Ketika Kakak- Adik Seperti Tom & Jerry

Parenting & Kids

cahyu03・19 Aug 2014

detail-thumb

sibling rivalry pic flip

Mommies masih pada ingat sama Musafa dan kakaknya Scar dari film kartun the Lion King? Bart dan adiknya Lisa dari kartun The Simpsons? Miiko dan Mamoru dari komik Hai Miiko? Atau mungkin yang masih segar di ingatan adalah kakak beradik Kardashian dari reality show Keeping Up With The Kardashian. Di film atau acara TV tersebut, diceritakan bahwa tokoh-tokoh kakak beradik yang saya sebutkan di atas itu sering bertengkar, namun biasanya setelah konflik mereka selesai, mereka akan kembali rukun dan kembali menyayangi satu sama lain (mungkin terkecuali Musafa dan Scar ya yang tidak pernah rukun). Hubungan love/hate antar kakak beradik seperti itulah yang sering disebut dengan sibling rivalry.

Menurut Kyla Boyse dari Universitas Michigan, sibling rivalry adalah kecemburuan, kompetisi, dan pertengkaran antara kakak dan adik. Sibling rivalry ini biasanya dimulai sesaat setelah anak kedua lahir dan terus berlanjut hingga masa anak-anak. Masalah sibing rivalry ini kemudian menjadi sumber stres tersendiri bagi orangtuanya (bener nggak Mommies?). Tenang, nanti pada bagian akhir dari artikel ini akan saya kasih tips and tricknya untuk mengatasi sibling rivalry ini ya!

Berdasarkan tahap perkembangannya, menurut Papalia & Feldman (pengarang buku Experience Human Development), bayi akan merasa terikat dengan kakaknya. Namun, saat bayi sudah mulai sering bergerak dan lebih asertif, mereka akan mulai terlibat konflik dengan kakaknya. Kemudian konflik akan semakin sering terjadi saat sang adik sudah mencapai usia 18 bulan.

Lambat laun, setelah kemampuan kognitif dan pemahaman sosial anak tumbuh, konflik antar kakak adik cenderung menjadi konstruktif, dan sang adik ikut berusaha untuk damai. Konflik yang konstruktif ini membantu anak mengenali kebutuhan, keinginan, dan sudut pandang satu sama lain sehingga membantu mereka belajar bagaimana bertengkar, berbeda pendapat, dan saling kompromi dalam hubungan yang aman dan stabil.

Saat anak sudah berusia sekitar 3-6 tahun, konflik yang paling sering terjadi antara kakak dan adik adalah mengenai hak milik (siapa yang memiliki mainan atau siapa yang berhak memainkan mainan tersebut). Sebenarnya perselisihan dan penyelesaian konflik antara kakak dan adik tersebut dapat menjadi sebuah kesempatan untuk bersosialisasi, di mana anak belajar untuk bersikap tegas atas prinsipnya dan melakukan negosiasi atas perbedaan pendapat.

Hubungan antar kakak beradik ini juga dipengaruhi oleh hubungan sang kakak dengan teman-temannya. Apabila sang kakak memiliki hubungan yang baik dengan temannya sebelum adiknya lahir, mereka akan memperlakukan adiknya dengan lebih baik dan jarang menampilkan tingkah laku antisosial saat remaja. Walaupun kakak dan adik sering konflik, sibling rivalry bukanlah bentuk hubungan yang paling utama antar keduanya. Mereka juga menunjukkan hubungan yang penuh kasih sayang, saling bersahabat, dan saling memengaruhi.

Saat salah satu dari kakak atau adik berusia 7-9 tahun, mereka akan masuk ke tahap middle childhood di mana salah satu karakteristiknya adalah mulai bergaul dengan teman sebayanya. Perubahan ini akan menimbulkan kecemburuan dan rasa kompetitif atau hilangnya ketertarikan dan kedekatan dengan saudaranya. Namun, hubungan antara kakak dan adik dapat menjadi “laboratorium” untuk menyelesaikan konflik. Kakak dan adik termotivasi untuk berbaikan setelah bertengkar, dan mengetahui bahwa mereka akan saling bertemu setiap hari. Mereka belajar bahwa mengekspresikan kemarahan tidak akan mengakhiri hubungan persaudaraan. Kakak beradik dengan jenis kelamin sama akan lebih sering bertengkar, terutama kakak beradik laki-laki.

Bagaimana cara menangani sibling rivalry? Baca di halaman selanjutnya, ya!

t1larg.sibling.rivalry

  • Jangan pilih kasih.
  • Coba untuk tidak membandingkan satu sama lain.
  • Ajari anak untuk kooperatif bukan ingin menandingi.
  • Ajari anak cara positif untuk menarik perhatian saudaranya. Tunjukkan kepada mereka bagaimana cara menghampiri saudaranya untuk mengajak bermain dan berbagi mainan.
  • Berlaku adil, tetapi jangan menyamaratakan. Kakak dan adik memiliki kebutuhannya masing-masing berdasarkan usianya, apabila anak melihat adanya perbedaan karena anak yang satunya lebih tua atau memiliki tanggung jawab, mereka akan melihat perbedaan tersebut sebagai keadilan.
  • Pastikan anak memiliki waktu dan ruangnya sendiri. Anak memerlukan kesempatan untuk melakukan kegiatannya sendiri, bermain dengan temannya tanpa saudaranya, dan untuk memiliki ruang dan benda yang aman dari saudaranya.
  • Ajari anak untuk mengembangkan kemampuan menyelesaikan konflik mereka sendiri. Ajari mereka untuk berkompromi, menghormati satu sama lain, membagi barang secara adil, dll.
  • Tidak penting siapa yang memulai pertengkaran tersebut karena dibutuhkan 2 pihak untuk terjadi pertengkaran. Buat anak memiliki tanggung jawab yang sama ketika melanggar peraturan.
  • Saat konflik, beri anak kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya mengenai satu sama lain. Tunjukkan kepada mereka cara untuk mengungkapkan perasaan tanpa berteriak atau melakukan kekerasan.
  • Gunakan strategi win-win solution. Di mana masing-masing pihak memperoleh sesuatu.
  • Anak memang harus dibiarkan menyelesaikan konfliknya sendiri, tetapi ada beberapa saat di mana orangtua harus cepat bertindak. Saat-saat di mana orangtua harus memisahkan adalah ketika:

  • Terjadi perkelahian yang berbahaya. Segera pisahkan anak dan ketika anak sudah tenang, bicarakan mengenai apa yang terjadi dan jelaskan bahwa kekerasan sama sekali tidak diperbolehkan.
  • Ketika anak secara rutin melakukan kekerasan fisik, dan atau ketika salah satu anak selalu menjadi korban, merasa ketakutan dengan saudaranya, dan tidak melawan balik. Orangtua harus mencari bantuan profesional karena orangtua sedang menghadapi sibling violence.
  • Jadi perlu diingat kalau sibling rivalry itu wajar. Mommies tidak perlu khawatir, anaknya masih saling menyayangi satu sama lain kok. Biarkan mereka hadapi dan selesaikan konflik mereka sendiri, kecuali kalau mengarah ke sibling violence, ya, Mommies!