yang mereka peroleh menurun 15 poin.

Masalahnya, dengan banyaknya List To Do dan terbatasnya waktu, apa yang bisa kita lakukan? Buat saya, jawabannya adalah memanfaatkan teknologi untuk meringankan ‘beban’ saya. Ibarat kata, saya mencari ‘Asisten Pribadi” yang  bisa memudahkan saya menjalani aktivitas sehari-hari.

Urusan mencari Asisten Pribadi alias gadget yang andal ini pun juga bukan hal mudah. Banyak pertimbangan yang saya pikirkan. Mulai dari ukurannya yang harus handy dan cukup ringan sehingga mudah saya bawa-bawa hingga aplikasi-aplikasinya yang ramah untuk anak-anak. Dan, saya pun bertemu dengan Samsung GALAXY Tab 3V. Bagaimana ini memudahkan saya dalam beraktivitas?


Post Comment