Family Friday: Lula Kamal, “Couple Time Itu Penting”

Di rumah, saya dan suami selalu membudayakan kebiasaan nyuci tangan. Nggak hanya sebelum dan sesudah makan, tapi juga untuk hal-hal lainnya. Misalnya, setelah kami buang hajat besar ataupun kecil, termasuk saat baru pulang berpergian. Biar gimana kan, di antara anggota tubuh lainnya tangan merupakan organ tubuh yang paling banyak menularkan berbagai penyakit menular. Bahkan penyakit yang  ditularkan oleh tangan mencapai bisa mencapai 80%. Salah satunya adalah diare, penyebab utama kematian terbesar pada balita. Padahal, kalau dipikir-pikir, cara pencegahan penyakit ini kan begitu mudah. Tinggal cuci tangan pakai sabun di air yang ngalir.

Ngomongin soal kebiasaan cuci tangan, Lula Kamal yang berprofesi sebagai dokter pun sangat concern dengan urusan yang satu ini. Hal ini juga nggak terlepas akan perannya sebagai ibu yang harus memperhatikan kesehatan dan kebersihan keluarga. Nggak heran, kalau akhirnya perempuan berdarah Arab, Sunda dan Betawi  dipercaya jadi Brand Ambassador Dettol.

Nah, beberapa waktu lalu saya sempat ngobrol bareng dengan ibu dari Kyla Tahira, Karim Muhammad Tirta Sasmita dan Halil Muhammad Tirta Sasmita. Berikut kutipan obrolan saya, mudah-mudahan banyak pelajaran yang dipetik.  Apalagi obrolan saya waktu itu akhirnya sampai melebar ke persoalan couple time. Ternyata, sesibuk apapun Mbak Luna dan suami, mereka tetap punya agenda kencan berdua, lho!

Bagaimana, sih, cara Mbak Lula mengajarkan anak-anak akan pentingnya kebersihan?

Dari kecil memang harus sudah mulai diajarkan dan diterapkan, yah. Pertama-tama pasti ngajarin buang sampah dulu. Coba, deh, pilih tempat sampah yang model diinjak. Setelah aku perhatikan, di mana-mana anak kecil suka banget buang sampah di tempat sampah yang ada injakannya. Kemudian, yang paling juga, mulai ajarin cuci tangan. Lagipula, pasti semua anak-anak pasti suka, deh, cuci tangan karena bisa sambil main air.

Hahaha, iya, mbak… kalau saya malah suka geregetan karena malah jadi lebih banyak main airnya.

Ya, kalau buat aku, sih, nggak mau dibikin ya. Ingat saja kalau ke depannya, anak kita ini akan  rajin cuci tangan. Soalnya generasi kita masih banyak lho yang nggak biasa cuci tangan. Taunya, cuci tangan kalau mau makan saja. Malah ada yang suka komentar, buat apa cuci tangan, tho makannnya pakai sendok. Iya, sih, makan pakai sendok, tapi makan kerupuknya? Pasti ada, deh, yang tetap menggunakan tangan.

Kalau untuk makanan untuk anak-anak bagaimana, mbak?

Kebetulan anak-anak aku yang kembar lactose intolerance, jadi mereka nggak bisa seperti anak-anak lain yang bisa banyak makan coklat, susu, atau keju. Jadi dari awal aku memang sudah kasih tau kondisinya ke anak-anak, ‘Mama, Cuma bisa kasih segini, ya. Soalnya kalau terlalu banyak, nanti bisa sakit perut dan  pupu kamu jadi asem’. Alhamdulillah kalau dikasih pengertian, mereka bisa ngerti. Malah jadi suka nggak tega kalau mereka yang akhirnya bilang duluan, ‘Aku cuma boleh makan sedikit, ya, Ma’.

*foto bareng si kembar Kamal-Khaleel (3,5 th) diambil dari twitter Mbak Lula

 

Lula tipe ibu yang seperti apa, sih?

Emosi jiwa, hahahaha. Ini bener, lho. Kalau lagi ngajarin anak-anak, itu suka bikin emosi jiwa. Kalau sudah disuruh belajar, malah tidur ke atas. Padahal masih ada tugas. Akhirnya malam-malam bangun, nangis karena ingat masih ada tugas dan belum selesai. Wah, this is story of my life , deh! Padahal pelajaran anak kelas 5-6 SD sekarang ini kan sudah lumayan ruwet, ya, tapi kalau anak-anak sedang belajar sama saya, mereka yang suka santai banget. Memang, sih, tau-taunya hasilnya bagus. Tapi kan kalau nggak mau belajar, kita ibunya yang jadi kesal.

Nggak cuma sama pasangan yang harus penuh toleransi, ya, Mbak. Sama anak juga seperti itu…

Iya. Padahal saya menerapkan ke anak-anak, di hidup ini mereka boleh nawar apa pun ke saya sebagai ibunya. Tapi ada dua hal yang nggak boleh ditawar, sekolah dan ibadah. Saya bukan tipe ibu yang suka menghukum anak. Kalaupun ada hukuman itu pun hasil diskusi bareng anak-anak dan mereka sendiri yang memilih mau konsekwensi seperti apa.

Punya peran ya begitu banyak, sebagai dokter, pembicara di berbagai seminar sekaligus ibu dan istri , gimana sih cara Mbak Lula bagi waktunya?

Biar bagaimana pun, prioritas utama aku itu adalah menjalankan peran sebagai  ibu. Sampai sekarang aku masih nggak bisa terima kerjaan kalau memang waktunya terlalu menyita atau sampai jauh malam. Sekarang, aku hanya praktik dua kali dalam seminggu. Itu pun sesuai dengan perjanjian. Biasanya yang padat itu memang saat kasih seminar. Tapi kalau memang waktunya sampai malam, ya, nggak bisa diambil. Bahwa ada rezeki yang akan hilang, ya, nggak apa-apa. Itukan bagian dari kehidupan dan pilihan aku sekarang ini mengutamkan jadi ibu. Pekerjaan benar-benar aku filter. Mau sekalah saja masih aku tunda dulu karena anak masih umur 3,5 tahun, masih butuh banyak perhatian. Bahkan waktu bareng suami sekarang bisa jadi prioritas akhir.

Wah, terus bagaimana dengan couple time dong, Mbak?

Nah itu yang susah. Sampai sekarang akhirnya couple time itu nggak bisa saya prioritaskan dulu. Kita berdua, sih, sangat merasa kalau waktu untuk berdua sangat susah. Memang ada gadget yang memudahkan kita untuk komunikasi, tapi itu pasti masih kurang. Biar bagaimana secara fisik juga perlu ketemu.

Belakangan, sih, akhirnya saya dan pasangan suka janjian cari waktu yang kosong untuk jalan. Kalau perlu kita ke hotel, ya, ke hotel. Kalaupun akhirnya sampai menginap, itupun harus memastikan kondisi anak-anak aman, ada yang jaga. Soalnya couple time itu penting.

Mbak, badannya masih langsing aja, deh! Kasih kiat hidup sehatnya, dong!

Hahaha, kalau Mbak perhatikan empat atau lima bulan yang lalu, sekarang ini aku baru nurunin 11 kg. Kemarin memang sempat coba ngejalanin diet bahagia.

Diet bahagia seperti apa, Mbak?

Intinya sih, aku tetap makan makanan yang aku suka. Jadi awalnya aku membuat list makanan apa saja yang aku suka dan kemudian aku hitung kalorinya. Dari sekian banyaknya makanan itu aku akan pilih makanan yang paling sehat dan kalorinya rendah. Tapi intinya aku harus suka.  Soalnya gini, permasalahan aku kalau aku dikasih makanan yang sehat tapi nggak aku suka, aku nggak puas. Kenyang, tapi rasanya jiwa aku nggak makan, gitu, lho.

Makanan sehat yang akhirnya sering mbak pilih?

Aku memang suka banget sama salad, terutama saladnya orang Arab yang disiram jeruk nipis. Tapi kalau makannya terlalu sering, kadang bosen sih. Jadi aku suka siram dengan dengan kuah pempek. Itu enak banget, lho! Kalau selama ini suka makan pempek pakai ketimun, sekarang coba dengan tambah dengan wortel, paprika, selada. Itu rasanya juara banget, lho. Rasanya juga kenyang dan puas!

Kalau olahraga?

Oh, iya, dong. Tapikan olahraga itu ibaratnya pendamping. Kalau masuk dan keluar makanannya nggak diatur, ya, bisa percuma juga. Sekarang sih yang rutin paling tredmil di rumah. Kemarin sempat ikutan pilates, apalagi aku punya maslah sama tulang belakang.

————-

Wah, banyak banget, nih, insight yang bisa saya ambil. Oh, ya, kapan-kapan saya mau coba, ah, resep makanan sehatnya Mbak Lula :D

 

 


Post Comment