Deteksi Dini Kanker Payudara

Ingat berita beberapa waktu yang lalu tentang Angelina Jolie yang menjalani double mastectomy alias pengangkatan kedua payudara sekaligus karena secara genetis berisiko tinggi terkena kanker payudara? Nah, perlu nggak, sih, sebenarnya tindakan itu sampai dilakukan?

Beberapa waktu yang lalu di acara seminar “Early Detection of Breast Cancer & Cervical Cancer” di f(X) Sudirman yang diadakan oleh Brawijaya Women & Children Hospital, dr. Arief Wibisono, SpB (K) Onkologi mengatakan bahwa memang ada garis keturunan tertentu yang mewariskan gen BRCA 1 dan BRCA 2 yang masing-masing menyumbang 20% penyebab kanker payudara. Angelina Jolie merupakan salah satu pembawa gen BRCA 1. Dengan double mastectomy, diharapkan kemungkinan terkena kanker yang tadinya diatas 95% jadi turun dibawah 5%.

Penyebab kanker payudara yang diketahui sejauh ini dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan risikonya:

Risiko Rendah (Relative Risk <2)

  • Menstruasi dini.
  • Menopause terlambat.
  • Nulliparity (belum pernah mengandung).
  • Penggunaan HRT (hormon replacement therapy) estrogen dan progesteron.
  • Konsumsi alkohol, risiko meningkat dari 1.5x untuk 1-2 gelas/hari menjadi 3.3x untuk 6 gelas/hari.
  • Perokok pasif.
  • Obesitas pasca menopause.

Risiko Menengah (Relative Risk 2-4)

  • Adanya kerabat dekat yang terkena kanker payudara
  • Melahirkan anak pertama di usia >35 tahun.
  • Adanya semacam tumor atau kista non-kanker pada payudara.
  • Tingkat kepadatan payudara secara mammografis.

Risiko Tinggi (Relative Risk >4)

  • Mutasi gen BRCA1 atau BRCA2.
  • Atypical hyperplasia (adanya sel-sel abnormal non-kanker) yang terlihat melalui biopsi.
  • Riwayat penyinaran pada usia <40 tahun.

O, ya, pemasangan implan payudara tidak meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Tindakan ini justru bisa meningkatkan kewaspadaan atau deteksi dini kanker payudara karena rutinitas kunjungan dan pemeriksaan dokter sebelum pemasangan implan dilakukan.

Beberapa cara deteksi dini kanker payudara yang disarankan adalah:

  • SADARI (perikSA payuDAra sendiRI)/BSE (Breast Self Examination): setiap bulan sejak umur awal menstruasi-20 tahun.
  • Clinical Breast Examination (CBE): usia 20-39 tahun, setiap 3 tahun; usia >40 tahun setiap tahun.
  • USG payudara: bila ditemukan kelainan saat CBE dan pada >40 tahun.
  • Screening mammografi: usia >40 tahun, setahun sekali.

Sudah tahukah langkah-langkah SADARI yang bisa dilakukan? Berikut detilnya, ya.

Langkah 1:

Dimulai dengan berdiri tegak dengan kedua lengan pada pinggul.

bentuk kulit jeruk

  • Lihat: ukuran, bentuk dan warna payudara.
  • Cari lesung, kerutan, atau penonjolan kulit, kulit seperti kulit jeruk, kemerahan, luka, lecet, eksim, atau pembengkakan.
  • Puting yang berubah posisinya atau tertarik ke dalam.

Langkah 2:

Angkat kedua lengan dan lihat adanya perubahan bentuk.

Langkah 3:

Cari adanya cairan yang keluar dari puting seperti cairan bening, seperti susu, cairan kuning, cairan kemerahan atau darah.

Langkah 4:

Raba payudara saat posisi tidur terlentang. Gunakan tangan kanan untuk meraba payudara kiri, begitu pula sebaliknya. Gunakan buku-buku jari secara perlahan, bersamaan dan rata. Lakukan dengan gerakan memutar.

Lakukan pada seluruh payudara mulai dari atas, dari sisi luar ke sisi dalam – dari tulang selangka sampai perut bagian atas, dari ketiak sampai belahan tengah dada/payudara.

Langkah 5:

Raba payudara saat berdiri atau duduk. Atau kadang lebih mudah saat payudara basah dan licin misalnya ketika mandi dengan shower. Lakukan perabaan dengan gerakan yang sama dengan langkah 4.

Adakah Mommies yang sudah rutin melakukan SADARI?

sumber gambar: slide presentasi dr. Arief Wibisono, SpB (K) Onkologi

 


Post Comment