Positive Parenting, Kita Bisa!

Beberapa hari terakhir beredar percakapan fiktif di sosial media tentang seorang murid yang melapor ke gurunya bahwa ia tidak mau sekolah dan mau merokok, karena dengan begitu saja bisa menjadi menteri. Percakapan fiktif ini tentu saja langsung menjadi buah bibir karena masyarakat banyak merasa perlu untuk mengaitkannya dengan kejadian yang baru-baru saja terjadi di negara ini.

Berbagai reaksi pun muncul terhadap pernyataan fiktif tersebut, namun sebagai orangtua yang kebetulan berprofesi sebagai guru, saya mencoba memandang percakapan fiktif tersebut sebagai suatu media untuk menyosialisasikan pengasuhan positif ke masyarakat.

Pengasuhan positif merupakan metode pengasuhan yang meliputi relasi dan komunikasi yang hangat dengan anak, harapan positif, dan penerapan disiplin positif bukan berdasar kekuasaan. Melalui pengasuhan positif, orangtua memberikan pertolongan terbaik kepada anak-anaknya untuk mencapai karakter dan nilai positif dalam perkembangan mereka

Sebagai contoh, apabila memang percakapan fiktif tersebut menjadi kenyataan, guru atau orangtua seharusnya bisa membalik pembicaraan ini menjadi percakapan yang memotivasi anak. Misalnya menjadi: “Kalau kamu sekolah nanti bisa jadi bosnya menteri. Jangan cuma bercita-cita jadi menteri, ayo cita-citanya lebih tinggi lagi!”

holding_hand*Gambar dari sini

Dan perihal rokok justru bisa dijadikan contoh ke anak, misalnya: “Kalau merokok jelek untuk kesehatanmu, tuh ada contohnya bukan..? (sebutkan contoh dari orang yang ia kenal)”. Dan banyak komen positif lainnya yang bisa diciptakan orangtua.
Karena sama seperti virus, sifat negatif itu menular, khususnya ke anak kita sendiri.

Jadi ini pilihan kita sebagai orangtua: ingin menciptakan generasi yang hanya bisa nyinyir, atau kita ingin menghasilkan anak-anak yang riang gembira dan bisa mengambil nilai positif bahkan dalam kondisi yang buruk sekalipun?

Sebagai orangtua dan guru, kita tidak bisa menjanjikan dunia yang sempurna untuk anak-anak kita, yang bisa kita lakukan hanyalah mempersiapkan anak-anak kita untuk menghadapi ketidaksempurnaan hidup ini. Salah satunya dengan menumbuhkan motivasi, memberikan semangat kerja keras, dan memberi teladan sikap hidup positif.

Selain itu, alangkah indahnya apabila anak melihat banyak perbedaan sedari kecil, sehingga kita sebagai orangtua bisa menanamkan nilai-nilai positif untuk bekal anak kita nanti. Biarkan mereka melihat banyak keburukan di dunia ini, karena tugas kitalah sebagai orangtua dan guru untuk memberikan dukungan ke anak-anak kita supaya mereka bisa mengambil pilihan yang terbaik untuk hidup mereka.

Perihal pengasuhan positif dalam keluarga ini, pemerintah Jepang sampai merasa perlu untuk mencantumkannya ke dalam undang-undang dasar pendidikan, seperti yang tercantum dalam salah satu artikel berikut ini:

“Mothers, fathers, and other guardians, having the PRIMARY RESPONSIBILITY for their children’s education, shall endeavor to teach them the habits necessary for life, encourage a spirit of independence, and nurture the balanced development of their bodies and minds.”

Dalam hal ini pemerintah Jepang mengharapkan pihak keluarga dapat memberikan nilai-nilai yang diperlukan anak untuk menghadapi kerasnya dunia luar, karenanya di Jepang sedari kecil anak-anak ditanamkan filosofi ‘Ganbaru’ atau ‘berjuang’ dalam Bahasa Indonesia. Filosofi ini mampu membuat anak-anak Jepang selalu bisa melihat harapan dalam segala kesulitan yang menghadang, karenanya bagi mereka, selama mereka berusaha, maka segala sesuatunya menjadi mungkin.

Mental ganbaru inilah yang sebaiknya kita tanamkan ke anak-anak kita. Berkaca dari percakapan fiktif di atas, anak-anak Indonesia harus diajarkan untuk selalu bisa memilah-milah perilaku mana yang layak dicontoh dan perilaku apa saja yang sebaiknya tidak dilakukan. Menambahkan komentar negatif terhadap fenomena sosial di masyarakat tentunya bukan salah satu teladan yang dapat diberikan. Alih-alih menambahkan komen negatif, kita bisa melatih anak untuk memilih, misalnya dengan memberikan pertanyaan terbuka ke anak: “Kalau kamu yang seperti itu, apa yang akan kamu lakukan?”.

Dengan pertanyaan semacam ini, anak dilatih untuk mengembangkan imajinasinya dan juga dilatih untuk bisa mempertanggungjawabkan setiap pilihan dalam ucapannya. Sekali lagi di sinilah pentingnya komunikasi postif dengan anak. Dengan komunikasi yang terjalin baik dengan anak, kita bisa selalu menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam setiap percakapan yang terjadi. Selain itu anak akan melihat kita sebagai sosok yang positif, karena kita mengurangi untuk memberikan komen negatif terhadap suatu fenomena sosial. Dari teladan sikap positif orangtuanya inilah, anak akan bisa mencontoh dan mempraktikkannya dalam kehidupan.

Di luar sana akan selalu banyak hal buruk terjadi. Kita sebagai orangtua tidak bisa mencegah atau menutup-nutupi hal tersebut dari kacamata anak kita. Namun apabila kita sudah memberikan bekal, niscaya anak-anak kita akan menjadi pribadi yang kuat dan bisa memilih mana yang layak diteladani.

Etika, kinerja dan karakter adalah hal-hal penting yang harus ditanamkan ke anak-anak kita. Salah satu cara yang termudah untuk melakukannya adalah dengan menjadi teladan yang baik bagi mereka. Monkey see, monkey do!


5 Comments - Write a Comment

  1. Setuju banget, Mbak. Apalagi sekarang orang semakin mudah berkomentar negatif thd info di media sosial.. Mungkin positive parenting tidak hanya untuk mendidik anak kita, tapi sbg ajang latihan positive thinking buat kita sebagai orangtua :)

Post Comment