Penggunaan Skincare dan Kosmetik Saat Hamil

Salah satu pertanyaan yang kerap dilontarkan oleh ibu hamil adalah tentang penggunaan skincare dan kosmetik terhadap janin. Hal ini juga dialami oleh teman saya, yang sedang merasa super buluk di trimester pertama kehamilannya. Teman saya ini sebelum hamil memiliki kulit mulus nan cantik, hasil dari perawatan dengan skincare premium. Dia langsung menghentikan penggunaan skin care andalannya, juga kosmetik kesayangannya, begitu tahu kalau dia hamil. Semua itu gara-gara dia mendengar KATANYA skincare dan kosmetik itu bisa membahayakan janin.

Sebenarnya, bolehkah ibu hamil memakai skincare dan kosmetik? Boleh, asal kandungan dalam produk yang digunakan aman bagi janin. Terus, bagaimana kita tahu bahwa produk skincare dan kosmetik yang kita gunakan tidak berbahaya buat janin?

Pertama, mari kita cermati komposisi dari skincare yang kita gunakan. Bila kita masukkan kata kunci save skincare during pregnancy, maka Google akan memberikan banyak nama dari senyawa komponen skincare dan kosmetika yang ditengarai tidak aman bagi janin, dari berbagai sumber. Familiar dengan retinoid, asam salisilat, benzoil peroksida, hidrokuinon, dihidroksiaseton, paraben, ftalat, metilbenzena, formaldehida, fenilendiamin dan oksibenzona? Tapi apakah semua senyawa itu benar-benar berbahaya bagi janin? Salah satu pendekatan untuk menganalisa keamanan suatu bahan terhadap janin  adalah dengan menggunakan US FDA Pharmaceutical Pregnancy Category. Dari lima kategori dalam US FDA Pharmaceutical Pregnancy Category, idealnya ibu hamil hanya menggunakan bahan-bahan yang masuk kategori A dan B saja. Dengan demikian, skincare dan kosmetik yang mengandung bahan yang masuk kategori X sama sekali tidak boleh digunakan, sedangkan yang mengandung bahan dari kategori C dan D sebaiknya dihindari.

Bila mengacu pada US FDA Pharmaceutical Pregnancy Category, dari deretan nama komponen skincare dan kosmetik yang saya tulis di paragraf sebelum ini, retinoid masuk kategori X, asam salisilat, benzoil peroksida dan hidrokuinon masuk kategori C, sedangkan sisanya belum dikategorikan.

Terus, bagaimana dengan komponen skincare dan kosmetik yang seringkali disebut-sebut berbahaya bagi janin, tapi belum masuk dalam salah satu kategori US FDA Pharmaceutical Pregnancy Category tersebut? Lihat di halaman selanjutnya!