Motherhood Monday: Ratih Ibrahim “Jadi Orangtua Yang Asyik Saja”

Dari dulu saya sudah nge-fans dengan psikolog yang satu ini, Dra Ratih Andjayani Ibrahim, MM Psi. Setiap kali melihatnya di layar kaca sebagai pembicara ataupun saat mengikutinya di timeline twitter, yang ada dipikiran saya, Mbak Ratih ini mempunyai  pembawaannya yang easy going, ceplas ceplos dan perempuan yang fun.

Ternyata, kenyataannya memang begitu, lho! Hal ini bisa saya tangkap ketika menghadiri jumpa pers dan  waktu mengikuti seminar parenting di Jakarta Kids Festival beberapa hari lalu. Kebetulan beliau adalah salah satu pembicaranya. Beruntung, waktu itu saya sempat ngobrol dengan ibu dari Renald (15) dan Rafael (14) ini. Mudah-mudahan lewat berbincangan saya dengan pemilik Personal Growth ini banyak insight yang bisa diambil.  Berikut kutipannya, ya, Mommies…

Di tengah kesibukan berkerja, biasanya ritual apa sih yang Mbak Ratih lakukan bersama keluarga?

Setiap hari saya bangun tidur itu jam 5 pagi.  Langsung beres-beres, bikin sarapan dan temenin anak dan suami sarapan. Nah itu merupakan quality time saya dengan keluarga di pagi hari. Setelah itu saya baru, deh, pergi kerja.

Saya kerja dengan intensitas yang sangat tinggi, tapi saya tetap membatasi kerja sampai jam 5 dan 6 sore saja. Pokoknya kerjanya kecepatannya harus sampai maksimal. Dengan begitu saat sudah di rumah, nggak perlu pengang kerjaan lagi. Lagipula badankan juga sudah terlalu capek. Saya juga bisa istirahan dan menjaga badan supaya baterainya juga nggak rusak. Maklum, usia kan juga sudah nggak muda lagi, hahaha. Biasanya, kalau sudah di rumah, telepon atau BBM juga akan saya cuekin saja, tuh.

Nah, kalau hari Minggu, kita semua lagi punya hobi baru. Pagi-pagi,  kita senang jalan ke  car free day. Kalau nggak, ikutan event running sama anak-anak. Tadinya iseng-iseng saja, tapi akhirnya jadi ketagihan. Tapi kalau anak-anak larinya serius, saya sih nggak. Awalnya sih memang lari, tapi lama-lama akhirnya jalan. Kalau sudah mau garis finish, baru deh lari, lagi, hahaha. Yah,namanya juga sudah mamak-mamak, ya.

Usia anak Mbak Ratih sekarang ini, kan sudah 15 dan 14 tahun. Sulit nggak, sih, mendidik anak dalam masa puber?

Ah, biasalah… kalau di twit saya suka cerita bagaimana saya sudah menerapkan disiplin ke anak-anak sejak mereka masih kecil. Kalau ada yang bertanya, apa anak saya lebih rapi, rajin, dan lebih baik dari anak-anak lainnya? Nggak bandel? Ya nggak begitu. Anak saya sama saja seperti anak-anak lainnya. Just normal. Tapi dari dulu ada 3 hal yang selalu saya terapkan ke anak-anak, jujur, rajin dan harus hormat sama orangtua.  Jika sudah dipupuk dari kecil, besarnya juga sudah akan lebih gampang. Mereka bisa respect sama orangtua.

Yang perlu diingat, mendidik anak itu juga kita harus komit dan konsisten dengan apa yang kita lakukan ataupun bicarakan. Dulu, nih, waktu anak saya masih balita saya sering bawa ke acara jumpa pers seperti ini. Kalau mau ada interview, saya akan menjelaskan kalau saya butuh waktu 10 menit. Kalau sudah 10 menit, ya , sudah. Jadi itu akan mendisiplinkan diri dan anak akan tahu bahwa kita bisa menepati apa yang kita katakan sehingga anak pun bisa respect. Konsiten dan konsekuen saja dengan apa yang kita bicarakan. Investasi mendidik anak harus dimulai sejak kecil.

Sekarang ini style parenting sudah banyak sekali. Salah satu contoh misalnya yang mengajarkan jangan terlalu banyak melarang atau mengatakan tidak untuk anak. Bagaimana pendapat Mbak Ratih?

Aku tuh percaya, anak-anak dititipkan dengan kita untuk diajarkan mana yang baik dan nggak. Kita sebagai fungsi kontrol anak-anak. Contoh kasusnya, misalnya Dul. Kalau saya lihat kejadian itu bisa terjadi, ya, karena nggak ada fungsi kontrol orangtuanya di rumah.

Coba, deh, tanya ke anak-anak saya ini mendidik mereka seperti apa? Pasti jawabannya pasti mama galak, cerewet bawel. Ya, nggak apa-apa, orangtua memang seperti itu. Itu semua memang sudah ada, kok, di SOP semua orangtua.

Jadi orangtua, yang asik saja, jujur apa adanya. Kalau sudah didik dari kecil, ini akan jadi habit. Sehingga kalau sudah nggak jujur akan ketahuan juga. Lagi pula kalau anak sudah terbiasa untuk jujur, seberapa sih bisa dia menutupinya dari orangtua? Nggak bisa juga, kok. Nggak perlu jadi psikolog untuk tahu kondisi anak-anak.

Hehehehe…  tapi jadi orangtua itu memang susah, yah, Mbak, Nggak pernah ada sekolahnya…

Memang jadi orangtua nggak pernah ada sekolahnya. Tapi ingat, deh, sebenarnya, kita pernah berguru dengan pakar parenting? Siapa coba? Orangtua kita sendiri. Jadi, kita sebenarnya punya guru, kok. Bercermin saja dengan mereka.

Mbak Ratih & keluarga (foto diambil dari Facebook Mbak ratih Ibrahim)

Tapi, pola asuh zaman dulu dan sekarang kan bisa dibilang sudah berbeda, Mbak…

Ya, kalaupun mungkin orangtua kita memang nggak sempurna, kita sempurnakan dengan ilmu yang kita punya sesuai dengan perkembangan zaman. Misalnya pola asuh yang kita terapkan untuk anak berbenturan dengan orangtua, ya, nego saja dengan mereka. Dari sana nanti akan timbul persepsi kalau pola asuhnya akan sama.

Oh ya, Mbak… sekarang ini banyak orang tua yang well plan sampai mengikuti anak-anaknya dengan berbagai tes dan konsultasi dengan psikolog, sebenarnya perlu nggak, sih, Mbak?

Why not? Tapi kalau dibilang wajib, memang nggak, sih. Kalau mau dilakukan,  ya, nggak apa-apa. Hidup anak-anak itu  seharusnya lebar,  justru terkadang dengan assessment itu akhirnya bisa membuat hidup anak jadi mengerucut. Orangtua kadang suka salah persepsi.  Jika dibilang anaknya bakat seni, langsung saja di kasih les piano. Padahal, seni itukan sangat luas. Untuk itu kita beri fasilitas sebanyak-banyaknya dan biarkan anak bereksplorasi. Assessment itu sebenarnya  membuat kita lebih realistis saat mengarahkan anak.

Kapan waktu yang tepat untuk berbagai assessment tersebut dilakukan? Finger print, misalnya?

Saya tidak menyarankan dilakukan pada anak yang masih kecil. Soalnya orangtua malah jadi bisa parno. Oh, bakatnya musik, lantas anaknya digeber les musik. Jadi lupa kalau ada olahraga atau bidang lain yang perlu dieksplorasi. Saya, sih, menyarankan untuk dilakukan saat anak kita sudah SD.

Mungkin, jadi orangtua jangan terlalu parno, yah, Mbak?

Hahhaha, bener banget. Jadi orangtua yang asik dan santai saja. Dan yang pasti jadi orangtua itu harus percaya diri kalau anak yang dimilikinya adalah anak yang sempurna. Bagaimana kita bisa paham dengan betul dan kenal dengan anak-anak kita, sehingga kita bisa tahu apa yang dibutuhkan oleh anak. Saya percaya Tuhan memberikan anak yang sempurna. Kalau pun anak kita beda dengan anak orang lain, ya, nggak apa-apa, Kebayang nggak kalau anak kita ini seragam kaya seragam baju PKK? Nggak asik, kan? hahaha… Ibu mertua saya bilang, kalau kita kalau punya 5 anak, sama seperti punya lima jari. Mana yang lebih bagus? Semua bagus.


—————-

Menarik banget kan, Moms? Saya yakin, banyak Mommies yang bisa mengambil pelajaran dan mengaplikasikannya di rumah. TFS, Mbak Ratih. Jangan kapok, yah, kalau saya ajak ngobrol :D


3 Comments - Write a Comment

  1. Pasti nggak, Adiesty! Mbak Ratih Ibrahim itu seneng banget diajak ngobrol, bisa berjam-jam! :D
    Gue belajar banyak soal parenting dari Mbak Ratih pas dulu kerja di kantornya, meski dulu masih lajang. ternyata sekarang jadi bekal yang mumpuni, hehehe.

    Setuju sama kalimat terakhirnya, kalau punya lima anak sama seperti lima jari, semuanya bagus!

Post Comment