Titip Ya, Mah…

grandmother-baby-rex1*Gambar dari sini

Ini kalimat yang hampir setiap pagi saya dan suami ucapkan ke neneknya Sky. Kelihatanya simple dan enteng, tapi buat saya ini mengandung beban.

Salah satu beban yang saya rasa itu, lagi-lagi kita ngerepotin orangtua. Harusnya di umur orangtua yang sudah tidak muda lagi mereka tinggal leyeh-leyeh, seminggu sekali nunggu cucu-cucunya datang ke rumah nenek kakeknya dan main sama mereka. Tapi ini? Malah kita yang ‘datang’ tiap hari untuk ngerepotin mereka, mengasuh anak-anak kita. Nggak ada anak yang tega pasti, tapi nggak ada juga orangtua yang tega kalo anaknya dipegang sama pengasuh yang belum jelas asalnya darimana dan gimana orangnya. Dilema orangtua jaman sekarang, ya?

Nah, beban yang lain sebenernya lebih ke kepentingan orangtuanya sendiri, yaitu pola asuh anak. Ini yang kadang jadi perdebatan antara orangtua dengan neneknya. Saya termasuk orangtua zaman sekarang yang pasti akan cari metode pola asuh yang sesuai dengan gaya saya. Untuk itu kan berarti saya harus banyak cari referensi dari buku, Googling, dan lain-lain. Kita orangtua maunya A, tapi nggak bisa diterapin karena bentrok dengan pola asuh neneknya yang mungkin berbeda dan menjadi kebiasaan. Saya rasa agak sulit untuk menerapkan pola asuh yang kita inginkan karena bukan kita yang melaksanakan, ya pasti susah nyambung kan yah? :)

Kayanya kalo kita memaksakan pola asuh yang kita mau kayanya nggak etis ya. Nanti malah timbul kesan “Memang pola asuh saya selama ini salah ya, sampai harus didikte lagi?” di pikiran orangtua yang jaga anak kita.

Jadi intinya gimana sih? Saya pribadi dapat wejangan dari ibu saya, kalau memang kita sudah memutuskan untuk menitipkan anak kepada siapapun, jangan berharap lebih untuk bisa ‘diaminkan’ semua hajat kita untuk anak. Atau bahasa gampangnya, “Kalau sudah nitip anak ya terima konsekuensinya” atau dengan kata lain, kalau mau sesuai sama semua keinginan kita, ya jangan dititip… :D

Benar nggak?


Post Comment