Wisata Kampung ke Desa Cinangneng

Selama liburan akhir tahun lalu, saya malas mengajak Nadira ke mal. Alasannya, bosen banget dengan aktivitas di mal yang itu-itu saja. Saya ingin waktu liburnya diisi oleh sesuatu yang berbeda, lebih ke arah aktivitas outdoor, bukan kunjungan keliling mal di Jakarta.

Pucuk dicinta ulam tiba, tante suami mengajak seluruh keluarga besar berkunjung ke Kampung Wisata Desa Cinangneng. Saya sebelumnya pernah membaca tentang lokasi wisata ini selintas di Twitter. Namun, saya belum tahu mendetil tentang apa saja yang jadi “jualan” utamanya untuk menarik wisatawan.

Rupanya, kampung wisata ini menawarkan berwisata ala kampung kepada para pengunjungnya. Paketnya pun beragam. Kalau mau paket lengkap, pengunjung bisa melakukan berbagai aktivitas ala penduduk di perkampungan di Jawa Barat seperti menanam padi, memandikan kerbau, main gamelan, menari Jaipong, membuat makanan dan minuman tradisional, melukis caping dan membuat wayang golek dari batang singkong. Bahkan, kalau pengunjung menginap di penginapan yang tersedia, di malam hari juga digelar api unggun dan ronda keliling kampung yang seru.

*wayang golek dari batang singkong

Untuk menuju lokasi, kami memilih lewat tol Jagorawi, lalu keluar di pintu tol Sentul City. Dari situ, kami langsung masuk tol Bogor Outer Ring Road hingga pintu tol terakhir. Selepas itu, kami mengambil jalur ke arah kampus IPB di kawasan Dermaga karena lokasi Desa Cinangneng memang tak jauh setelah kampus IPB.

Pepohonan yang teduh dan bangunan asri menyambut kami saat menjejakkan kaki di lokasi. Kegiatan pertama adalah belajar menyanyikan lagu berbahasa Sunda dan main angklung. Seru deh!

*belajar tari jaipong

Selanjutnya, kami bersiap-siap berkeliling ke perkampungan sekitar, untuk melihat beberapa industri rumahan yang bekerjasama dengan pengelola Kampung Wisata Desa Cinangneng. Mulai dari pengrajin keset, tas, dompet dan topi dari bahan kulit, hingga perabot rumahtangga dari batok kelapa dan kayu.

Selama berkeliling itu, kami juga diajak melihat perkebunan warga sekitar. Ada kebun cabe, labu, terung, dan sebagainya.

Setelah itu, barulah kami diajak menanam padi di sawah. Serunya bukan main, karena menanam padi di sawah berarti kita harus rela kaki kotor terkena lumpur. Nadira yang jijikan menolak turun dan hanya mau melihat dari pinggir sawah.

Selesai menanam padi, kami diajak turun ke kali yang mengalir di sekitar lokasi. Awalnya saya sangka tujuan ke kali hanya untuk mencuci kaki. Ternyata, kami diajak “bertemu” kerbau yang tengah asyik berendam di dalam kali. Oalaah.. Rupanya memandikan kerbaunya begini toh! Nadira yang awalnya takut, lama-lama malah ketagihan. Dia pun sibuk “memandikan” kerbau dengan cara mencipratinya pakai air kali.

*Meskipun awalnya digendong, Nadira ketagihan mandiin kerbau :)

*saatnya, menanam padi

Habis memandikan kerbau, kami diminta menyeberangi kali untuk menuju lokasi Kampung Wisata. Sebenarnya sih bisa saja kami lewat jembatan. Tapi kok kayaknya kurang seru ya. Masa sudah basah-basahan begini, nggak menyebrangi kali? Apalagi, kalinya juga dangkal dan dilengkapi tali temali. Jadi Insya Allah aman lah ya.

Selesai aktivitas yang bikin kotor dan basah, plus kebetulan jam makan siang sudah tiba, kami memutuskan istirahat dulu sebelum lanjut ke yang lain. Menu makan siang disediakan pengelola, terdiri atas nasi timbel lengkap khas Sunda. Yum!

Karena rombongan kami juga menyewa beberapa kamar untuk menginap hingga keesokan hari, kami pun sempat membersihkan diri terlebih dulu sebelum lanjut ke aktivitas berikutnya. Kamar-kamarnya lumayan bagus dan bersih, dengan kamar mandi luas. Yang paling saya suka, di teras tiap-tiap kamar disediakan bale-bale atau kursi malas yang benar-benar nyaman. Pemandangan tiap-tiap kamar pun berbeda. Ada yang menghadap kolam renang, kebun terung, atau kolam ikan. Semua sama-sama asri.

Selesai mandi dan makan, kami lanjut dengan membuat kue Bugis dan wedang jahe. Setelah itu, aktivitas dilanjutkan dengan kesenian yakni belajar main gamelan dan menari Jaipong. Selanjutnya masih ada melukis caping atau topi petani dan membuat wayang golek dari batang singkong.

*Nadira dan angklungnya :)

Meski rombongan kami terdiri dari 90% orang dewasa (bahkan anak-anak di bawah usia 10 tahun cuma ada 2 orang hahaha), kegembiraan dan teriakan-teriakan tanda senang terus terdengar di sana-sini. Rupanya, Budhe, Pakdhe, Tante, Mertua dan sepupu-sepupu suami semuanya sama-sama gembira dengan aktivitas yang ada. Bahkan hingga aktivitas selesai, tawa dan canda di antara kami masih terus bergulir tanpa henti.

“Jadi inget waktu kita kecil dulu ya,” kata seorang Tante, usai membuat wayang golek dari batang singkong.

Memang, Kampung Wisata Desa Cinangneng lebih dikenal untuk wisata keluarga, terutama untuk anak-anak. Tapi dari pengalaman saya sih, orang dewasa pun bisa ikut bergembira lho!

Sayangnya, saya dan keluarga tidak bisa ikut menginap dan mengikuti acara api unggun serta ronda keliling kampung karena kami harus kembali ke Jakarta malam harinya. Tapi pengalaman selama beberapa jam di kampung wisata ini masih membekas hingga kini. We will surely be back next time!

Memang, ya, kegiatan outdoor selalu menyenangkan. Waktu itu, Lita juga sempat menulis pengalamannya saat camping bersama Langit. Kalau memang waktunya sedang terbatas, nggak salahnya juga untuk mencoba untuk kemah di sekitar rumah? Seru juga, lho! Ada yang mau coba?

Kampung Wisata Desa Cinangneg

Jl. Babakan Kemang Rt. 01 / Rw. 02 Cihideung Udik, Kec. Ciampea, Bogor 16620

Telpon: 0251-8621895

Website: http://www.kampoengwisatacinangneng.com/


2 Comments - Write a Comment

Post Comment