Manajemen Waktu Si Ayah

Gue inget banget ada adik temen gue yang setelah lulus kuliah enggak mau kerja, pas ditanya kenapa ga mau kerja, jawabannya dia dengan yakin dan pasti adalah, “cita-cita gue mau jadi ibu rumah tangga”.

Cita-cita yang sangat ideal.

Adik temen gue inipun melanjutkan jawabannya, “Gue pengen banget ngurusin anak dan suami di rumah, masak dan beresin rumah”. Keren, jawab gue dalam hati. Punya cita-cita untuk jadi ibu rumah tangga atau dalam bahasa kerennya sering disebut Stay At Home Mom (SAHM) hampir jarang gue dengar. Cita-cita yang menurut sebagian paham feminis adalah pekerjaan warga negara kelas dua, karena perempuan seperti “dipaksa” untuk berada di sektor domestik. Pemikiran ini – menurut gue – justru sebenarnya mendiskriminasi kaumnya sendiri.

Buat perempuan yang memiliki jabatan sebagai Stay At Home Mom (SAHM) mengurus anak pasti udah jadi rutinitas sehari-hari. Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana dengan perempuan yang menjadi Working Mom, alias ibu bekerja? Gimana mengurus anaknya? Bagaimana pembagian waktu sama suami? Di sini serunya. Gue enggak akan menceritakan dari sisi ibu, tapi gue mau membagi beberapa cerita temen gue – tentunya para Ayah – yang karena suami-istri bekerja, jadi bikin agak ‘ribed’ ketika ngurus anak. Utamanya ke pembagian waktu, apalagi, asal tau aja nih, deep down below di hati kami – para Ayah – pengen banget dikasih kesempatan waktu untuk bersama anak. Iyaah sih, kadang kita emang terlalu egois untuk enggak nunjukin perasaan kita.

*gambar dari sini

Gue sengaja pengen berbagi beberapa cerita ini karena menurut gue dalam mengurus anak itu bukan cuma urusan istri aja, tapi suami juga punya banyak peran. Ayah apalagi, selalu dibatasi geraknya untuk masuk ke sektor domestik, adat istiadat dan aturan sosial kita seakan melarang para Ayah untuk ikut masuk ke dapur, nyuci baju atau ngurusin anak. Ini beberapa ceritanya:

Temen gue @K_Idzma cenderung enggak ada masalah soal pembagian waktu, pekerjaan dia dan istri emang deket sama anak-anak dan ibu menyusui. Jadi kalo memungkinkan, anak akan dibawa oleh salah satu dari mereka. Hampir sama dengan @K_Idzma, si @drg_igoen dokter gigi yang mengaku ganteng ini juga hampir ga ada masalah untuk mengurus anak berdua. Kedua anaknya diurus oleh masing-masing, pembagian tugas berjalan apa adanya. Kalo yang kecil lagi nenen, maka yang besar dipegang ayahnya, begitu sebaliknya.

Cerita yang lain ada @yrahardian, karena keduanya bekerja, maka prioritas pertama adalah dititip ke eyangnya, prioritas ke dua dititip ke eyangnya yang lain, kalo keduanya ga bisa, maka si anak dibawa ke tempat kerja, kalo pilihan 1-3 ga bisa juga, maka harus ada yang mengalah. Syarat mengalah untuk enggak bekerja ini tergantung tingkat kepentingan dari pekerjaan pada hari itu. Sementara ini sih enggak ada masalah yang berarti. Quality Time sama anak berjalan dengan asoy.

Ada juga cerita si @OtotBabay (bukan nama sebenarnya) yang awalnya merasa enggak punya Quality Time banyak sama anak. Dia dan istri sama-sama bekerja, tinggal bersama orangtua istri, pengasuhan anak diserahkan ke kakek dan neneknya. Wajar kalo kemudian si anak lebih deket ke ibu mertua. Jika mereka berdua pulang kerja pun, si anak akan lebih memilih bersama istrinya, tentu karena harus menyusui. Akhir pekan pun si anak lebih memilih bersama istrinya, jika dipegang oleh @OtotBabay, si anak akan menangis. Jadi serba salah, pengen ngerasa deket sama anak tapi situasi dan kondisi seperti enggak memungkinkan untuk bisa deket sama anak, meski sama anak sendiri. Tapi akhirnya situasi berubah ketika @OtotBabay melihat perilaku mertuanya yang bikin dia enggak nyaman ketika lagi bersama si anak. Bukan cuma sekali dia melihat kejadian itu.

Akhirnya, tanpa bilang ke istri, @OtotBabay sengaja berangkat telat ke kantor untuk ngurusin si anak, mulai dari kasih makan, mandiin, gantiin baju, cebokin dan gantiin popok, semua dia lakukan sendiri. Cuma biar si anak enggak mendapat perlakuan yang aneh-aneh lagi. Ngurus anak ternyata menyenangkan, si @OtotBabay belakangan baru menyadari itu. Belakangan, istrinya baru mengetahui kalo suaminya sengaja berangkat telat ke kantor untuk ngurusin anak dulu. Gue rasa, istrinya antara terharu dan bangga pasti. Bonding sama anak akhirnya enggak jadi masalah lagi buat @OtotBabay, oh satu lagi, rutinitas pelarian dia ke gym pun akhirnya juga agak berkurang. Tuh kan, bahkan seorang Ayah pun sebenarnya pengen juga dikasih kesempatan buat ngurus anak, asal jangan di cerewetin ajah.

Lain lagi sama @siayip yang kerjaannya keluar masuk hutan. Pembagian tugas dengan istri yang juga bekerja untuk bersama anak berjalan tanpa aturan yang ‘ribet’ tapi si anak tetap mendapat keuntungan, yaitu ikatan psikologis yang erat. Pagi hari menjadi waktunya @siayip untuk ngurusin anak, selain waktu kerjanya yang lebih fleksibel juga karena si istri emang harus masuk pagi hari sekali. Mulai dari memandikan, memakaikan baju dan makan pagi adalah rutinitas pagi hari yang biasa dikerjakan @siayip. Si istri tentu harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan sebelum berangkat bekerja. Di luar hari kerja, Sabtu-Minggu pun @siayip lebih memilih untuk bersama anak, doing what boys can do, macam belanja ke pasar, nyuci motor, ke bengkel atau jalan-jalan ke taman kota. Intinya, semua pihak harus mau kerja ekstra, suami-istri harus rela ikutan ribet ngurus anak, toh yang untung juga semua pihak. Kehidupan keluarga jadi harmonis. Semacam slogan BKKBN yak? :D

@AndhikaAkbar tampaknya lebih enak ceritanya. Istrinya bekerja, tapi si @AndhikaAkbar bekerja di rumah, jadi sehari-hari bisa bersama si anak di sela-sela bekerja. Dibanding cerita sebelumnya, kali ini justru sang istri yang ingin menghabiskan waktu sama si anak di kala weekend, si @AndhikaAkbar justru agak selow. Enggak heran kalo lagi ngumpul sama temen-temen AyahASI, si @AndhikaAkbar suka membawa si anak. Maklum, kayanya dia terobsesi untuk menurunkan bakat main bolanya ke anak.

Itu hanya sebagian cerita kecil dari banyak cerita yang sering gue denger dari temen-temen tentang pembagian waktu sama anak antara suami-istri. Ada yang justru tanpa sadar melakukan “kompetisi” di luar rumah, si anak kadang tidak cukup mendapatkan waktu bersama kedua orangtuanya, pun waktu akhir pekan kadang digunakan untuk bekerja. Ada juga yang sengaja menciptakan “kompetisi sehat” untuk menghabiskan waktu sama anak.

Gue cuma mau bilang begini, meski istri berada di rumah seharian untuk mengurus anak, enggak jadi alasan bagi seorang suami untuk enggak ikutan ngurus anak. Istri atau mertua sebaiknya juga memberi kesempatan bagi seorang suami untuk ngurus anak, tanpa dicerewetin. Suami juga sebaiknya “memaksakan” dirinya untuk ikut terlibat dalam pengasuhan anak. Pembagian waktu bagi suami-istri yang bekerja tentu menjadi PR, tapi bukan halangan untuk tetap memprioritaskan Quality Time bersama anak.

Nah, sekarang bagi dong cerita elo, gimana serunya pembagian waktu sama istri untuk ngurus anak?

 


One Comment - Write a Comment

  1. Alhamdulillah, untuk jaga anak saya dan suami punya porsi masing2. Biasanya, sih, untuk urusan main dan hal2 yang lebih “laki” tugas bapaknya. Kan sama2 laki :D Kalau wiken’ biasanya juga emang waktunya family time, jadi jatah jagain anak, porsinya sama.

    Enaknya, nih, karena suami kerja shift, saat nggak punya mbak buat bantu2 di rumah, suami rela masuk malem supaya paginya, saat saya kerja dia bisa temenin Bumi. Padahal saya tahu banget, matanya udh kriyep2 karena ngantuk :)) tapi, ya, gitu, sih, paling ujung2nya dia bakal wanti2, “pulang kerja kalo bisa lebih cepet, ya… ” :D

Post Comment