Liburan Ke Bromo, What To Do?

Nah, sudah sampai Bromo, what to do?

Sunrise di Pananjakan 1

Salah satu momen yang tidak boleh dilewatkan adalah menyakiskan peristiwa matahari terbit yang sangat indah pada bulan-bulan tertentu di musim kemarau,  karena langit akan bersih (tidak terhalang oleh awan) yang membuat momen terbitnya matahari akan terlihat lebih jelas.

Sebagai informasi, kendaraan mobil atau bus pribadi tidak diijinkan untuk masuk sampai ke depan lokasi wisata. Mobil-mobil pribadi ini harus diparkir pada tempat yang sudah disediakan untuk kemudian berganti dengan mobil Hard Top yang sudah siap disewakan bagi pengunjung. Harga sewa mobil Hard Top ini tergantung pada berapa lokasi wisata yang akan kita kunjungi:  apakah hanya sampai ke Sunrise di Pananjakan dan Kawah Bromo atau juga sampai ke Bukit Teletubies dan Pasir Berbisik.

Pada tahun 2013, bila hanya memilih 2 lokasi utama (Pananjakan & Kawah Bromo), harga sewa per mobil Hard Top adalah Rp450.000. Dan bila kita menambah rute wisata ke Bukit Teletubies dan Pasir Berbisik maka biasanya akan ada tambahan biaya sebesar Rp200.000  per mobil.

Cuaca saat menunggu matahari terbit di Pananjakan ini sudah pasti luar biasa dingin, dan akan jauh lebih dingin pada musim kemarau. Pada musim hujan, udara akan tetap dingin tapi tidak sedingin di saat musim kemarau. Untuk mengatasi cuaca dingin ini, selain berkostum lengkap seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kita juga bisa menghangatkan tubuh dengan membeli secangkir teh panas di deretan warung yang banyak terdapat di pintu masuk Pananjakan.

Dan yang perlu diketahui adalah pada musim liburan yang biasanya padat pengunjung, saat mobil Hard Top sudah parkir, maka kita harus berjalan kaki di tengah hiruk pikuk dan berjejalan di antara motor-motor ojek, mobil-mobil Hard Top yang antre berjejer mencari parkir dan rombongan wisatawan yang sedang berjalan kaki menuju ke Pananjakan.

Di sinilah kita harus mulai waspada menggandeng ataupun menggendong anak-anak kita terutama yang masih kecil. Karena semua itu terjadi jam 3-4 pagi di mana biasanya pada jam ini mereka masih terlelap dalam tidurnya. Bila mobil Hard Top kita dapat parkir agak jauh di belakang, maka kita pun harus berjalan kaki sejauh itu. Membawa stroller pun tidak akan membantu karena suasananya yang padat  berjejal dengan asap dari knalpot motor ojek dan mobil-mobil Hardtop.

Jadi solusinya kenakanlah masker penutup hidung dan gendonglah anak balita kita atau menyewa ojek yang banyak ditawarkan disana. Bila kita memutuskan untuk menyewa ojek, pastikan anak harus ada yang mendampingi atau diapit di antara tukang ojek dan orangtuanya (satu motor bisa bertiga).

Bagi keluarga muslim, bila adzan Subuh tiba, maka kita bisa melaksanakan sholat Subuh di 2 musholla kecil nan sederhana yang ada di Pananjakan. Akan lebih mudah bila kita sudah memiliki wudhu sejak dari penginapan supaya tidak lagi harus antre panjang saat di musholla.

Saat di Pananjakan, sesaat setelah sholat Subuh inilah saat-saat terbaik akan dimulai..di mana sebelumnya Gunung Bromo, Gunung Batok dan Gunung Semeru yang semula masih gelap, sedikit demi sedikit terlihat jelas seiring dengan terbitnya Matahari di sebelah timur atau di sisi kiri dari pintu masuk Pananjakan.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, sunrise terbaik terjadi pada musim kemarau atau minimal tidak habis hujan di malam harinya. Karena bila hujan di malam sebelumnya, maka keindahan matahari terbit akan tertutup oleh awan dan akan “sedikit” mengurangi kecantikannya.

Satu hal yang disayangkan di Pananjakan ini adalah tidak adanya larangan merokok, mungkin karena suhu udara sangat dingin sehingga banyak yang merokok untuk menghangatkan tubuh. Bila anak-anak alergi asap rokok, maka segera kenakanlah masker penutup hidung dan carilah lokasi lain di Pananjakan yang jauh dari asap rokok.

Kawah Gunung Bromo

Setelah selesai menikmati keindahan Bromo dari atas di Pananjakan, mobil Hard Top sewaan akan langsung segera membawa kita ke bawah untuk bersiap menaiki kuda menuju ke kawah Gunung Bromo sebelum matahari semakin terik.

Biasanya di sinilah perut mulai keroncongan dan minta diisi sarapan pagi. Kebetulan di sekitar halaman parkir mobil-mobil Hard Top sewaan ini terdapat banyak penjaja makanan dan minuman ringan. Lokasi toilet umum di dekat Kawah Bromo ini adalah tepat di depan Pura Luhur Poten. Disana ada sekitar 4 pintu toilet umum dan kondisinya cukup bersih walaupun gelap (tempatnya tertutup dan tanpa lampu).

Setelah sarapan agar kuat menaiki 250 anak tangga menuju Kawah Bromo, mulailah kita tawar menawar harga sewa kuda. Biasanya harganya semakin mahal di saat musim liburan. The most fun part for the kids is: naik kuda beramai-ramai dengan pemandangan yang luar biasa! Saat menaiki kuda ini, kenakanlah masker penutup hidung untuk menghindari debu-debu pasir yang berterbangan, terutama saat musim kemarau. Bila perlu, kenakan pula kacamata untuk menghindari mata kemasukan debu pasir saat angin bertiup. Repot banget ya? Hehe , lumayan..tapi kerepotan  ini gak sebanding nilainya dengan petualangan seru yang akan terekam di memori kita dan anak-anak kita.

Saat kuda telah sampai di kaki anak tangga menuju Kawah Bromo dan mengharuskan kita turun dari kuda , awasi terus anak-anak karena di tempat ini terdapat lumayan banyak jurang curam tanpa pagar pembatas.  Segeralah saja bersiap menaiki 250 anak tangga Kawah Bromo. Bila anak menolak naik karena merasa tangganya terlalu banyak, kita bisa menggunakan jasa gendong anak yang banyak ditawarkan di sana.

Jasa Gendong Anak

Sedikit catatan untuk “jasa gendong anak” di Bromo ini: bila tangga menuju kawah sedang penuh atau antre banyak orang, para penggendong anak ini tidak mau naik lewat tangga, tapi memilih berjalan mendaki di sisi-sisi samping tangga menuju kawah! Jadi anak-anak yang mereka gendong pun akan tiba duluan di tepi kawah daripada orangtuanya..tapi jangan khawatir, mereka bertanggung jawab dan sabar menjaga dan memegangi anak kita sampai orangtuanya datang.

Jasa gendong anak di Bromo ini sebenarnya sangat membantu terutama bagi orangtua yang membawa anak-anak, karena menaiki 250 anak tangga itu bukan perkara mudah bagi orang dewasa, apalagi anak-anak. Nafas yang mulai ngos-ngosan dan ada kemungkinan di tengah perjalanan si kecil merengek minta digendong karena mulai kecapekan. Biasanya walaupun saat di kaki tangga kita menolak jasa gendong yang ditawarkan, mereka akan tetap mengikuti kita di sisi tangga, sehingga bila anak mulai merengek kecapekan, mereka dengan sigap akan kembali menawarkan jasa gendongnya, yang biasanya tidak akan ditolak oleh para orangtua . Namun mungkin ada baiknya kita meminta kepada mereka untuk menggendong anak kita di tangga bukan mendaki di sisi luar tangga seperti yang biasa mereka lakukan, sehingga sebagai orangtua pun kita tenang karena tetap bisa mendampingi anak kita walaupun digendong oleh orang lain.

Jasa gendong anak pada tahun 2013 biayanya adalah Rp. 50.000,- sekali jalan (ke atas saja), kalau pulang pergi (ke bawah lagi) mereka minta Rp.100.000,- Tapi biasanya harga mereka bisa ditawar walaupun hanya turun sedikit. Bagi beberapa keluarga dengan anak-anak yang masih kecil, jasa gendong anak ini sangat membantu dan juga sekaligus membantu perekonomian si penggendong :)

Namun bila anak tetap menolak naik tangga ke Kawah dan juga menolak jasa gendong  anak ini, jangan dipaksakan ya..karena saat di puncak Kawah Bromo pun lokasinya lumayan menegangkan. Pagar pembatas di bibir kawah yang hanya setinggi pinggang orang dewasa ini tidak berfungsi secara maksimal (ada pagar pembatas tapi bolong di bagian tengahnya).

Saat di tepi bibir kawah Bromo, pegang erat tangan anak-anak , jangan pernah dilepas, karena pagar yang bolong ini lah satu-satunya pembatas antara tempat wisatawan berdiri dan jurang menuju kawah *glek*tegang*

Puas melihat Kawah dan foto-foto di bibir kawah, segeralah turun agar bisa bergantian dengan pengunjung lainnya…dan masih ada 2 tempat lagi yang wajib dikunjungi: Bukit Teletubies (Padang Savanah) dan Pasir Berbisik (Lautan Pasir)!

Bukit Teletubies (Padang Savana)

Disebut demikian karena gundukan-gundukan bukit yang hijau, bersih dan rapi itu layaknya bukit rumput hijau di film anak-anak ”Teletubbies” yang sempat terkenal beberapa tahun lalu.

Bukit Teletubies akan nampak coklat pada musim kemarau panjang dan padang rumput di sekitarnyapun akan terlihat gersang, pasir dan debu sesekali beterbangan dibawa angin. Inilah sebabnya kita sebaiknya datang pada bulan setelah musim hujan namun belum terlalu masuk ke musim kemarau (bulan Juni – Agustus), sehingga Mommies masih sempat mendapati hijaunya rerumputan di Bukit Teletubies dan indahnya Matahari terbit yang bersih dari awan hujan di Pananjakan.

Di Bukit Teletubbies ini kita tidak hanya bisa foto-foto dengan latar belakang pemandangan yang cantik lho..Kalau belum lelah dan ingin pengalaman baru, bisa coba menyewa kuda atau berjalan kaki mendaki bukit-bukit hijau yang terlihat seperti gambar bukit di buku-buku dongeng. Lumayan jauh juga siy jalannya untuk menuju ke bukit-bukit ini, jadi sebaiknya tidak usah dipaksakan bila anak-anak terlihat lelah.

Pasir Berbisik

Padang pasir ini pernah menjadi lokasi shooting sebuah film yang berjudul “Pasir Berbisik”, yang dibuat oleh sutradara terkenal Indonesia yaitu Garin Nugroho dan dibintangi oleh Christine Hakim dan Dian Sastro. Sejak itu lautan pasir ini terkenal dengan sebutan Pasir Berbisik.

Kawasan ini seperti kebalikannya kawasan Bukit Teletubbies yang hijau karena di padang pasir ini nyaris tak ada sehelai tumbuhan pun mencuat dari tanah. Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah gundukan pasir dan dinding-dinding bukit dengan padatan pasir abu-abu pucat. Biasanya Pak Supir Jeep Hard Top sewaan akan menjelaskan kenapa kawasan ini disebut sebagai Pasir Berbisik: yaitu karena kalau kena angin, permukaan pasir ini menimbulkan suara berdesing nan merdu , seperti berbisik.


Walaupun gersang dan seperti tidak ada kehidupan, sempatkanlah turun dari mobil dan rasakan ketenangan dan keindahan suasana lautan pasir yang teksturnya kadang bergelombang karena tiupan angin dan berkilau dari kejauhan karena pantulan sinar matahari ke batu-batu pasir.  Dan…coba dengarkan, bila ada angin bertiup..apakah pasir-pasir itu akan mengeluarkan suara berdesing seperti yang diceritakan banyak orang sebagai “Pasir Berbisik”..

Nah, gimana? Sudah ada bayangan kan, kalau pergi ke Bromo ngapain aja? Seru banget dan yang pasti bikin kita semua berulang kali bersyukur akan keindahan alam Indonesia!

 


3 Comments - Write a Comment

  1. Subhanallah, pemandangan Bromo cantik bangetnget, padahal baru liat di artikel aja uda takjub to the max apalagi liat langsung… artikelnya informatif sekali dan lengkap infonya.. jadi pengen liburan ke Bromo.. kira2 anak usia berapa ya yang nyaman untuk diajak ke Bromo?
    Btw, thanks for sharing..

  2. Saya sdh pernah ke Bromo sekitar 6 th yg lalu.. n based on the experience, rasanya saya ga rekomen anak2 balita dibawa ke sana. Kita yg dewasa capek luar biasa.. selain medannya berat, cuaca cukup ekstrim (dinginnn bgt), harus pagi2 buta, ramai bgt pengunjung, toilet yg kurang, dan lokasinya pun rasanya kurang ramah anak. Ditambah kalau anak capek, tdk mungkin jg pakai stroller. Mungkin kalau anak2nya sdh 8 – 10 th dan biasa hiking, akan lebih menyenangkan.

Post Comment