Menyapih Dua Kali

Toddler

deeth・24 Apr 2014

detail-thumb

Saat Rasya persis dua tahun, saya galau gara-gara tidak tega menyapih. Habis, anak lanang saya itu posesif sekali pada nenen. Tiada hari tanpa nenen, khususnya sebelum tidur. Kalau saya pulang kerja, yang pertama dicari pasti nenen. Maka, pemandangan sehari-hari tuh di rumah, nonton sambil nenen, dibacakan cerita sambil nenen, habis menangis langsung nenen, dan tentu saja tidur sambil nenen.

Sudah diingatkan pula berkali-kali kalau sudah besar, sudah ulang tahun ke-2 nenennya berhenti. Tapi apa daya, setiap jurus rengekan Rasya selalu berakhir dengan kemenangannya, dapat nenen. Saya yang nggak tega. Plus, saya juga terlanjur keenakan dengan menyibak baju atau buka daster :p

Hingga tengah malam sebulan lalu, saat Rasya terbangun menangis, tiba-tiba saya dapat insight untuk tidak memberinya nenen. Ia menangis sejadi-jadinya. Lima belas menit tangisannya tak kunjung reda, suami berinisiatif memboyong Rasya pindah ke kamar tamu, meninggalkan saya sendirian di kamar. Rasya makin heboh menangis, terus begitu sampai 20 menit lamanya, hingga tampaknya ia tertidur karena lelah. Pun hari berikutnya, kejadian sama berulang lagi. Saya lagi-lagi ditinggal sendirian di kamar sementara suami tidur bersama Rasya yang masih menangis histeris sampai ketiduran. Jangan tanya bagaimana perasaan saya tidur dua malam tanpa suami dan anak, nelangsa! :(

Untunglah hari ketiga saya bisa tidur bersama Rasya lagi dan begitu malam-malam berikutnya. Tiap kali ia minta nenen, saya menolak, dan mengatakan tidurnya dipeluk Mama saja. Begitu terus setiap hari. Rasanya, setiap berhasil menidurkan Rasya tanpa nenen, saya seperti menang lotere hari itu. Yeay, we did it! Perasaan menang itu yang membuat saya optimis bisa menyapih Rasya.

Seminggu episode menyapih ini berlangsung dengan sedikit bumbu drama tiap menjelang tidur, sampai Rasya sakit batuk pilek dan susah tidur. Haduh....saya ragu, apakah saya harus menyusui lagi? Saya betul-betul nggak tega melihatnya susah bernapas karena terhalang dahak dan tubuhnya sempat demam. Akhirnya, dengan seizin suami juga, saya membuka pabrik lagi selama Rasya sakit. Tujuh hari lagi saya mengenakan daster kancing depan dan menyusui Rasya kapan pun ia mau, yang membuatnya semakin posesif!

Apakah akan mudah menyapihnya lagi? Karena Rasya semakin galak saat minta nenen. Jadwalnya pun nggak tentu, suka-suka Rasya saja. Oops! Saya jadi lebih khawatir untuk memulai menyapih Rasya kedua kalinya.

Setelah ia sembuh, kami memulai lagi dari nol, dengan cara yang sama: tidak memberikan nenen saat ia minta dan dialihkan ke hal lain. Tentu saja tetap ada drama, tetapi Alhamdulilah nggak seheboh pertama kali menyapih. Tak sampai tiga hari, Rasya sudah mulai 'lupa' pada nenen, kecuali saat ia ngelilir tengah malam atau pas rewel, tanpa sadar ia menarik baju dan tentu saja nggak saya kasih.

Sejak saat itu, setiap kali tidur saya memilih untuk membacakannya cerita, bernyanyi, atau malah merem duluan supaya Rasya ikut tidur. Sekali dua kali ia masih minta, tetapi saya selalu bilang, 'Lho, Rasya 'kan sudah besar, sudah nggak nenen. Sini dikelon-kelon Mama aja yuk!' Ia pun menurut dan langsung memeluk saya erat.

Fiuuuhhh.......*lap keringat* Sekarang boleh ya secara resmi saya nyatakan Rasya sukses disapih pada usia 2 tahun 2 bulan (target saya dulu 2,5 tahun)! :)

Selanjutnya: Bagaimana cara saya sampai akhirnya sukses menyapih? >>

Nah, ini yang saya lakukan dan mungkin bisa jadi catatan untuk Mommies yang siap-siap menyapih si kecil:

  • TEGA itu harus. Kadang karena kita nggak tega itu yang bikin anak tambah sulit disapih. Plus rengekan anak yang bikin hati meleleh atau malah seperti cerita Mbak Adenita, suaminya yang belum siap melihat anak disapih. Maka, balik lagi....kita sebagai ibu yang harus tega. Kalau sudah tega dan bertekad bulat, tinggal menyiapkan diri dengan respon si kecil (dan suami).
  • Kompak dengan suami. Banyak banget cerita weaning terdahulu yang bilang bahwa peran suami itu penting, sepenting dukungan suami selama proses menyusui. Kompak di sini bisa dimulai dari mengalihkan perhatian anak saat ia minta nenen, hingga tidur bareng anak untuk sementara waktu. Kebetulan semasa menyapih Rasya, saya tengah sibuk dengan berbagai pekerjaan saat weekend. Ini menjadi kesempatan bagi suami untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan Rasya, sehingga Rasya merasa lebih dekat dan nyaman dengan ayahnya. Biarkan suami yang mengurus semua keperluan si kecil, sehingga anak tahu bahwa ia juga bisa peluk-peluk dengan ayah.
  • Anak dalam kondisi sehat saat disapih. Kalau lagi sakit, kasihan.... Biasanya anak kurang nafsu makan saat sakit, maka ASI bisa menjaga kondisi tubuh anak supaya tidak dehidrasi. Jadi, pastikan si kecil sedang sehat ya.
  • Lebih sering memeluk anak. Jujur, saat awal menyapih, saya agak sedih dan takut Rasya merasa ditolak mamanya setiap kali saya tak memberikan nenen. Membayangkan perasaan itu saja bikin saya mewek, kadang terpikir untuk menyusuinya lagi. Namun, sekali lagi, kita harus bisa tegas pada diri sendiri! Kompensasikan perasaan galau itu dengan lebih sering memeluk anak, sambil bilang sayang padanya. Semakin sering memeluk anak, gelendotan, kruntelan bersama suami juga, anak tahu kok bahwa kita tetap sayang padanya meski ia sudah tidak nenen lagi.

  • Coba dari cara yang mudah menurut Mommies. Setiap ibu punya cara sendiri dalam menyapih, karena anak-anak punya karakter dan pribadi yang unik. Cara saya belum tentu cocok untuk beberapa ibu, tapi bisa cocok bagi ibu lain. Ada yang pakai olesan ini itu di puting, ada yang pijat di dukun bayi, ada yang pergi ke luar kota seminggu pulang-pulang ditolak nenen, dan juga ada weaning with love. Kalau pakai patokan ideal, pasti semua ibu ingin pilihan terakhir. Namun, jangan kecewa dulu jika weaning with love nggak berhasil, toh masih ada seribu satu cara lainnya. Yang penting, Mommies tahu sendiri kapan ingin mengakhiri perjalanan indah itu, plus menyiapkan anak untuk disapih :)
  • Pascamenyapih, saya mengamati Rasya lebih mandiri dan lebih bernafsu makan. Kebutuhannya pada susu saya alihkan ke susu yang ia minum dari gelas. Sekali teguk langsung habis, saya sampai takjub! Pun begitu dengan makan, lebih lahap dan doyan banget ngemil. Tentu efek menyapih ini akan berbeda pada tiap anak, tetapi menyapih memang salah satu momen penting, milestone, dalam tumbuh kembang anak. Maka, harus kita mulai saat anak, suami, dan terutama kita sebagai ibu, sudah siap. Menyapih bukan berarti 'memisahkan' anak dari sesuatu yang ia sayangi dan membuatnya nyaman. Menyapih berarti mengantar anak naik ke kelas yang lebih tinggi, menyiapkan anak untuk lebih mandiri. At the end, it is our job as parents :)

    Kini, PR besar saya dan suami adalah Rasya tuntas potty training. Doakan kami ya!

    “Little children, from the moment they are weaned, are making their way toward independence.”

    - Maria Montessori