Takut Pelecehan atau Bullying Terjadi Pada Anak Anda? Ini Caranya Bertanya!

Jangan panik dulu lantas bertanya yang menjurus. Biarkan anak bercerita memakai bahasanya sendiri. Makin sedikit kita intervensi, ceritanya makin akurat.

 

Kalau ada kasus yang melibatkan anak-anak, entah itu pelecehan atau bullying, saya jadi ekstra komunikatif sama anak. Sambil memantau perkembangan kasus, saya akan menanyakan poin-poin yang saya dapat dari berita kasusnya ke anak.

Misalnya, nih, saat ramai kasus pelecehan, saya akan bertanya:

  • Bagaimana cara guru menangani anak TK atau kelas 1-2 SD kalau mau pipis atau BAB dan belum bisa membersihkan sendiri?
  • Siapa yang mengantar anak ke kamar mandi? Guru atau ada personel sekolah yang lain?
  • Pintu kamar mandi bisa dikunci/kuncinya rusak, nggak?

Atau saat merebak kasus bullying, pertanyaan saya:

  • Pernah dinakali teman/kakak kelas/adik kelas, nggak, baik fisik maupun verbal?
  • Pernah liat ada yang dinakali di sekolah?
  • Kalau pernah dinakali, oleh satu anak atau sekelompok?
  • Si anak pengganggu, nakalnya sama satu anak saja (single target) atau banyak?

Yang jadi PR, saat kita bertanya-tanya pada anak, jawabannya kadang cuma; ya, nggak, lupa, nggak tahu, dan semacamnya. Otomatis pertanyaan kita jadi lebih detil, dengan harapan memudahkan anak menjawab (baca: kita mendapatkan jawaban). Misalnya seperti percakapan berikut:

intv1

Nah, menurut Kamala London, PhD, seorang psikolog forensik dari Universitas Toledo, Ohio, yang menjadi nara sumber diskusi tentang “False Memory pada Anak,” ternyata cara bertanya yang menjurus atau mengarahkan seperti ini (suggestive question) nggak boleh.

Dalam proses wawancara investigasi forensik, cara ini bisa membuat kesaksian anak menjadi meleset. Yang sebetulnya ‘nggak’ bisa menjadi ‘ya’ karena anak terdesak oleh investigator. Apalagi saat investigator menekankan bahwa anak yang jawabannya ‘salah’ (baca: tidak memberikan jawaban sesuai keinginan penanya), lalu anak dilabel ingatannya tidak sebaik temannya.

Bahkan pada kondisi tertentu ketika anak harus menghadapi berbagai sesi wawancara terpisah dan berturut-turut, pada wawancara kesekian anak bisa memberi kesaksian detil peristiwa yang sebenarnya tidak pernah dia alami.

Dalam kondisi tersebut, kelak ketika anak menarik atau membantah kesaksiannya, penyidik akan menganggap anak takut sehingga bantahan yang belakangan justru diabaikan. Akibatnya, kesaksian yang salah bisa menyeret tersangka yang salah pula.

Bagaimana anak bisa mengubah cerita?


Post Comment