Family Friday: Dian Sastro – Tantangan Sebagai Istri Mengajak Suami Terlibat Mengurus Anak

Keterlibatan ayah dalam mengasuh anak kadang masih dipandang sesuatu yang kurang lumrah, padahal memiliki manfaat yang luar biasa untuk investasi perkembangan psikisnya selama seumur hidup. Dian Sastro membuktikannya bersama Indra, mereka tidak takut salah karena menjadi orangtua adalah proses belajar.

ZWITSAL

 Suasana saat acara berlangsung, Dian mengajak rekan jurnalis pria untuk mencoba demo memandikan bayi.

Gambar dari IG @therealdisastr

Pertengahan Maret lalu, Mommies Daily memenuhi undangan dari Zwitsal untuk menghadiri acara yang bertempat di bilangin Cikini, tepatnya di Hotel Double Tree. Hari itu, Zwitsal meluncurkan gerakan “Suamiku, Ayah Luar Biasa,” yang menitikberatkan bahwa suami juga harus berperan aktif dalam mengurus si kecil (hayooo, suami-suami Mommies sudah ikutan turun tangan ‘kan? :D). Karena dengan mengurus langsung dan menyentuh si kecil, keterlibatan ayah dapat menstimulasi sistem sensorik sentuhan, keseimbangan, gerak antar sendi, penciuman, visual, pendengaran, dan pengecapan.

Dian Paramita Sastrowardoyo yang lebih akrab dengan panggilan Dian Sastro datang sebagai brand ambassador membagi kisahnya membujuk Indraguna Sutowo, suaminya, untuk hands on mengurus dua buah hati mereka (Shailendra Naryama Sastraguna Sutowo dan Ishana Ariandra Nariratana Sutowo). Simak obrolan santai Mommies Daily dengan Dian berikut ini.

Suami Mbak Dian hands on-nya selain mandiin apa lagi?

Suami saya lebih sering nemenin main memang. Saya banyak belajar dari narasumber hari ini, Anne Gracia (praktisi Neurosains Terapan), bahwa hands on-nya suami tuh jangan pas main saja. Jadi, suami saya biasanya pas anak-anak sudah rapih, sudah makan, baru, deh, dia temenin main, itu juga terhitung jarang. Kalau sudah sampai rumah dan capek seharian kerja, kadang-kadang maunya main game atau baca koran – seperti me time untuk dia. Tapi sekarang untungnya sudah mulai bisa aku ajak, tantangan kita sebagai istri adalah mengajak suami hands on dalam mengurus anak-anak – karena efeknya anak-anak bisa lebih happy dan juga lebih dekat dengan bapaknya. Jadi pada saat mereka remaja, saat diajak ngobrol aja bisa lebih nurut. Nanti saat di usia yang sudah bisa melawan, mereka akan lebih nurut dan patuh, karena lebih dekat dengan bapaknya. Bapak ‘kan lebih tegas dan otoriter. Di kesempatan hari ini, saya juga banyak belajar dari dokter Anne, jangan cuma main, justru bapak itu banyak bonding tuh kalau mandiin, mijetin. Ternyata bonding dan perkembangan neurosains, saraf dan development keseimbangannya, taktil, auditori dan segala macamnya justru terjadi di kegiatan-kegiatan bersiap-siap setiap hari. Seperti mandi, pakai baju, digosok pake minyak.  Itu ‘kan kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan sama kita-kita para ibu, nih. Dan justru penting banget itu dilakukan oleh bapak-bapak.

Sejauh mana usaha Mbak Dian membujuk suami untuk hands on dalam perawatan anak?

Saat anak pertama kami, saya pernah memaksa suami saya untuk mandiin bayi. Pada akhirnya dia jadi mau, tapi untuk anak kami yang kedua ‘kan perempuan, nah suami saya lebih takut karena anatominya juga berbeda. Tapi aku seneng banget tadi dapet dari dokter Anne bahwa, justru anak perempuan lebih perlu merasakan sentuhan ayah supaya kalau sudah besar harus bisa membedakan sentuhan orang laki-laki yang iseng yang datang dari pihak keluarga, dibandingan dengan sentuhan orang laki-laki yang mempunyai niat jahat. Itu sentuhannya rasanya pasti berbeda. Nantinya diharapkan si anak perempuan ini punya insting atau reflek untuk melindungi diri, jadi harus bisa membedakan. Nah, kalau dia tidak pernah disentuh sama bapaknya? Ya nanti dia pikir kalau ada orang laki-laki iseng yang menyentuh dia, dipikirnya itu sentuhan normal. Karena itu tadi tidak bisa membedakan sentuhan jahat dengan sentuhan yang datangnya dari keluarga. Sentuhan ayah itu pastinya melindungi, sifatnya kasih sayang.

Pernah merasa khawatir nggak, kalau suami Mbak bisa saja melalukan kesalahan saat terlibat mengurus si kecil, terutama untuk yang perempuan?

Aku nggak merasa khawatir, soalnya sebagai orangtua ada proses belajar, dan kalau ada kesalahan itu normal aja dalam proses belajar tadi. Nggak usah bapak-bapak, kita saja yang ibu-ibu kalau anak baru lahir seminggu atau dua minggu pasti masih takut juga mau pegang anak sendiri. Malah kadang-kadang karena takut salah, mendingan dikasih ke Mama aja, deh. Akhirnya bayi itu lebih banyak dipegang sama eyangnya daripada sama ibunya, sebetulnya itu hal yang menyedihkan. Kita tuh bikin gerakan ini sebenarnya karena ada concern atau ada kekhawatiran makin banyak generasi generasi sekarang anak yang baru lahir tidak disentuh dan dipegang oleh orangtuanya langsung. Kalau nggak sama suster, pengasuh, atau eyangnya – itu ‘kan sesuatu yang mengkhawatirkan.

Dokter Anne juga tadi sempat bilang “Kamu pikir ada begal-begal di luar sana itu kenapa?” Maksudnya, saya tidak heran ada fenomena seperti itu, ada anak-anak muda yang menjadi brutal, goyah secara psikologis, karena mungkin mereka tumbuh tanpa disentuh sama bapaknya ibunya, jadi saraf-sarat di dalam tubuhnya tidak balanced. Dan ternyata itu semua berhubungan, secara ilmu pengetahun itu ada penelitiannya bahwa kalau anak  kurang kasih sayang berupa sentuhan dari orangtuanya, kayak ada keseimbangan di otak yang kurang lengkap. Sehingga pas mereka remaja menjadi anak-anak yang nggak bisa diam, yang selalu ngelawan, yang selalu cari onar. Mereka yang seperti ini butuh sensasi itu karena itu tadi ada sesuatu yang tidak seimbang. ‘Kan banyak tuh anak-anak yang sekarang hiperaktif , lari-lari terus, dibilangin enggak denger, dipanggil nggak nengok, karena memang banyak sekarang kasus seperti itu. Ya mungkin karena keseimbangannya itu belum lengkap, jadi belum berkembang secara utuh.

Aku juga baru tahu ternyata interaksi selama memandikan dari orangtuanya sendiri membantu keutuhan perkembangan dan saraf-saraf keseimbangan itu. Jadi itu bisa lebih mencegah anak jadi hiperaktif, karena hiperaktivitas itu disebabkan oleh ketidakseimbangan. Aku bertekad harus lebih sering pegang anak sendiri, suamiku juga harus. Walau aku dibantu sama pengasuh, bagaimana caranya kita balanced. Ok memang pake pengasuh, tapi bagaimana caranya kita sebagai ibu-ibu yang sibuk tetap ada waktu untuk tetap pegang sendiri. Kalau kita sedang di rumah seharian, pengasuh di rumah kita minta jalan-jalan. Jadi mau nggak mau ‘kan kita pegang anak sendiri.

Di halaman selanjutnya, Dian berbagi cerita tentang pola asuh, kegiatan seputar quality time dengan anak, serta hal-hal baru yang ingin dia lakukan setelah menginjak usia 33 tahun.


Post Comment