Inspirasi Dari ‘Semeleh’-nya Anne Avantie

anne25bAnne Avantie di penghujung pergelaran Merenda Kasih, bersama ibunda dan putrinya, Intan Avantie. foto dari sini

Dalam dunia rancang busana dan kebaya, siapa yang belum kenal Anne Avantie sih? Kalau bicara kebaya modern, the ultimate kebaya, yang menjadi ‘kebanggaan tertinggi’ adalah memakai kebaya Anne Avantie. Walaupun buat saya sendiri, mungkin tidak terpikirkan untuk menginginkan sepotong kebaya Anne Avantie, karena menurut saya potongan sebuah kebaya tidak cocok dikenakan dan dipadukan dengan hijab. (Tetapi hal itu tidak menurunkan apresiasi saya sedikitpun mengenai kebaya yang harus kita banggakan sebagai identitas wanita Indonesia.)

Begitu juga ‘kebaya’ Bu Anne, semua apresiasi tinggi tersebut merupakan buah kisah panjang perjuangan seorang perempuan biasa dari Semarang. Walaupun sebagian besar busana yang terlahir dari tangannya tidak ia sebut sebagai ‘kebaya’, melainkan inspirasi kebaya. Atau kebaya modifikasi, kebaya kontemporer. Apapun itu. Beliau tidak pernah mengklaim bahwa hasil karyanya adalah sebuah kebaya murni. Tetapi ia telah membuat ribuan bahkan jutaan perempuan Indonesia (kembali) mencintai siluet kebaya. Kebaya adalah pembaharuan hidupnya.

Kembali pada pergelaran 25 tahunnya berkarya. Semua unsur yang terlibat dalam event besar ini sungguh memberikan inspirasi kebaikan yang rasanya tidak mudah saya lupakan. Dalam penuturannya, Bu Anne menyampaikan bahwa pertunjukannya tersebut ingin ia bagi kepada sebanyak-banyaknya orang, yang biasanya tidak mungkin atau tidak bisa menonton sebuah fashion show. Ia mengajak anak-anak binaannya dari Semarang dan dari daerah lain, murid-murid SMK dari daerah yang ingin menonton sebuah fashion show, atau penjahit-penjahit yang terinspirasi dari karyanya. Ia ingin memberi kesempatan pada mereka yang biasanya tidak bisa menikmati pertunjukan semacam ini.

anne25c

Perjalanan hidup dan karirnya adalah inspirasi unik, one of a kind menurut saya. Seperti juga banyak desainer lainnya yang memang lahir dari keluarga penjahit, atau pengusaha baju, demikian juga Bu Anne yang anak seorang penjahit. Tetapi, ia tidak memiliki pendidikan formal apapun sebagai perancang. Ia belajar secara otodidak, berdasarkan insting dan menggunakan metode yang tidak seperti perancang lainnya. Bu Anne tidak bisa menggambar pola, tidak bisa menjahit. Dalam membuat sebuah busana ia hanya menggunakan manekin sebagai media. Tidak digambar, dan tidak dinamai. Trial and error. Proses kerjanya yang demikian menjadi sulit bagi mereka yang bekerja bersamanya, jika tidak senafas.

Banyak yang menyarankan agar ia menggunakan jasa asisten desainer profesional untuk membantunya. Tanggapannya, “aku mumet“. Ia malah pusing jika berhadapan dengan ilmu-ilmu desain tersebut. Gaya ‘solitaire’nya dalam mendesain ini tentu saja bukan rumus baku sebuah kesuksesan, yang bisa serta merta ditiru. Tetapi Bu Anne percaya diri dengan gayanya sendiri, dan berani berbeda, ini yang kita salut.

Kita melihat Anne Avantie sebagai seorang fashion designer, profesi yang dekat dengan ketenaran, ekspose di berbagai media. Bu Anne pun merasakan sempat memasuki sebuah gerbang perubahan, saat ia sudah menjadi desainer dan karyanya mulai dijual di Jakarta. Ramah tamah, networking dengan sesama desainer ataupun orang terkenal lainnya. Lifestyle yang berubah. Tetapi seketika itu juga ia mantap untuk tetap menjadi Anne yang seperti sebelumnya. Ia tetap tinggal di Semarang, dan hanya ke Jakarta jika perlu. Setelah itu ia akan langsung kembali ke Semarang. Naik kereta api. Menjadi desainer, ia tidak lantas mengikuti perkembangan mode dunia. Bu Anne tidak peduli dengan segala macam fashion week dunia, atau ingin menonton salah satunya. Beliau ingin tetap menjadi Anne orang Semarang, dan lebih memilih untuk mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk perempuan di daerah.

Saat ditanya apa prinsip hidup yang menjadikannya Anne Avantie yang sukses sampai sekarang? Jawabannya adalah, “semeleh”. Wow, ini sebuah kata bahasa jawa yang entah sudah berapa tahun saya tidak mendengarnya. Sebuah filosofi jawa, yang tidak semua orang mampu memaknainya. Semeleh berarti berserah, tawakal seperti dalam prinsip Islam. Berarti juga menerima segala sesuatu seperti apa adanya. Prinsip inilah yang membuatnya terus bisa bekerja keras, tanpa pamrih dan obsesi macam-macam.

Bagi banyak orang yang mengenalnya, bu Anne bukan hanya seorang perancang, tapi lebih jauh daripada itu. Dalam buku persembahan 25 tahunnya, ratusan orang yang telah mengenal dan terinspirasi memberikan kesan-kesannya. Di balik itu, saya yakin jauuh lebih banyak orang yang telah tersentuh oleh bu Anne dalam satu atau lebih persinggungan baik langsung maupun tidak langsung dengannya.

Saya, adalah salah satu fans Bu Anne. Bukan hanya karena karyanya, tapi juga cerita dari seorang Bu Anne. Saya sih, akan menominasikan Bu Anne sebagai salah satu Women of Worth, tanpa ragu-ragu. Bagaimana dengan Mommies? Adakah perempuan yang begitu menginspirasi?


Post Comment