Eyes on Growth Chart, Mommies!

Setelah melahirkan, komentar “Wah, lucu banget bayinya.. chubby!” atau “Beratnya berapa? Bulat, ya! Gemes, deh!” sering terdengar di telinga. Beberapa bulan kemudian, ada dua jenis komentar yang bisa terdengar, “Ya ampun, sehat bener! ASI aja atau pakai tambahan?” atau “Anakmu langsing, ya! Susah ya, makannya? GTM emang hal yang biasa sih, sabar ya..”

 

Gemes nggak, sih, dengar komentar-komentar seperti ini? Walau bisa mengondisikan untuk cuek, tapi kan telinga tidak bisa berhenti mendengar. Baru-baru ini ada teman yang tinggal di Jepang, curhat kalau anaknya sering disebut bayi obesitas. Sebaliknya, kakak sepupu yang bersusah payah setelah kehilangan anaknya untuk punya anak lagi, sekarang juga sedang akrab dengan komentar “anaknya kurus banget, deh! Naikin dong BBnya.” Duh, kayaknya kalau tidak kasih komentar soal berat badan anak, tuh, ada yang kurang, ya?

Inilah mengapa kita (ibu-ibu yang senasib suka diomongin berat badan anaknya) perlu mendedikasikan diri untuk mencatat perkembangan berat badan, tinggi badan, serta lingkar kepala secara rutin. Semenjak lahir, suster sudah membantu mencatat BB, TB, dan LK si anak. Mommies tinggal mem-plot di growth chart, bisa yang dari WHO atau CDC. Kalau saya lebih memilih versi WHO, karena pertama, jenis ras yang dipakai untuk membuat angka rata-rata lebih beragam, kedua karena cara membacanya lebih mudah. Kebetulan, DSA Menik juga selalu mengajak untuk membaca bersama grafik ini setiap kontrol, biasanya saat imunisasi. I shall thank dr. Purnamawati SpA(K), MMPed, yang mengajarkan saya membaca growth chart. “Belajar, ya, bu! Supaya tahu perkembangan anaknya sendiri dan nggak percaya gitu aja sama omongan orang atau dokter perkara berat badan dan lainnya!” begitu ujar beliau.

Ternyata kebiasaan mencatat perkembangan terutama berat dan tinggi badan Menik, benar-benar memberikan rasa aman setiap mendengar komentar soal postur Menik yang mungil. Why I can feel safe? Karena garis pertumbuhannya mengikuti garis kurva, trennya naik, dan tidak berada dibawah persentil paling bawah yang artinya kurang gizi atau gagal tumbuh. Jadi bagaimana cara menggunakan growth chart? Ada dua cara, nih, manual atau menggunakan tools dari WHO langsung di PC.

Kalau manual alias tulis sendiri, isilah growth chart yang biasanya ada di dalam buku tumbuh kembang bayi yang diberikan oleh pihak RS saat kita pulang setelah melahirkan atau di Kartu Menuju Sehat (KMS) Balita yang bisa didapatkan di Posyandu atau Puskesmas.

  1. Berikan titik pada angka yang sesuai di kurva pertumbuhan berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala.
  2. Perhatikan persentilnya. Ada garis berwarna yang melintang, merah, oranye, dan hijau, dan di ujung kanan garis tersebut ada persentil 3rd, 15th, 50th, 85th, dan 97th. Cara baca persentilnya mudah, kok. Misalnya anak berada di persentil 15th, ini artinya ada 85% anak dengan usia dan jenis kelamin yang sama, berat badannya lebih dari anak tersebut, atau ada 15% anak yang beratnya dibawah anak tersebut. Atau gampangnya, 15 dari 100 anak memiliki berat atau tinggi badan tersebut. Garis tengah berwarna hijau dengan persentil 50, adalah angka rata-ratanya.
  3. Kalau menggunakan KMS, daerah berwarna kuning-hijau adalah patokannya. Di bagian kanan bawah, ada cara membacanya, juga. Silahkan di cek.
  4. Tarik garis dari titik-titik yang sudah dibuat agar terlihat tren-nya.
  5. Untuk membaca versi Z-Score, cek:

Berikut contoh membaca persentil di growth chart, ini adalah BMI anak laki di usia 10 tahun :

Kalau mau versi digital, download dulu tools WHO ANTHRO di sini. Lalu ikuti petunjuk penggunaannya yang juga bisa di download, atau tonton tutorialnya di YouTube. Dengan menggunakan tools WHO Anthro ini, Mommies jadi bisa menyimpan data tumbuh kembang anak di komputer. Saya senang, sih, karena kurva terlihat jelas. Oh ya, kalau cek yang versi Z Score bukan percentile, ini lebih enak lagi. Anak dikatakan ‘underweight’ jika berada di garis -2, dan ‘severely underweight’ jika dibawah garis -3.

Growth Chart Menik di WHO Anthro versi Percentile

ini versi Z Score

Step by step menggunakan WHO Anthro secara umum adalah:

  1. Buka aplikasi, klik Individual Assessment.
  2. Buat data baru, kalau saya data contoh dihapus semua agar tidak bingung. Klik tanda tambah berwarna hijau di bawah kolom Children. Masukkan data anak, ibu, dan ayah.
  3. Masukkan data BB, TB, dan LK. Klik tanda tambah berwarna hijau di bawah kolom Visits. Isi tanggal, BB, TB, LK, dan pilih keterangan Recumbent (tiduran) atau Standing (berdiri) saat anak diukur. Kemudian klik save.
  4. Lakukan secara berkala, atau masukkan semua data yang ada di buku sehat si anak.
  5. Untuk melihat hasil plot, klik icon graphs di kolom paling bawah.

Cek yang saya lingkari merah, ya. Itu untuk memasukkan data dan melihat grafik.

Kalau sudah selesai, lihat apakah trennya naik, datar, atau malah menurun. Inilah yang menjadi pegangan. Paling baik tentunya garis di kurva tren-nya naik secara konsisten, karena ini menunjukkan anak tumbuh.

Hal yang patut diwaspadai adalah tren garis datar (dalam 3 bulan, beratnya tetap) atau malah menurun yang bisa mengindikasikan gagal tumbuh. Masalah di bawah persentil 15 atau hampir ke persentil 85 misalnya, perlu diperhatikan ras, aktivitas anak, serta fisik orang tuanya. Logikanya, kalau ibu-bapaknya tinggi langsing, ya masa’ anaknya mau gendut bulat? Oh, ya, kalau bisa pengukuran setiap bulan dilakukan di tanggal yang sama, jadi bisa lebih akurat. Namun, jika melihat tren penurunan garis, segera cari penyebabnya, ya, Mommies! Konsultasikan dengan dokter anak, jangan lupa untuk mengingat dan mencatat apa saja yang bisa menjadi penyebab slow growth atau malah gagal tumbuh.

Lihat, dong, anak saya pernah BB-nya hampir nyaris menyentuh persentil 3! Tapi saya punya alasan, waktu timbang itu anak saya habis keracunan, muntah terus menerus 9 jam tanpa henti. Dan perhatikan tren kenaikan berat badan Menik, pelan tapi pasti banget, ya? Kalau lihat grafik BMI-nya harusnya lebih stres lagi, pernah dibawah persentil 3, Hehehe. But I have no worries, mengingat aktivitas anak saya yang super seru menguras tenaga, dan ternyata suami saya dulu badannya kecil. Ini sekarang gendut karena memang kurang menjaga kebugaran fisik, tsk!

Kenapa sih growth chart aja dibahas? Ya daripada capek mikirin apa komentar orang soal penampakan fisik anak, kan lebih baik menenangkan hati karena tahu dengan pasti apakah tumbuh kembang si anak berjalan dengan semestinya atau tidak? So, keep your eyes on growth chart, Mommies!