Menciptakan Kamar Yang Nyaman Untuk Anak

Health & Nutrition

nenglita・10 Nov 2014

detail-thumb

IMG_1296

Sejak pindah ke rumah sendiri, saya bercita-cita untuk membuatkan kamar untuk Langit. Kebetulan rumah yang kami beli ini rumah second, jumlah kamarnya pas untuk saya dan suami, pengasuhnya dan Langit. Jadi kami nggak perlu keluar biaya untuk membuat kamar tambahan.

Berhubung kami pindah saat Langit masih bayi dan menyusu pada saya, pisah kamar pun ditunda untuk sementara waktu. Rencananya sih, pas Langit berusia 5 tahun, kami pisah kamar. Tapi apa daya, masih maju mundur sayanya (haha, bukan anaknya, lho), jadi pisah kamar pun baru kejadian pas Langit lulus TK.

Walaupun kamar sudah disiapkan jauh-jauh hari, tapi tentu saja ada beberapa hal yang disesuaikan seiring dengan pertambahan usia dan kebutuhan. Misalnya, tadinya nggak ada lemari buku, sekarang jadi ada. Lalu ada juga papan untuk menulis jadwal pelajaran sekolah, dan sebagainya.

Dari sini, saya belajar beberapa hal mengenai persiapan kamar anak. Kamar anak saya bukan yang kece seperti di foto-foto majalah interior, ya. Tapi lumayan fungsional lah :)

  • Warna cerah akan membangkitkan mood anak-anak
  • Kebayang nggak kalau kamar anak warnanya suram? Bukan hanya dari warna cat tembok, lho. Tapi juga dari pencahayaan. Untuk anak yang masih dalam masa pertumbuhan, sebaiknya Mommies memasang lampu dengan tone warna putih bukan yang kuning. Dengan cahaya berwarna putih, mempermudah anak dalam proses belajar salah satunya.

    Kamar anak saya kebetulan warnanya paduan antara kuning dan biru. Nah belakangan ini Langit sih lagi request mau ganti warna cat tembok dengan warna ungu, sesuai dengan warna favoritnya :D

  • Pastikan kamar memiliki ventilasi yang baik
  • Ventilasi adalah hal yang sangat penting untuk setiap ruangan. Ventilasi yang memadai akan memberikan cahaya dan udara yang baik untuk bagian dalam ruangan. Saya pernah menulis kriteria rumah sehat, bahwa fungsi utama ventilasi adalah menjaga agar aliran udara dalam rumah tetap segar sehingga kebutuhan oksigen penghuni rumah tetap terjaga. Kurangnya ventilasi, selain kurangnya asupan oksigen juga membuat kondisi rumah lembap. Lembap memudahkan bakteri patogen berkembang biak.

    Selanjutnya: Mommies nggak mau kan, anak sih sudah tidur di kamar sendiri, tapi di kamar anak ternyata lembap dan jadi ‘biang’ penyakit :(

  • Memastikan kamar anak bebas sumber penyakit
  • Sumber penyakit kan banyak ya. Selain dari kelembapan akibat kurang udara dan cahaya seperti poin di atas, ada juga sumber penyakit lain misalnya karpet atau boneka berbulu. Kebetulan Langit ada sedikit alergi dengan bulu-buluan ini, jadi saya menyingkirkan niat memasang karpet bulu yang lembut di kamarnya.

    Selain itu, di negara tropis begini, nyamuk sepertinya sudah akrab sekali dengan kehidupan kita. Demi tidur anak yang berkualitas, ada beberapa cara yang saya lakukan untuk menghalau kehadiran nyamuk di kamar Langit. Pertama, memastikan tak ada tumpukan pakaian atau barang-barang ‘nganggur’ di sudut kamar yang mudah menjadi sarang nyamuk.

    Tak lupa saya memakai obat nyamuk. Baru- baru ini saya beralih ke Baygon Liquid Electric. Memang setelah memakai ini saya jadi baru sadar perbedaannya. Kalau dulu, kamar bau obat nyamuk itu menjadi jaminan nyamuk hilang. Atau kalau yang memakai mat electric, repot deh harus gonta ganti kepingan mat-nya. Mana saya pelupa, yang ada alatnya terus tersambung dengan listrik, tapi matnya nggak diganti. Percuma kan, nyamuk tetap seliweran! Sekarang, kamar bebas bau obat nyamuk, saya nggak perlu gonta ganti kepingan MAT karena Baygon Liquid Electric bertahan sampai 45 hari! Siklusnya pas dengan jatah belanja bulanan :D

    Baygon Edie LE Starter 45N JHHP - Indonesia

  • Personalisasi kamar anak
  • Semakin besar, anak pasti akan banyak permintaan untuk kamarnya. Mengecat kamar dengan warna favorit seperti permintaan Langit adalah salah satunya.

    Selain warna kamar, Mommies juga bisa memasang foto anak bersama sahabat-sahabatnya, keluarga, atau misalnya saat ia pertama kali menjadi mayoret di kelompok drumband sekolah. Ajak anak dalam menata kamarnya agar sense of belonging-nya muncul, lalu ia bangga akan kamarnya sendiri dan secara sukarela mau deh, menempati kamarnya!

  • Perlengkapan anak di dalam kamar
  • Masalah kelengkapan perabot anak, saya malah menghindari adanya televisi atau gadget di dalam kamar. Menurut beberapa sumber yang saya baca, kehadiran layar biru di dalam kamar malah membuat seseorang sulit beristirahat dengan maksimal.

    Untuk perabot yang lain, standar saja dan yang penting-penting yang kami letakkan di sana; tempat tidur, lemari pakaian, dan lemari buku. Meja belajar nggak? Berhubung kamarnya kecil, jadi sehari-hari Langit masih belajar di ruang keluarga. Mudah-mudahan bisa  segera mewujudkan keinginan membelikan Langit loft bed supaya bagian bawah dari tempat tidur itu bisa dimanfaatkan sebagai tempat belajar, ya! :)

    Rasanya itu saja yang saya perhatikan untuk kamar Langit. Walaupun tak megah dengan furnitur serba kinclong, tapi yang penting Langit merasa nyaman. Bahkan sekarang ia nggak mau lho, kalau saya ajak tidur di kamar saya!

    Pas deh, kalau gitu dengan fungsi kamar menurut Laurence Steinberg, Ph.D., psikolog keluarga. Psikolog ini mengatakan rumah dan kamar pada intinya adalah tempat berlindung dari ketegangan dan tekanan kehidupan yang biasanya mereka peroleh di luar rumah/ luar kamar.

    Jadi, mari kita jadikan kamar anak sebagai tempat yang paling nyaman untuknya!