Lintasan Berpikir Yang Positif

Positive Thinking !

Saya sering mengatakan kedua kalimat itu untuk memotivasi diri, atau juga mendengarnya dari para motivator seminar. Tapi penerapannya justru baru saya dapatkan saat mendampingi keponakan pertama saya pas sekolah di kelompok bermain.

Menurut wali kelas keponakan saya di Kelompok Bermain, Kak Mira, saat anak berkonflik dengan temannya, justru sangat penting peran kita untuk mendampingi mereka, jangan malah dijauhkan. Tugas kita saat mendampingi mereka adalah bantu membangun lintasan berpikir.

Apa itu lintasan bepikir yang positif?

23

Jadi misal skenarionya begini:

Anak A: “Iiih, sepatumu kotor!”
Anak B: * nangis * “Huaa .. aku diolok-olok”
Tugas kita: Mengarahkan anak bahwa bukan mengolok, melainkan memberikan informasi :)

Anak A: * berantem dengan anak B *
Anak B: *nangis * “Iiih, dia jahat!”
Tugas kita: Memberikan informasi ke anak B bahwa mungkin bukan jahat, hanya belum tahu caranya berteman :)

Kemudian saya menarik kesimpulan, seorang anak akan menjadi seperti apa di masa depan, memang sangat bergantung dengan cara kita mendidik serta mendampingi dia. Orang dewasa yang sering berpikiran negatif pada orang lain, mungkin didampingi oleh orang dewasa yang kerap berpikiran negatif juga waktu kecilnya. Sementara orang dewasa yang optimis, mungkin didampingi dengan orangtua yang memiliki lintasan berpikir yang positif waktu kecilnya.

Menurut saya, semua ini bisa dimulai dari diri sendiri, deh. Bagaimana caranya, kita yang berada di dunia orang dewasa untuk senantiasa berpikiran positif dan kemudian ditularkan pada generasi di bawah kita.

Setuju?


Post Comment