Tak Hanya Sekedar Les Tari

IMG_20141101_124541Sudah sekitar dua bulan ini, saya masukkan Nadira ke sebuah sanggar tari tradisional di Jakarta Timur. Bahkan, akhir pekan lalu, ia tampil di sebuah acara di sebuah mall bersama teman-temannya, menarikan tarian Kupu-kupu asal Jawa Tengah.

Selama itu, saya melihat dia senang sekali dengan aktivitas barunya ini. Dia tak pernah mau bolos latihan sekalipun. Setiap hari, ia juga tak bosan-bosannya berlatih sendiri di rumah. Saya pun jadi lega, berarti keputusan saya sudah tepat.

Saya memang sengaja memasukkan Nadira ke sanggar tari tradisional dengan berbagai alasan. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Sesuai minat anak

Sejak kecil, Nadira suka menyanyi dan menari meniru gerakan di video klip lagu anak-anak yang saya putarkan. Waktu itu, saya menganggapnya wajar karena memang rata-rata anak sebayanya gemar melakukan itu.

Saat ia masuk playgroup, di sekolahnya ada latihan menari jelang kenaikan kelas. Yang membuat saya kaget, gurunya melaporkan bahwa Nadira cepat hafal dengan gerakan-gerakan yang diajarkan oleh pelatihnya.

“Akhirnya kami menyuruh teman-temannya untuk melihat Nadira sebagai contoh karena dia yang paling hafal semua gerakan tari,” kata gurunya.

Saya terkejut sekaligus bangga. Soalnya saya benar-benar nggak mengira, lho. Dan benar saja, saat pentas kenaikan kelas, Nadira bisa menari dengan baik dan benar.

Lalu, keluarga kami pernah berkunjung ke Desa Wisata Cinangneng, Bogor. Di situ, ada pelajaran singkat tari Jaipong yang bisa diikuti Nadira dengan baik. Padahal dia baru pertama kali melihat tari Jaipong di situ.

Saya pun langsung semangat mencarikan sanggar tari untuknya. Setelah berkali-kali mencari, Alhamdulillah ketemu yang dekat dengan rumah.

  1. Melatih rasa percaya diri

Meski suka menari dan menyanyi, rasa pede Nadira masih minim. Dia hanya berani beraksi di depan keluarga dekat dan orang-orang yang membuatnya nyaman saja. Begitu ketemu orang baru, semangatnya pasti langsung kempis.

Bahkan di sekolah, saking minim pede dan mudah nervous, Nadira hanya mampu menyelesaikan soal-soal latihan sederhana jika berada di dekat guru kelasnya. Jika gurunya diganti , ia akan berkeringat dingin, dan hasil soalnya akan berantakan.

Saat saya berkonsultasi dengan gurunya, ia menyarankan agar Nadira diberi kegiatan tambahan untuk melatih rasa pede. Saya langsung teringat rencana kursus tari tradisional yang sudah saya agendakan sejak beberapa saat sebelumnya. Apalagi sanggarnya ini cukup sering mengajak anak murid untuk tampil di berbagai pentas maupun acara di televisi.

Benar saja. Waktu tampil kemarin, Nadira bisa menguasai diri, dan tampil dengan baik. Padahal saya sendiri nervous luar biasa, mengingat acaranya digelar di tengah mall yang super crowded dengan penonton yang tidak dikenal. Saya khawatir Nadira tiba-tiba ngambek tampil dan menangis. Untung semuanya bisa berjalan lancar. Mudah-mudahan bisa pede terus ya, Nak!

Ada hal lain yang menjadi alasan saya mengkhususkan pemilihan pada tari daerah. Simak di halaman selanjutnya, ya.


6 Comments - Write a Comment

  1. Wah, seru banget, yaaa! Bener, Ra, gue juga mau masukin Menik ke sanggar tari tradisional kalau nanti memang anaknya mau menari. Kalo gue dulu, memang ikut sanggar tari Pelangi Nusantara di TMII. Lumayan pas SMP, beberapa kali keluar negeri untuk pentas hihii. Sayang harus berhenti karena pas SMA gue capek ngatur waktu. Kalau Sabtu dan Minggu, maunya di rumah aja hahaha.. Selamat menari ya, Nadhira! :)

  2. Wahhh ulasan yg sangat menarikkk senangg bangettt ada ulasan tentang tari daerahhh… hobi yang sangat menjanjikan lohh… terlebih saat dewasa nanti akan banyak arti yang lebih menarik lagi tidak hanya soal gerak gemulai yg indah

Post Comment