My Super Support System

Menjadi isteri, ibu dari dari 2 orang anak sekaligus working mother di sebuah perusahaan media digital bisa saya jalani dengan nyaman berkat dukungan  dari orang-orang terdekat – support system yang sangat memahami saya. Siapa saja mereka?

workingmomgraphic

   *foto dari sini

Perempuan diciptakan oleh Tuhan dengan kemampuan multitasking yang luarbiasa – itu yang saya rasakan. Contohnya, ya diri saya sendiri. Status saya sebagai ibu bekerja, membuat saya tak jarang memeriksa PR anak sambil mengecek kembali list to do yang harus saya selesaikan besok di kantor. Belum lagi menjawab pertanyaan ART mengenai menu apa yang akan dimasak dan ehm…memastikan penampilan tetap cantik di mata suami, hehehe.  Diserbu rasa bersalah karena sesekali harus meninggalkan si kecil yang kurang sehat karena ada meeting dengan klien juga pernah saya alami. Untungnya, hal ini tidak berlangsung lama. Dan, semua terjadi karena saya memiliki support system yang sangat hebat.

Saya percaya, support system yang baik dan dapat diajak bekerjasama bisa menjadi solusi bagi ibu bekerja seperti saya. Dan saya beryukur karena saya memiliki mereka semua.

My husband,  my partner

Yup, suami adalah orang pertama yang harus saya ajak kerjasama agar semua berjalan dengan baik. Sebaga pasangan hidup dan juga ayah dari anak-anak, saya yakin dia juga pasti ingin yang terbaik untuk anak-anak, isteri dan keluarganya. Makanya, pembagian waktu di antara kami harus jelas. Saat saya tidak bisa menemani anak-anak, suamilah yang akan mengambil alih. Saya juga selalu terbuka bercerita mengenai keadaan di kantor, jadi, kalau dia tahu bahwa mood saya tidak enak karena urusan kantor, dia akan membiarkan saya segera beristirahat setibanya saya di rumah. Saya dan suami juga berbagi jadwal me time. Kapan waktu saya asik luluran di spa dan kapan waktunya dia berkutat dengan koleksi VW kecintaannya. Adil kan? Dan, untuk anak-anak juga lebih nyaman, karena saat bersama mereka, kedua orangtuanya berada dalam kondisi yang baik  dan tidak lelah.

Eyang adalah ‘malaikat’ penolong

Mungkin terdengar lebay judul yang saya berikan di atas, tapi faktanya memang benar. Saat saya dan suami sama-sama tidak bisa fleksibel mengenai waktu, maka eyang akan menjadi jalan keluar bagi kami berdua. Tapi, satu hal yang menjadi panduan bagi kami berdua adalah, jangan pasrahkan anak-anak dengan eyang, nenek atau omanya dalam jangka waktu yang lama. Bagaimana pun di usia mereka yang sudah tak lagi muda, pasti akan terasa lelah menjaga si kecil yang sedang giat lari sana-sini. Jadi, 3 jam adalah waktu maksimal bagi kami ‘menitipkan’ si kecil ke dalam asuhan eyang atau nenek dan kakeknya.

Masih ada  2 support system lagi yang menjadi pahlawan bagi saya. Siapa saja mereka?