Saatnya Melatih Anak Berpikir

Sabtu kemarin, saya diberikan kesempatan mengikuti acara seminar Mona Ratuliu dan Toge Aprillianto, yang diadakan komunitas Parenthink dan Semoge Bandung, dengan tema Saatnya Melatih Anakku Berpikir. Awalnya saat membaca judul seminarnya, saya sempat membatin ini bakal jadi seminar lebay nggak ya, berpikir aja pakai acara diseminarkan. Ternyata tidak sama seperti perkembangan jasmani yang didesain ‘otomatis’ tumbuh saat diberi makan dan minum, kemampuan berpikir yang ada dalam kemampuan mental ini adalah salah satu kemampuan yang harus dilatih dengan bantuan orang lain, dan  latihan terbaik siapa lagi kalau bukan dari orang tua yang pasti mencintai anak-anaknya to the moon and back, kan.

Saat melihat anak-anak kecil kita saat ini, kita pasti pernah terpikir bahwa suatu saat nanti kita tidak ada di samping mereka lagi, untuk mengambilkan keputusan buat mereka. Nggak usah jauh-jauh mikir kalau kita meninggal (langsung mewek kan kalau mikirin ini), misalnya saja sewaktu mereka kuliah di luar kota atau di luar negeri. Di saat seperti itu, tentu kita ingin anak-anak kita sudah punya kemampuan berpikir, yang akan membuatnya memilih keputusan-keputusan yang baik saat kita the rabid parents tidak ada di samping mereka, kan?

*gambar dari sini

Dan manfaat berlatih berpikir ini membentuk kepribadian anak yang mudah-mudahan bisa menjadi jawaban di generasinya nanti.  Melatih kemampuan berpikir ini sudah bisa diterapkan, sejak anak sudah tau bagaimana konsep memaksa. Umur berapa? Err…coba ingat umur berapa anak mulai menggunakan tangisan kalau dia tidak suka sesuatu? Atau saat dia melepeh makanan yang tidak dia suka? Wohooo, ternyata sejak …..3 bulan-an ya….

Eh tenang katanya kan tidak ada kata terlambat…dan tentu saja tidak ada kata terlalu cepat :) dalam mendidik anak.

Meski tidak mudah  karena butuh konsistensi dari orangtua dan pengasuh serta kesanggupan belajar dari orangtua dan pengasuh, manfaatnya menggiurkan, yaitu :

  1. Tentang kualitas personal maka akan membangun sikap bertanggung jawab (siap merugi) dan sikap ikhlas (instrospkektif–optimis). Terjemahannya? Anak jadi pribadi yang bisa bertanggungjawab atas perbuatannya dan mengerti kalau setiap tindakannya ada konsekuensi. Bahwa kalau berbuat salah ya juga tidak berhenti di kata minta maaf, tapi harus ada tindak lanjut untuk memperbaiki kesalahannya. Anak juga terbiasa untuk tidak menyalahkan orang lain dan keadaan.
  2. Tentang kompetensi teknis, membangun kesanggupan belajar (siap susah dan lelah) dan kesanggupan berkarya (menggapai cita).Dengan kata lain, anak pantang menyerah dan inovatif. Ciri-ciri entrepeneur yang tangguh atau karyawan teladan, kan.
  3. Tentang faktor non teknis , yaitu membangun keterampilan mengelola masa depan (investasi) yang pastinya akan jadi anak yang lebih besar tiang daripada pasak dan bukan sebaliknya, dan bisa berinvestasi dengan baik.

Dan semua itu dimulai dari sedini mungkin, dengan membangun rutinitas yang baik yang dilakukan oleh orangtuanya. Anak-anak kan mesin fotokopi dengan ketepatan luar biasa.

Kenapa anak-anak harus dilatih berpikir?

Karena mereka hanya kenal konsep enak dan tidak enak. Padahal untuk menjadi dewasa, anak harus tau juga konsep perlu dan tidak perlu, dan mau tidak mau harus belajar dan menguasai hal-hal baru yang akan ditemui di perjalanan hidupnya.

Peranan orangtua yang penting dalam proses melatih berpikir ini bagaimana? Beberapa contoh praktis bisa diterapkan, seperti :

  1. Jangan mau sekedar jadi bumper atau pelindung dan menyelesaikan semua masalah anak. Secara bertahap, perkenalkan anak kepada konsekuensi tindakannya. Kalau dia lupa membawa PR (pekerjaan rumah), konsekuensinya di sekolah kena hukuman. Meski ceritanya kita ini the runner mama, jangan mau tunggang langgang lari ke sekolahnya, kalau  memang ketinggalannya PR itu karena kesalahan anak. Kalau anak  belum membereskan mainan, maka dia belum boleh melakukan kegiatan selanjutnya, dan hal-hal praktis lainnya yang intinya memperkenalkan anak pada konsekuensi meskipun itu tidak enak.
  2. Orangtua juga jangan bersikap otoriter, memutuskan segala sesuatu untuk anak. Izinkan anak memilih, sesuai kapasitasnya. Mulai dari hal-hal yang kecil saja, yang konsekuensinya masih bisa ditanggung anak. Berikan pilihan soal hal-hal yang enak versus enak atau tidak enak versus tidak enak, ini akan melatih anak untuk belajar memilih. Ini akan memberi kesempatan kepada anak untuk belajar, termasuk di dalamnya belajar kecewa dan mengelola rasa kecewanya.

Contohnya? Karena pilihan enak atau tidak enak sudah anak bawa secara naluriah dari kecil dan pastinya memilih yang enak, maka yang diajarkan adalah memilih antara enak VS enak dan tidak enak VS tidak enak.

  • Pilihan Enak versus Enak, contohnya : mau coklat atau mau es krim? Mau berenang atau mau main sepeda? Mau dua-duanyaaaa! Biasanya begitu kan jawabannya.. Eits, pilih salah satu!
  • Pilihan Tidak Enak versus Tidak Enak :

Mau bereskan mainan yang ini dulu atau bereskan meja yang berantakan dulu?

Nggak mau dua-duanyaaaa! Eits, harus pilih salah satu!

Mengajarkan anak memilih seperti ini akan membantu dirinya berpikir dan terbiasa untuk tidak serakah saat ada banyak pilihan hal menyenangkan di hadapannya, dan di lain pihak juga tidak lari dari tanggung jawab saat dihadapkan ke pilihan keadaan yang tidak menyenangkan.

Dan tau nggak, sebagai orangtua, ternyata saat kita memilih antara enak VS enak dan tidak enak VS tidak enak itu juga tidak mudah, loh. Coba deh bawa ke diri sendiri:

Mau si Kate Spade atau mau Coach? Mau dua-duanyaaaa!

Mau mengepel dulu atau mau cuci clodi yang sudah menumpuk dulu? Nggak mau dua-duanyaa!

Nah, lebih baik selamatkan anak-anak kita dari masalah yang tidak perlu  di masa dewasanya dengan mengajarkan anak berpikir sedini mungkin. Setuju? Biar kita juga lebih siap kalau ternyata nanti anak-anak diterima di MIT atau Royal Ballet Academy nan jauh di mato,   gitu kan.