7 Tahun Bersamanya…

Butuh keberanian bagi saya untuk bertanya ke sepupu yang Maret lalu kehilangan anak laki-laki pertamanya. Tahun 2009, anak keduanya hanya bertahan hidup sekitar 4 jam kemudian meninggal. Surprisingly, Mbak Okti menjawab dengan cepat kalau dirinya tidak keberatan untuk berbagi cerita kepada Mommies Daily. Pikiran saya kembali menerawang ketika menerima BBM darinya yang berisi, “Ki, sudah dibalas ,ya, emailnya. Maaf lama, nangis melulu pas ngetik” :’)

Here’s the story:

Raka, 23 Desember 2004 – 3 Maret 2012

Sebelum Raka meninggal, apakah ada gejala yang mencurigakan?

Fisik Raka tidak  pernah memperlihatkan gejala tanda-tanda penyakit serius, Namun Raka memang  tergolong anak yang agak susah makan alias picky eater.

Kapan awal mula Raka ketahuan sakit?

Raka mulai sakit yang agak mengkhawatirkan itu di awal Februari 2012. Waktu itu kami sedang menghadiri undangan perkawinan salah satu keponakan suami saya. Seharian penuh Raka main tiada henti bersama para sepupunya, maklum anak usia 7 tahun, pikirannya hanya main, main, dan main. Sepulang dari acara itu, Raka demam. Saya pikir Raka hanya terlalu capek bermain. Namun demamnya meningkat pada malam hari hingga suhu 38 derajat Celcius. Setelah saya kasih obat penurun demam, demam pun turun sehingga saya memutuskan untuk tidak membawa Raka ke dokter.

Lalu sesudah itu?

Sesudah itu tidak ada yang aneh dari dirinya, sampai pertengahan Februari 2012. Raka mengeluh gusi dan sekitar bibirnya sakit luar biasa. Saya cek, tidak ada tanda-tanda luka maupun reaksi alergi. Hanya saja gusinya memang sedikit membengkak sehingga saya bawa Raka konsul ke dokter gigi. Diagnosa dokter giginya waktu  itu adalah “Seperti mau tumbuh gigi geraham” dan menurut saya agak aneh untuk anak seumur Raka. Lagipula gigi susunya baru tanggal 2  buah di bagian depan. Sejak saat itu, Raka sering demam, suhunya berkisar di 38-40 derajat Celcius. Saya bawa Raka ke dua DSA berbeda serta banyak bertanya ke DSA lainnya melalui Twitter. DSA pertama tidak menemukan adanya penyakit serius hingga diambil darah dua kali dan semua hasil laboratoriumnya normal. DSA kedua, memberikan diagnosa berbeda. Menurut beliau, ada masalah di perut Raka, akhirnya diberikan obat maag dan dipompa perutnya untuk mengeluarkan kotoran yang tersumbat.

Minggu pagi, 25 Februari 2012 ada pendarahan yang lumayan banyak di gusinya. Pastinya saya kaget dan panik. Seharian, Raka berulang kali mengeluh sakit di perut dan kepalanya. kemudian saya pegang perutnya, Masya Allah, perutnya membesar dan terasa keras seperti batu.  Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk membawa Raka ke rumah sakit malam itu juga. Tiba di UGD, setelah diperiksa oleh dokter jaga, Raka tidak diperbolehkan pulang dengan alasan harus diobservasi lebih lanjut.

Keesokkan paginya Raka menjalani berbagai macam tes; mulai dari X-ray pada perutnya danUSG abdomen serta pengambilan darah tepi. Hasil dari kedua tes itu memperlihatkan adanya kejanggalan pada hati dan limpanya yang saat itu membesar dua kali ukuran normal. Hasil tes lain yang lebih mengejutkan adalah ditemukannya sel muda pada sel darah putihnya yang mengacu pada kelainan darah. Kenaikan jumlah sel darah putih yang cukup signifikan membuat DSA-nya pun merujuk Raka untuk pindah RS agar dapat diobservasi lebih lanjut dengan spesialis hematologi anak di Rumah Sakit Harapan Kita.

Rabu, 29 Februari 2012, hari yang semestinya saya dan suami saya merayakan ulang tahun pernikahan kami yang jatuh setiap 4 tahun sekali itu dengan sukacita, berganti dengan hati yang hancur  mendengar diagnosa awal dari dokter spesialis hematologi anak. Sang dokter mengatakan Raka mengalami anemia berat karena trombosit yang menurun, sementara leukosit yang terus mengganas malah naik. Setelah penjelasan dari dokter dan mencari yang terbaik akhirnya diputuskan malam itu juga Raka masuk ICU untuk meredakan hal ganas yang mengganggu organ dalam tubuhnya: hati, limpa, serta dengan harapan bisa menurunkan jumlah leukositnya.

Hari pertama di ICU, leukositnya turun ke angka 148.000 (tadinya 177.000). Hari kedua, leukosit  turun lagi ke angka 84.000 namun HBnya ikut turun dan trombosit tidak bertambah. Dokter memutuskan untuk memberikan transfusi darah. Entah apa yang saya rasakan saat itu, saya harus melihat anak saya berjuang melawan penyakit yang belum jelas rimbanya. Lebih hancur lagi hati ini melihat Raka terkulai lemas  di tempat tidur sambil berdoa, meminta pada Allah SWT agar disembuhkan. Raka adalah anak usia 7 tahun yang sangat tegar menghadapi penyakitnya. Tanpa  menangis dan mengeluh, ia menjalani semua pengobatan. Malam terakhir sebelum Raka meninggal dunia, Raka menatap saya lama tanpa bersuara, dengan selang yang ada di hidung dan peralatan medis yang masih menempel pada badannya. Raka meminta saya untuk selalu terus menemaninya. Saya ada di sampingnya hingga Raka tertidur. Raka sempat berpesan, meminta saya untuk masuk ke  ruang ICU, pagi-pagi sebelum jam besuk tiba.

Sabtu dini hari pukul 04.30, 3 maret 2012, seorang perawat tiba-tiba memanggil saya “orang  tua Arya Raka” yang membuat saya kaget dan berlari menuju ruang ICU. Dunia saya pun runtuh melihat anak saya, Raka dipompa dadanya oleh dokter dan diberikan bantuan nafas. Sambil terus berdoa dan berharap agar Raka bisa bangun dari tidurnya, saya panggil namanya, lirih. Saat itu denyut jantungnya sudah hilang, namun seperti diberikan kesempatan oleh Allah SWT berbicara pada Raka selama 2 menit, saya pun meminta maaf pada Raka karena merasa sudah gagal menyelamatkan dirinya. Saya merelakan Raka pergi selamanya. Akhirnya Raka meninggal dunia dengan muka damai dan senyuman khasnya. Dan ternyata semua pesan Raka tadi malam adalah pesan terakhir darinya bahwa ia akan pergi dan ia ingin saya menunggui kepergiannya.

Raka, sehari sebelum meninggal dunia, di ICU, holding hands with his mom.

Apakah ada penjelasan lanjut dari dokter?

Setelah kepergian Raka, hari senin hasil  patologinya keluar dan hasilnya menyatakan Raka mengidap Acute  Lhympoblastic Leukemia (ALL) L3, sederhananya adalah kanker darah yang menyerang anak-anak.

(Menurut penjelasan di sini, ALL (Acute Lymphoctic Leukemia) adalah tipe leukemia yang agresif. Bisa menyebar ke limpa, hati, dan beberapa organ vital lainnya. Biasanya kanker tipe ini menyerang anak-anak).

Tahun 2009, sekitar 4 jam setelah dilahirkan, anak kedua Mbak Okti, Rafi, meninggal dunia. Apa penyebabnya?

Hidup Rafi begitu singkat sehingga tidak ada hasil tes apa pun. Diagnosa dokter saat itu hanya sel darah putihnya mencapai 50.000 (pada anak bayi baru lahir, normalnya paling tinggi itu antara 20.000-30.000) sehingga Rafi tidak kuat untuk bertahan hidup. Rafi ada di dunia hanya 4,5 jam saja. Rafi lahir pukul 09.00 melalui operasi caesar dengan berat badan normal 2.98 kg, panjang 48 cm. Namun pukul 11.30, badannya tiba-tiba biru dan Rafi menangis terus menerus tanpa henti. Akhirnya diambil tindakan diambil darah dan mau di infus. Belum sempat dokter anaknya periksa lebih lanjut, Rafi sudah pergi untuk selamanya sekitar pukul 13.30.

Dua kali kehilangan buah hatinya, tidak membuatnya putus asa. Saat ini kakak sepupu saya sedang hamil :) Cerita dong!


Sekarang saya sedang hamil 28 minggu. Yang perlu diperhatikan sama dengan ibu hamil lainnya, banyak istirahat, mengonsumsi makanan bergizi dan rajin  kontrol ke dokter. Hamil kali ini saya konsultasi dengan 3 dokter sekaligus: Ob/Gyn, fetomaternal dan hematologi anak. Mereka akan  menjadi 1 tim untuk mendampingi saya saat melahirkan nanti. Mengingat pengalaman dua anak saya sebelumnya, kami juga harus menyiapkan darah sebagai pertolongan pertama jika bayi yang saya kandung saat ini, terlahir seperti Rafi. Dokter juga meminta saya untuk menyimpan stem-cell sebagai  upaya penyelamatan selanjutnya. Pastinya semua ini saya lakukan sebagai bentuk ikhtiar selain meminta dengan sungguh-sungguh untuk keselamatan dan kesehatan dari Allah SWT untuk kami semua, karena leukemia itu bukan penyakit keturunan. Due-date kelahiran bayi saya adalah 9 Januari 2013. Mohon doanya, ya Mommies!

Happy to hear the news, semoga janin yang kabarnya berjenis kelamin perempuan ini sehat selalu, ya! Thanks for sharing.


65 Comments - Write a Comment

Post Comment