Ibu Hamil & Kursi Prioritas

Kemarin mengikuti hebohnya postingan seorang perempuan di akun sosial medianya, ia berpendapat kalau ibu hamil yang suka minta tempat duduk di kendaraan umum itu hanya menyusahkan orang lain saja.  Saya tidak ingin memberikan pendapat lagi tentang bagaimana kurang peka-nya pendapat tersebut. Saya hanya ingin meneruskan pengetahuan, kenapa harus ada yang namanya kursi prioritas.

Courtesy_Seating_sign

Di Indonesia, hanya dikenal satu nama : Kursi Prioritas. Kursi ini diperuntukan pada manula, penyandang cacat, ibu hamil, dan orang yang membawa anak kecil. Di beberapa negara lain, ada yang membedakan antara kursi yang harus diberikan dan kursi yang harus ditawarkan. Priority Seating means must be vacated for persons with disabilities (khusus untuk penyandang cacat) dan Courtesy Seating means please offer your seat if someone is in need (untuk orang yang membutuhkan karena satu situasi atau keadaan, misalnya hamil, manula, atau membawa anak balita). Setiap alat transportasi umum, akan memasang tanda ini di atas dua atau tiga buah kursi, artinya kursi ini disediakan untuk mereka yang membutuhkan.

Mungkin yang paling susah dicerna dengan akal sehat, kenapa sih ibu hamil itu perlu dikasih kursi? Katanya hamil itu bukan penyakit, bukan hambatan, bukan gangguan, tidak termasuk difabel pula. Kalau nggak mau ribet, ya, jangan hamil! Kalau begitu, kenapa ibu hamil punya jatah di kursi prioritas?

  1. Di trimester pertama, saat perut belum membesar dan bahkan terlihat belum hamil, justru merupakan saat paling rawan dalam masa kehamilannya. Bayangkan, ada banyak hal yang bisa menyebabkan keguguran di masa rawan ini, salah satuny adalah terlalu lelah.
  2. Ketika perut mulai membesar, kemungkinan terjatuh karena kurang keseimbangan sangat mungkin terjadi. Kalau ibu hamil tersebut jatuh, sudah tahu, dong apa, risiko bagi si bumil tersebut?
  3. Selain ketidakseimbangan yang suka datang tanpa diundang, hormon yang pergerakannya bagai roller coaster saat hamil ini, suka tiba-tiba menyebabkan sakit kepala, kaki kram (jangankan berdiri, lagi duduk saja bisa kram tiba-tiba), kaki bengkak, sesak nafas, heart burn, mual, muntah, dan perasaan tidak terduga lainnya. Tidak sedikit teman yang cerita kalau dirinya sempat pingsan di KRL, setelah beberapa kali meminta tempat duduk karena badan mulai terasa tidak enak, tapi diabaikan oleh orang sekitar.
  4. Ibu hamil punya insting melindungi. Bagaimana cara melindungi janin dalam rahimnya? Dengan menjaga tubuh agar tidak terlalu lelah. Makanya, kadang jika terlalu lama berdiri dengan bobot badan yang mungkin sudah naik 10 kg, rasanya ingin istirahat sejenak. Tahu tidak risiko jika terlalu lelah? Bisa keguguran di trimester pertama atau kelahiran dini di trimester tiga.

Perkara ini mungkin tidak bisa dibandingkan dengan negara lain, karena masalahnya tidak hanya pada budaya dan sistem tapi juga individunya. Tapi boleh deh, kita cek satu negara, untuk membandingkan sistem saja. Di Jepang, ketika periksa dan dinyatakan hamil oleh dokter kandungan, ibu hamil akan langsung diberi pin sebagai tanda bahwa dirinya mengandung dan berhak atas beberapa fasilitas. Jadi tanpa perlu meyakinkan orang lain bahwa diri sedang hamil padahal perut buncit belum terlihat, ibu hamil bisa langsung diberikan tempat duduk, masuk di line antrean khusus, dan sebagainya. Di Indonesia kapan, ya?

Selanjutnya: Jadi, ibu hamil itu manja? >>


19 Comments - Write a Comment

  1. sanetya

    Gue, kok, nggak emosi, ya, pas baca soal mbak itu. Ada rasa kesal sedikit tapi, ya, sudah. Mungkin karena gue pikir walau dia harus belajar memfilter apa yang dia post di media sosial tapi temennya, kok, tega screen shot dan menyebarluaskan. Cuma, ya, memang banyak orang yang seperti mbak itu … ignorant sama sekitarnya, baik yang sudah mengalami kondisi mirip atau yang belum dan nggak sedikit pula oknum yang suka akting supaya diistimewakan di transportasi umum.

  2. nenglita

    Gue sih salah satu yang kesal baca postingannya ini. Itu reaksi pertama. Reaksi ke dua, ya idem sama Manda, kasihan sama si Dinda ini, kok teman2nya tega screencap padahal si sosmed yang satu itu bukannya harusnya personal ya? Tapi di zaman serba canggih gini, dengan teknologi bernama screen capture, apa yang udah kita posting ga bisa ditarik lagi.

    Yang gue sayangkan hanya pemikiran dia, yang padahal udah dewasa (membaca teman2nya udah kerja juga), kok nggak ada rasa empatinya? Duh, bicara masalah empati, memang sudah semakin terkikis, kayanya..

  3. Aku kok sama kaya mbak Lita, pertama baca kesel ma si Dinda.. Lalu, langsung koreksi diri sendiri sebagai orang tua sudah mengajarkan empati belum ke Tifa.. Baru sekarang kepikiran kaya Manda.. Kok tega temennya nge-capture.. Atau mungkin cuman sebatas temen path aja kali ya, ga kenal-kenal amat…

    eh kece tampilan MD sekarang.. Makin kereeeeeen :*

  4. sempet kesel juga pas awal bacanya tp setelah itu memaklumi karena dia blom pernah hamil jadi belum tahu rasanya :D

    semoga saat dia hamil dan dikasih tempat duduk sama orang lain dimpblic tranportation yg dia naiki kejadian ini kembali menclok di kepalanya dan pastinya bikin dia merasa sedikitnya malu dengan apa yg pernah dia posting di Pathnya bertahun lalu… :)

  5. gue pertama baca mikirnya lebih ke “ada lagi? sampe kapan?” udah liat yg kemaren2 dan diem, kali ini ga tahan buat share. udah saatnya ibu2 kayak kita *kitaaa??* dan mungkin ibu si poster sendiri di reminder untuk ngajarin anak empati dan peduli. soalnya protesnya dia ga pada tempatnya jg. mau males ato manja, hamil ya tetep hamil yg secara konsensus internasional berhak atas beberapa prioritas ato privilege.

    lita & wikit, iya itu nilai minus yg lain ya. tadinya gw kira alay yg emang masanya seenak udelnya bertingkah & ngomong. lah taunya udah kerja udah merit, plis deh muvon kek jd alay, malu ama umur. bentar lagi jangan2 alayan emaknya timbang anaknya.

    satu pelajaran lain yg gw dapet disini, bok…bapak2 & mas2 itu lebih pedes & jahat yaa kalo komentar, ketimbang ibu2 & mbak2 yg cenderung ambil posisi doain or throwing wise words. yah well, semoga pelajarannya ga cm buat si Dinda aja *setel Katon*.

    1. Gue gemes baca pendapatnya, Kir. Menurut gue udha kebiasaan banget orang-orang cuek dibiarin nggak peka sama aturan. Becandaan “aturan ada untuk dilanggar” itu kayak mendarah daging, dan menurut gue kalo balik didiemin, di masa mendatang semua orang bakal beneran nggak peduli sama aturan kali, ya?

      Tulisan ini gue buat untuk mengingatkan soal aturan umum yang berlaku di seluruh dunia, bahwa kursi prioritas itu ada untuk membantu mereka yang memang masuk golongan prioritas. Bukan buat ngasih ke orang malas yang nggak mau datang pagi supaya dapat kursi. Gitu aja, sih :))

  6. Kalo dia malu dgn banyaknya kecaman akibat kasus ini, berarti dia masih punya hati nurani, dan semoga bisa mengambil hikmah dari kejadian ini. Kalo masih ga merasa salah alias lempeng aja, TERLALU, biarkan Allah SWT yg membalasnya.

  7. Kalau aku pas baca itu rasanya emosi tingkat dewa. Emosi karena yang ngomong itu perempuan. Dan pas baca tulisan mbak Kirana kalau dia udah merit rasanya tambah2 gimanaaaa gitu….. #istighfar #yasudah, toh masyarakat sudah menghukumnya. Aku juga belom ngerasain hamil (semoha Alloh lekas memberikan kepercayaan, amin… #ehmalahcurhat), tapi alhamdulillah nggak pernah sekalipun dan sedikitpun terbersit bahwa ibu hamil itu merepotkan. Aduh… aku udah nggak tau lagi mau ngomong apa… tapi aku inget satu hal yang pernah diajarkan almarhum mamaku dulu: 1. Selalu hormati orang tua, meski pendidikan orang tuamu tidak setinggi pendidikan yang kau kecap. 2. Berempatilah kepada orang lain.
    Aku berharap generasi muda kita lebih berempati. Semoga para orang tua mengajarkan anak-anaknya bagaimana berempati dengan orang lain seperti mamaku mengajarkanku tentang hal itu. Semoga jika kelak mbak Dinda ini hamil, orang-orang dengan sukarela memberikan kursinya tanpa perlu dia minta, sehingga kesehatan dan keselamatan calon bayinya terjaga…

  8. vivinafisahAJ

    Jleebb bangett mbaa… makasihh postingannya. Kmrn aku sempet ikut2an, tp udah kuhapus walaupun ya tetap sih salah… awalnya ga berani share krn ada foto anak itu, cuma ga tau kok ya jd ikutan. Aneh jg, tega ya te, an yg screenshot, pdhl path kan lebih ke circle org2 kenal baik… hikss…. makasih yaa… banyak2 istigfarr deh akuuu… tp ada hikmahnya juga, anak itu jd menyadari kesalahan dan semoga gak akan se individualis sebelumnya, jadi manusia lebih baik itu psti, saya doakan…. dan pelajaran utk saya pribadi, PR besar sbg ortu membentuk anak yg berkarakter baik….

  9. Kasus kemarin itu justru langsung membuat aku introspeksi diri, bikin aku tersadar, eh gw udah ajarin empathy lom ke anak2, anak2 gw udah bisa emphaty lom, udah bener lom pelajaran yg gw kasih. Peer banget buat aku. Kita bisa menghujat orang, tp apa kita sendiri bisa introspeksi? Justru jd berterima kasih, gara2 dia jd ada pelajaran penting utk bangsa ini, mengajarkan empathy! :)

  10. Baby_ZK

    Gue termasuk yang share juga soal mbak D ini di path, dari mulai awalnya kesel, trus jadi kasian.. dan mikir kok dia bisa ya segitunya ga punya empati. trus akhirnya malah jadi ngakak2 gara2 jokes yang timbul. Gue suka kalimat lo “Saling mengingatkan dengan sopan itu boleh kok”. Artikel lo juga less judging dan sbg bumil gue ngerasa dikasih empati. Mengingatkan orang memang gampang tapi disampaikan dengan cara yang bisa diterima itu yang susah. Lo enak banget ngasih taunya.. Thk u for reminding :)

Post Comment