Inside Sazki’s Kitchen

Tahun lalu, Alhamdulillah, kami mendapatkan rejeki approval KPR atas rumah mungil yang kemudian disebut si #47 (iya, rumahnya di kavling 47, hehe). Tiga bulan pertama beres-beres, merasa yakin bisa segera pindah ke sana, namun akhirnya saya bilang ke suami kalau saya ingin membuat dapur yang rapih sebelum kami resmi pindah. Manja, ya? Tapi keinginan manja itu diiyakan oleh suami, loh! Hehee

Ternyata, membuat dapur itu tidak murah dan mudah, ya! Maklum newbie di dunia renovasi, hahaha. Untung ada thread Kitchen Set yang isinya canggih banget dan bikin saya kagum. Betapa pintarnya Mommies di forum, dari mulai jenis pelapis kayu, handle rak dari yang paling mahal sampai yang murah, kitchen sink yang ternyata harganya jutaan dan berpengaruh pada kinerjanya, kran air yang banyak banget jenisnya, varian backsplash biar nggak terlalu mainstream pakai mozaik selayaknya dapur di tahun 2013 ini, sampai bagaimana cara memaksimalkan isi setiap rak agar kitchen set yang memang membutuhkan banyak biaya tidak mubazir. Saya mencari pengetahuan di thread ini agar tidak bodoh ketika menyampaikan keinginan ke tukang dan mengerti istilah yang juga pasti disampaikan oleh tukangnya.

Jadi awalnya dapur di rumah kami begini bentuknya :
20131121-165905.jpg

Kemudian saya mencoba peruntungan tanya via Path. Saya mencari tukang yang andal untuk mengerjakan dapur. Sebelumnya di Jakarta, saya sudah punya tukang, tapi tidak mungkin dibawa ke Bandung. Pucuk dicinta, info tukang datang. Teman saya memberikan kontak ke Pak Dedi, yang ternyata bisa mengakomodir keinginan saya. Jadi saya ngomong maunya apa dan  bentuknya bagaimana, Pak Dedi berusaha menggambarnya. Selesai mengobrol, inilah hasil gambarnya :

Awalnya untuk menekan budget, saya minta Granit tile saja untuk bagian atas mejanya. Tapi kemudian setelah dihitung, hanya selisih sekitar Rp800.000,- Akhirnya saya tetap memakai batu granit. Lapisan kayunya memakai HPL Artfoam, tanpa handle. Warnanya putih glossy, dengan satu lemari tanpa pintu berwarna hijau lime. Highlight rak hijau ini idenya datang dari Pak Dedi. Saya setuju dan hasilnya memang cantik. Backsplash tetap memakai mozaik, tinggal tambah sedikiti untuk memenuhi panjangnya ruang. Tadinya mau pakai kaca, tapi karena budget terbatas, menyambung mozaik menjadi pilihan kami. Pengerjaannya memakan waktu 3 minggu. Seperti ini jadinya :

20131121-163839.jpg

Nah, sebetulnya pojok kanan itu untuk mesin cuci. Niatnya memang dibawa sekalian ketika pindahan, jadi masih kosong ketika difoto kemarin. Free standing cooker beli pas lagi promo di salah satu toko elektronik di daerah ABC, Bandung. Gratis cooker hood! Yaaayy, Alhamdulillah. Padahal dapur kami ada di bagian belakang rumah yang terbuka, tapi karena dapat cooker hood gratisan yang tadinya tidak ada di list sama sekali, ya, dipakai saja.  Detailnya seperti ini:

Rak berpartisi itu membantu memuaskan keinginan saya untuk tetap menjaga dapur rapih dan semua ada di tempatnya. Laci paling bawah jadi tempat beras, baskom pencuci buah dan ulekan. Gas ditempatkan didalam lemari bawah sink sekaligus untuk menyimpan alat pembersih dapur dan kamar mandi. Sebelum dibuat, semua fungsi saya sampaikan ke Pak Dedi, jadi daya bebannya disesuaikan. Bumbu dan kawan-kawannya ada di rak tengah yang diatas cooker hood. Didalamnya ada rak stainless untuk menjaga agar tetap rapih. Rak atas ini tadinya mau dibuat sampai mentok ke plafon, tapi plafon dapur saya miring, jadi batal, untuk menghemat biaya ;)

Okay, dapur sudah jadi dan rapih. Saatnya pindahan edisi terakhir, dan menempati rumah yang cicilannya baru beres kira-kira pas Menik SMP, haha.


11 Comments - Write a Comment

Post Comment