Gunung Es Itu Bernama Kekerasan Terhadap Anak

“Ikhlas ya, Mih, Renggo sayang Mamih..”

Itu kalimat terakhir yang diucapkan Renggo, seorang murid kelas 5 SD yang meninggal diduga akibat dari dipukuli oleh kakak kelasnya, pada ibunya. Air mata saya meleleh membaca artikel demi artikel yang memuat berita ini. Kekerasan terhadap anak yang dilakukan teman sebaya, bukan berita baru. Saya sudah pernah menulisnya saat ada anak kelas 1 SD di Makassar yang juga meninggal diduga akibat kekerasan dari teman sekolahnya.

Rupanya kemuraman kita sebagai orangtua belum bisa usai. Sejak bulan April lalu, ketika kasus pelecehan seksual anak  usia 5 tahun di sekolah swasta internasional mencuat, berita-berita kekerasan anak bak jamur di musim hujan. Muncul satu per satu, berkesinambungan, tanpa henti. Hanya puncak dari gunung es, katanya.

Pertanyaan pentingnya; Kapan gunung es ini akan runtuh semuanya? Bisakah gunung es ini runtuh?

Peran serta orangtua

Ini menjadi fondasi yang kuat dalam kehidupan anak. Ya, kita bertemu dengan anak setiap hari. Tapi apakah pertemuan kita dengan anak semata-mata hanya presence saja? Kalau hanya tubuh kita yang ada di hadapan anak, kasihan dong para orangtua yang dengan alasan tertentu harus tinggal berjauhan dengan anaknya? Atau, kasihan dong anak-anak yang orangtuanya berpisah dengan alasan tertentu.

Menurut saya, presence memang penting, tapi yang tak kalah penting adalah kualitas komunikasi yang kita jalin dengan anak.

2014-05-04 10.48.25

Kemarin, saya ngobrol banyak dengan Intan Erlita, M.Psi. Psikolog keluarga yang juga presenter ini menekankan peran penting keluarga dalam keseharian anak. Pendidikan seks, misalnya. Aturan atau kebiasaan kecil seperti kalau ke luar kamar mandi menggunakan handuk, akan menumbuhkan anak rasa malu jika menunjukan tubuh telanjangnya di hadapan umum.

Lalu mengenai rasa percaya diri anak. Wah, kalau ini sudah pasti Mommies paham, ya. Rasa percaya diri tumbuh dari dalam rumah. Bagaimana anak dihargai di rumah, bagaimana orangtua menunjukan bahwa anak adalah hal yang berharga bagi mereka. Bukan berarti memanjakan ya! Bedakan antara menghargai anak dan memanjakan. Baca artikel mendidik dengan cinta dan logika sebagai referensi.

Anak yang berangkat dari rumah dalam kondisi percaya diri, biasanya tidak mudah menjadi ‘korban’ di lingkungan. Entah itu korban bullying atau pelecehan seksual *knock-knock on the wood*. Mommies di sini pernah ada yang menjadi korban bully atau malah pelaku bully? Kalau sebagai pelaku, coba deh, ingat kembali saat kita memilih ‘korban’. Biasanya yang di-bully adalah mereka yang pendiam, jauh lebih pintar, lebih cantik, intinya memiliki perbedaan dengan anak lain tapi si anak tidak percaya diri dengan kelebihannya itu. (kok kesannya saya canggih banget ya, dalam menjadi pelaku bullying :D ).

Selanjutnya: Bagaimana pelaku pedofilia mencari mangsa? >>


6 Comments - Write a Comment

  1. Yup, miris rasanya membaca berita kekerasan terhadap anak. Anak SD tewas hanya karena dipicu jajanan seribu, kasus sodomi, anak meninggal ditangan ART, hadeeh rasanya kalo bisa dikekepin aja d anak saya yang masih dua tahunan itu.

    Sejak sekarang, bukannya ngajarin anak saya jadi jahat, tapi saya selalu ngajarin dia kalau ada yang nyubit/mukul/gigit/jahatin dia saya selalu bilang, lawan-balas-jangan nangis dan diam aja.

    Saya juga sama suami sempet kepikiran buat ngajarin dia karate. Biar seenggaknya dia punya ilmu bela diri. walaupun sebenarnya itu bukan solusi.

    1. Yang perlu diingat dari adanyabkasus2 ini kita harus bs ngajarin anak self defense baik scr fisik kaya karate, tae kwondo, dkk atau secara kepribadian udah kuat anak mampu menolak mempertahankan haknya, dkk.

      mudah2an anak2 kita dijauhkan dari marabahaya ya.. Amin.

  2. gw sedang membangun kepercayaan diri fadhlan, lit, secara lu tau dia pemalu sangat. buruh waktu memang, tapi gw bangga kemarin dia bisa bales anak yang tarik-tarik baju dia *makin semangat ngajarin fadhlan

Post Comment