Behind a Sane Mom There’s a Superdad

Salah satu perjanjian yang kami buat sebelum menikah adalah bahwa kelak kami akan berbagi pekerjaan rumah tanpa ada alasan gender. Yah, kecuali alasan saya melempar urusan setrika sama si Ayah karena memang dia yang lebih pinter nyetrika …haha *alasan*. Tapi untuk urusan anak, tidak ada yang tidak bisa dibagi kecuali hamil dan menyusui.

Sejak kelahiran Darris, ini sudah dipraktikkan. Mulai dari belajar menggendong sejak hari pertama, mengganti popok, sampai genap seminggu si Ayah sudah bisa mengganti baju si newborn. Bahkan ada masanya Ayah ikut nggak tidur semalaman menggendong si bayi saat rewel. Walau saat itu kondisi keluarga masih LDR (long distance relationship), Ayah kerja di Semarang dan kami masih di Surabaya baru bisa ketemu 2-3 minggu sekali, tapi setiap pulang saya pasti lepas tangan biar urusan bayi di-handle bapaknya. Harusnya mamak-mamak nggak boleh bawel, ya, kalau ayahnya punya cara sendiri menangani anak. Tapi, ya, beberapa kali saya kelepasan juga “Bukan gitu caranya, gini, lho!”, untungnya bapak yang di sini nggak gampang pundung …hahaha.

Efeknya terasa dalam jangka panjang. Selama 2.5 tahun LDR, dan sampai hari ini, pun, saya nggak pernah merasakan salah satu anak sampai mogok nggak mau dipegang/sama ayahnya. It helps much saat saya perlu melakukan sesuatu atau bahkan pergi keluar rumah meninggalkan anak, ayahnya selalu punya cara supaya  anak terhibur, dan bahkan kalau semua cara sudah habis dan bosan, anak akan diajak tidur ..haha. Memang di banyak kasus hasilnya si Ayah merem dan anaknya ‘lepas kandang’ lagi. Tapi lumayan, lah, itu daripada yang sering saya dengar si anak sama sekali nggak mau dipegang bapaknya sampai ibunya nggak bisa ngapa-ngapain, even just for a trip to the toilet

dad_baby_sleep

Memang ada, sih, masanya anak separation anxiety. Tapi di kami separation itu sifatnya mama-ayah sebagai satu kesatuan. Jadi saat saya betul-betul perlu nggak pegang anak, ya, masih bisa dioper ke ayahnya, dan sebaliknya. Kecuali saat anak sudah ngantuk banget dan perlu menyusu untuk tidur, nah, itu memang harus mamaknya yang pegang. Cuma tetep, sih, kalau anak-anak ditawari menginap di rumah saudara tanpa mama-ayah, biasanya nggak pernah mau. 

Nggak pernah ada kata terlambat, lho, untuk para ayah mulai belajar bonding kalau memang belum, seperti cerita salah satu bapak di sini. Apalagi sebetulnya makin besar anak makin banyak kegiatan asyik yang bisa dilakukan bersama, bahkan sama anak-anak perempuannya. Nggak akan ada ruginya, bahkan banyak untungnya, apalagi bagi kesehatan mental ibu, terutama ibu-ibu di rumah yang me-timenya lebih sedikit dan terbatas ketimbang ibu-ibu bekerja. Ingat, ya, happy mommy = happy kids = happy family, dimulai dengan rutin memberi time-out pada si ibu.

What did Superdad do?


5 Comments - Write a Comment

Post Comment