Jangan Takut Makan di Warung

Berhubung Mamanya mall hopper alias punya penyakit kaki gatel kalau seminggu nggak menginjak lantai mal, anak-anak saya terbiasa makan di mal. Memang lebih enak, sih, makan di mal apalagi kalau punya anak kecil atau batita. Nggak kepanasan nggak kehujanan, makanan dan alat makan (setidaknya terlihat) bersih, ada tempat cuci tangan yang pantas, bahkan disediakan baby chair supaya nggak perlu makan sambil memangku bayi.

Tadinya saya nggak kepikiran apa-apa selain mahal karena yang makan enam mulut :D. Malah lebih ‘praktis’ karena cukup ke satu tempat bisa sekalian, belanja rumah tangga, cuci mata, dan makan. Belanja di lokasi yang nggak ada tempat makannya itu PR banget saat anak mulai teriak-teriak minta makan. Apalagi anak saya yang walau sudah makan kenyang di rumah, sampai tujuan pasti sudah lapar lagi. Minimal minta mengunyah roti-rotian mal *kais-kais dompet.

Sampai suatu hari saat kami perlu ke Gramedia Matraman, selesai belanja cuaca panas dan belum makan siang. Saya memutuskan makan di luar Gramedia saja daripada lanjut ke mal terus macet di jalan malah makin kelaparan nanti. Lalu tahu-tahu Darris,”Ah, nggak mau! Males makan di sini, panas! Di mal aja..”. I was like,”Hah?! Who do you think YOU are?!”

*gambar dari sini

Kata-kata itu jleb buat saya, yang selama ini ‘cuma’ menghindari makan di warung berpanas ria karena masih repot bawa bayi. Saya yang akan dengan senang hati nongkrong makan di warung (yang enak tentunya!) karena irit, nggak peduli walau kepanasan atau banyak asap di pinggir jalan. Saya bahkan nggak terlalu memikirkan nanti sakit perut atau sakit yang lain karena makan di warung atau abang-abang. Oh, no, saya nggak mau anak saya manja. They don’t born with silver spoon in their mouths.

Saya nggak mau anak-anak saya keenakan makan di mal dan nggak belajar bahwa masih banyak tempat makan lain. Memang di mal ‘kelihatan bersih’. Kelihatannya saja, lho, karena kita toh nggak pernah tahu juga apa yang mereka lakukan di belakang sana. Kalau tidak kenalan dengan warung dari sekarang, apa jadinya nanti kalau sekolah atau kuliah di luar kota? Mau tiap hari makan di mal karena adem dan bersih? Uang saku sebulan bisa habis seminggu kalau begitu caranya.

Saat itu, yang tadinya saya sendiri masih menimbang-nimbang enakan langsung lanjut ke mal atau makan dulu di Gramedia, jadi langsung duduk di warung mi ayam dan memesan dua mangkok, satu untuk Darris. Dengan muka ditekuk sepuluh dia ikut duduk. Tadinya nggak mau makan, tapi saya bilang silakan pilih mau makan di sini atau kelaparan karena nanti sampai mal mama nggak akan beli makanan lagi. And he knows that when I said so, then I mean it. Dengan ogah-ogahan akhirnya dia makan.

Sambil makan saya jelaskan bahwa mampu (secara finansial) atau tidak, sebaiknya kita bisa menyesuaikan dengan semua keadaan. Makan di mal hayuk, makan di warung boleh, nongkrongin abang bakso juga kemon. Saya beri hitungan juga, mi ayam abang-abang harganya Rp.9000,- sementara di mal bisa Rp.25.000-30.000, itu pun belum hitung ongkos parkir yang beranjak Rp.5000,-/jam.

Saya bilang saya nggak mau karena terbiasa makan di mal, kelak anak-anak saya sekali makan di warung langsung sakit. Lebay? Tidak. Saya sering mendengar ini. Itulah kenapa anak-anak saya sekali waktu saya ajak jajan bakso atau siomay abang-abang dan makan di warung. Micin, micin, deh. Toh nggak setiap hari. Di sisi lain saya nggak membiasakan jajan. Setiap ada yang lewat atau mangkal dibeli. Setiap hari. Nggak begini juga.

Sejak itu kami punya kebiasaan baru. Mencoba makan di kantin karyawan di mal. Kantin ini biasanya terletak di area parkir. Panas pasti, dan nggak bersih kinclong seperti di restoran. Tapi cukup enak, kok. Kami makan di kantin di Gandaria City. Sambil bawa sisa nasi dari rumah, pesan satu nasi soto daging, satu nasi rawon, dan balado kentang plus empat gelas es teh manis, total Rp.37.000,- cukup untuk dimakan berenam.
Pernah juga di warung belakang mal Ambasador. Rp.48.000,- untuk makan berlima sudah termasuk minum, lauknya sudah ada ikan, telur, dan sayur.
Waktu ke mal Kalibata mau coba juga. Sayangnya sudah banyak menu yang habis.

Mommies pernah coba kantin di mal lainnya? Kota Kasablanka mungkin? Bagi info, yaa…

 


6 Comments - Write a Comment

  1. Waaaah… Mak Kirana, penting banget ini, yah! Biar gimana kan kita memang wajib ngajarin anak untuk menghadapi situasi yang nggak enak, atau kurang nyaman, Ya, kalau kita selamanya bisa kasih yg enak-enak, kalau nggak gimana? Gue setuju banget dengan kalimat yang loe tulis, ANAK HARUS BISA MENYESUAIKAN DENGAN SEMUA KEADAAN ;)

    Gue pun, kalau lagi belanja bulanan, sering ajak Bumi makan di kaki lima depan Poins Square, hihihi. Untuk di kantin mall, boleh juga tuh idenya! Selama ini soalnya paling cuma gue aja yang suka makan di kantin Mall, di antaranya di kantin PIM, dan fX. Makananannya enak juga, kok. Banyak pilihan juga, macam di food court aja.

  2. Sama banget nih mak kir kejadiannya sama anak aku. Hamil sekarang kan entah kenapa aku eneg bgt ke mal, trus jadi hunting jajanan nusantara di sekitar rumah aja. Trus kita makan soto mie di warung kecil, tapi memang udah terkenal dan bersih. Tapi komen Zahra dong.. “Mah ko restorannya jelek sih??” itu mak jleb bgt tyt selama ini aku lupa ngajarin Zahra makan di warung.. tapi dia tetep makan sih dan aku jelasin yang penting makanannya enak kan..

    Kantin Pasific Place juga enak! dan bersih.

    Cuma kalo musim hujan dan banjir gini aku agak menghindari jajan di pinggir jalan ato warung yang gak bersih, atau pilih makanan yang dimasak/panas kaya nasi goreng, soto, bubur, dll. Kemaren temen ada yang jajan gado2 langsung diare.. :(

  3. Kantin GI dan PI jangan lupa dicicip, ya! Hahahaa itu enak dan yaaa (terlihat) bersih, deh :p Gue sama deh kayak elo, Kir.. Kalo nggak keluar rumah sehari rasanya pusing HAUHAUHAAA.. makanya Menik udah imunisasi typhoid dari umur dua ahun, karena dokternya mendengar pengakuan emaknya yg sering ajak jajan anaknya :D

  4. Kantin PS enaaak… Adanya diantara PS dan Ratu Plaza.
    Kantin mal gue jarang, karena kalo ke mal kami seringnya makan di luar juga alias RM Padang, secara suami gue emang ga suka makan di resto fancy2 gitu, haha..
    Jadi Langit udah biasa banget menjelajah makan pinggir jalan. Nongkrong literally pinggir jalan juga sering, hihihi..

    Awalnya ga ada niat apa2 ya lbh karena ibu bapaknya juga biasa makan di mana aja. Tapi lama2 malah bersyukur karena anaknya jd ga high maintenance, alhamdulillah…

Post Comment