Perlengkapan Perang Potty Training

Seperti yang saya akui di artikel yang lalu, keinginan untuk memulai dan lulus potty train itu ada sejak awal tahun 2013. Jadi saya sudah memiliki ‘perlengkapan perang’ yang waktu itu saya pikir akan berguna dan membantu. Karena prosesnya tidak berjalan, jadi dua barang ini teronggok begitu saja salah satu box perintilan Menik. Hingga Februari kemarin, kami tidak sengaja memulai toilet training, dan AKHIRNYA setelah saya merasa menyesal karena beli barang yang rasanya tidak berguna, dua barang ini jadi teman baik kami.

Mommy’s Helper Cushie Traveler

Karena bisa dilipat dan dikasih janji ‘no more pinched bottom’ maka saya langsung bungkus. Ternyata benda ini berguna sekali jika kita mengunjungi suatu tempat yang tidak menyediakan toilet khusus anak-anak. Menurut saya, ini jadi problem utama, loh! Jika tidak ada toilet khusus anak, bisa saja anak dipegang dan bertumpu pada kita, tapi kan pegal, ya? Dan untuk orang tua yang hobi keluar rumah, proses potty train ini bisa terganggu hanya karena tidak tersedianya toilet khusus anak. Makanya portable toilet seater ini cocok dan lumayan ringkas untuk masuk ke dalam tas. Nilai plus lainnya adalah hampir selalu cocok dengan berbagai model toilet duduk yang ada di Indonesia. Pernah satu kali, potty seat ini tidak bisa dipasang dengan pas, tapi tetap bisa digunakan, kok! Jadi sifatnya cukup universal.

Terpenting juga, nih, sesuai janjinya di cover, Alhamdulillah, Menik belum pernah kena insiden kejepit pas duduk disini, malahan ini menjadi lapisan kedua ketika ‘terpaksa menggunakan toilet cover yang kotor dan banyak jejak kaki. Lapisan pertamanya,saya memang sudah selalu membawa disposable paper toilet seat cover, Hygienex mereknya.  Terserah, deh, mau dibilang sok bersih, tapi ya ngeliat jorok aja sudah malas, apalagi tahu kalau dudukan toilet umum itu mengandung 1600 kuman per 100 centimeter persegi! (sumber: www.health.kompas.com) Jangan lupa untuk mengeringkan bagian bawah setelah digunakan dengan tissue agar tidak menyimpan kotoran yang berpotensi menjadi jamur karena disimpan. Satu-satunya kekurangan dari portable seat ini adalah bulky. Tapi kalau terbiasa membawa tas ukuran sedang atau besar, memasukkan kantung putih gemuk ini sebetulnya tidak akan menjadi masalah.

Pottete Plus Portable Potty

Nah, satu barang lagi yang jadi teman baik kami saat Menik sudah lepas dari pospak adalah portable potty dari Pottete Plus! Sekali lagi saya beritakan, hehehee, perangkat ini juga sudah saya beli dari tahun 2013. Lagi-lagi karena tingkat percaya diri tinggi soal Menik akan berhasil ke toilet sendiri sejak tahun lalu, hehe. Kalau potty yang ini saya simpan di dalam mobil dan berguna sekali ketika sudah empat kali pergi dengan Menik dan selalu menemukan pospak kering, yang artinya anak ini menahan pipis selama bepergian. Sejak saat itu, saya selalu menawarkan Menik untuk pipis setiap 30 menit sekali. Jadi walaupun Menik tetap saya pakaikan pospak (sambil bilang kalau ini celana juga tapi terbuat dari kertas) tapi saya tetap menaturnya. Kenapa? Saya tidak ingin Menik terserang ISK karena sering menahan pipis.

Portable potty ini stand by saja di dalam mobil, gunanya sebagai toilet Menik di dalam mobil. Saya letakkan di bagian tengah mobil, agar Menik leluasa ketika ingin BAK atau BAB. Saat baru memberi Pottete Plus, ada bonus setumpuk degradable plastic bag yang dilengkapi dengan pad, fungsinya untuk menampung pipis atau pup anak. Tapi tenang saja, jika plastik bonusnya sudah habis, plastik biasa tetap bisa digunakan. Jadi sedia plastik dalam mobil atau tas ya, yang juga berguna untuk menyimpan celana kotor misalnya anaknya kebablasan ngompol atau keburu pup di celana :D Psst, jika cushie traveler tertinggal, si pottete plus ini juga bisa dijadikan penggantinya! Makanya jangan dipindah, biarkan saja ada di dalam mobil Anda, ya, Moms!

Wah, ternyata printilannya tetap banyak, ya! Sebelum memulai potty train, saya termasuk orang yang tidak mau repot membawa banyak barang anak, cukup menggunakan bag in bag organizer untuk menyimpan pospak, tissue basah, dan baju ganti secukupnya. Saya kira, setelah bebas pospak, bawaan saya akan lebih ringkas dan ringan. Ternyata salah! Hahaa, pospak tetap saya bawa satu untuk jaga-jaga, dan bertambah bawaan dalam tas, yaitu si cushie traveler.

Ya namapun anak bejalar, jadi mari kita nikmati proses ini! Have a great potty training story, ya, Mommies!


5 Comments - Write a Comment

  1. keren nih perlengkapan potty trainingnya… saya belum lulus dari potty training, padahal anak saya usianya sudah 29 bulan hiksss. Dulu pas anak masuk usia satu tahun saya sudah belanja perlengkapan potty training yang lucu-lucu dan bertekad usia satu tahun lebih sedikit sudah lulus, tapi kenyataannya sudah setahun lebih banyak anak saya belum lulus juga. hadeeh harus lebih semangat lagi.

Post Comment