Siap-siap Lepas Pospak!

Masih ingat cerita saya soal Rasya yang memulai potty training? Setelah enam bulan berlalu, hasilnya mulai terlihat lho. Selain cara biasa alias cara-cara umum, saya juga coba mempraktikkan kiat dari mommies ;)

Kini, Rasya di usia menjelang 2 tahun bulan depan, sudah jarang mengompol kalau tidur malam. Ia juga sudah mampu menahan pipis, sementara saya mulai membaca kapan jamnya ia buang air kecil. Sekali dua kali masih ngompol, yang mana menurut saya masih wajar. Namun, saya bangga dengan kemajuan Rasya.

Dari pengalaman enam bulan ini, saya berkesimpulan bahwa potty training itu bukan soal kesiapan anak semata, tetapi juga kesiapan kita sebagai orangtua. Mesti rela susah dan (lagi-lagi) perpanjang kesabaran, hehehe. Awal memulai potty training, saya kadang kurang sabar menunggu Rasya untuk buang air kecil. Tapi setelah tahu jam-jamnya, lebih mudah bagi saya untuk mengajaknya buang air kecil, tinggal minta si ayah mengarahkan cara buang air kecil yang benar :D

Nah, berikut kiat sederhana seputar potty training.

  1. Yakinkan diri dan suami bahwa ini memang waktunya si kecil potty training. Kenyamanan menggunakan diapers pasti membuat kita terlena. Namun, memulai potty training lebih awal (atau karena terpaksa seperti saya :p) membawa banyak perubahan bagi kita dan anak. Bagi anak, ia akan mampu mencapai tonggak perkembangannya dan menjadi individu yang mandiri plus bisa mengendalikan tubuhnya. Bagi orang tua, potty training ibarat masa transisi dari masa bayi ke masa balita. Bikin kita sadar bahwa anak itu akan tumbuh besar, dia bukan bayi kecil lagi!
  2. Ajak anak ‘membersihkan’ bekas pipisnya. Awal memulai potty training, kita masih kerja keras untuk sering mengepel bekas pipis si kecil. Setiap pipis, langsung dipel atau dibersihkan dengan kain pel. Rupanya, anak itu lihat lho apa yang kita lakukan! Sekarang, kalau barusan pipis di lantai, Rasya langsung mengambil kain pel dan menutup bekas pipisnya. Ya nggak dibersihkan beneran sih, tapi anak jadi tahu bahwa itu kotor dan harus dibersihkan.
  3. Baca tanda-tanda anak mau pipis. Pasti berbeda-beda di setiap anak. Kalau Rasya, ia mulai memegang kemaluannya dan biasanya diiringi posisi berdiri mematung. Atau……bisa juga habis marah-marah nangis karena nggak dikasih sesuatu, berujung dengan pipis di tempat (_ _)”
  4. Biasakan ke toilet sebelum tidur, baik tidur siang maupun tidur malam. Cuma saya suka lupa bilang ini ke si mbak yang jaga Rasya, jadi sementara baru saya yang menemani Rasya ke toilet. Belakangan lebih mudah mengajak Rasya ke toilet dan langsung pipis ketimbang saat baru memulai potty training. Di sini kesiapan anak juga sudah mulai terbentuk. Saya sendiri belajar bahwa ketika orangtua terlalu memburu anak untuk bisa sesuatu, ujungnya kita stres dan frustrasi karena anak belum siap. Saat anak sudah siap, dengan sendirinya ia akan melakukan dengan mudah, tanpa perlu ada drama.
  5. Ayah juga harus terlibat! Apalagi kalau anak kita laki-laki. Bukan cuma soal menjelaskan, tetapi mencontohkan cara pipisnya.
  6. Terus ingatkan anak untuk bilang dulu sebelum pipis atau buang air besar. Ini nggak boleh bosan dilakukan. Buat saya, yang ini belum berhasil 100%, tetapi saya yakin Rasya ngerti dan bisa mengkomunikasikan apa yang dirasakannya. Iya, Rasya belum lancar bicara, masih babbling dan mengandalkan bahasa non-verbal. Namun, pernah suatu malam, ia terbangun dan turun dari tempat tidur, lalu meminta pintu dibuka karena ia mau ke toilet. Ah, saat itu saya terharu sekali melihat ia bilang kalau mau pipis!

Potty training saya baru berjalan enam bulan dan masih terus berjalan. Belum selesai, tetapi saat satu fase telah terlewati, saya meyakinkan diri bahwa Rasya bisa lepas diapers! Alhamdulillah juga setelah jarang pakai diapers, Rasya terbilang sehat dan nggak ada keluhan seperti yang lalu.

Yuk siap-siap lepas diapers dan berburu celana dalam lucu, hehehe :D *asyiiikk, belanja lagi!!*


Post Comment