My Child Complains A Lot!

Dengan anak yang sudah beranjak besar, -anak pertama saya berusia 9thn-, terutama sejak masuk Sekolah Dasar, saya menaruh perhatian lebih pada masalah komunikasi antar anak dan orangtua. Soal fokus pada hal-hal positif, berpikir sebelum bicara, dan hal-hal lain yang saya pikir Mommies juga sudah mengetahui dari berbagai ilmu pengasuhan anak. Sebuah buku yang sangat baik untuk praktik komunikasi dengan anak –Berbicara agar anak mau mendengar dan mendengar agar anak mau berbicara- yang pernah di-review oleh Affi ini juga sangat kami rekomendasikan untuk semua orangtua.

*gambar dari sini

I don’t know it’s just me, or that’s the way children communicate their feelings, beberapa waktu ini Akhtar sering mengeluh. Mungkin mengambil contoh saat mudik lalu dan setelahnya, saat ART masih mudik. Mungkin inilah saat-saat saya lupa, bahwa keluhan anak juga bagian dari komunikasi. Biasanya, saat anak mengeluh, artinya emosinya juga cenderung negatif, dan kita sendiri juga sebal karena keluhannya (padahal dia sudah diingatkan bahwa saya tidak suka mendengar keluhan! –later, I realize this is not quite right). Jadilah beberapa kali setiap dia mengeluh, komentar saya tidak jauh dari “pagi-pagi udah ngeluuh aja”, atau “udah gak boleh ngeluh, sekarang dicari dong bukunya”, dan sejenisnya.

Saya baru menyadari, bahwa keluhan itu juga bagian dari komunikasi anak, bahwa dia mencoba untuk menyampaikan perasaannya –secara tidak langsung-, dan seharusnya respon saya adalah sesuai dengan apa yang saya pelajari, ‘engage the emotion, tell her/him that we know his feeling’. Nanti, beberapa saat kemudian setelah emosinya sudah netral, coba ajak bicara kembali tentang keinginan-keinginan kita masing-masing.

Nah, ini adalah contoh beberapa keluhan yang pernah disampaikan oleh anak, dan respon saya (yang menurut saya salah) pada saat itu. Dan dibawahnya adalah cara-cara yang lebih baik untuk membangun komunikasi yang positif.

1. “Huuuh…makanannya ini lagi, kan tadi pagi sudah makan ini!”

Alih-alih: “Nah kan ngeluh lagi, kan udah dibilangin Ummi masaknya cuma sekali.”

Lebih baik: “Hmm, Akhtar gak suka ya? Seandainya masakan ini sudah habis kan kita bisa makan yang baru lagi. Besok Ummi masakkin yang lain ya”

Pada kesempatan berikutnya saat suasana sudah nyaman, kita ajak berdialog lagi soal ini. “Ummi tahu Akhtar gak suka makan itu, tapi kalau ngeluh seperti tadi, Ummi juga jadi sedih, karena makanan itu kan rezeki yang kita harus syukuri”

2. “Aaaaah…masa harus jalan kesana? Capeeek!”

Alih-alih: “Ya ampuun masa cuma segitu aja ngeluh?!!”

Lebih baik: “Oooh, Akhtar capek ya? Mungkin tadi terlalu banyak main-main sama yang lain? Kita bareng-bareng jalannya, jadi mudah-mudahan cepat sampainya”

Pada kesempatan berikutnya: “Jadi, tadi jalan kesana gak terlalu capek kan? Nanti lain kali dicoba dulu ya, karena kamu pasti bisa deh”

3. “Kok aku terus siiih yang disuruh ngambiliin??”

Alih-alih: “’Terus gimana siih? Kan dari tadi Ummi yang bolak-balik”

Lebih baik: “Akhtar merasa kesal ya diminta tolong ambil baju adik? Andai Ummi bisa bantu, tetapi sekarang lagi mandiin adik. Ummi rasa Akhtar bisa kok.”

————

Hmm, rasanya tidak mudah ya membiasakan diri untuk merespon dengan kalimat seperti di atas. Tetapi yang harus kita ingat adalah penting untuk merespon keluhan anak dengan sudut pandangnya dan berempati. Itu menghindarkan kita dari konflik dan komunikasi yang mandeg, dan pembelajaran juga bagi anak untuk mengatasi emosinya.

Pada kesempatan berikutnya -jangan terburu-buru-, orangtua bisa mendiskusikan bagaimana perasaannya kalau anak mengeluh untuk hal-hal sepele tersebut. Ini bisa membantu anak untuk belajar lebih sensitif, dan tidak terlalu cepat mengeluh. Tentu saja respon di atas bisa bervariasi, dan menyesuaikan dengan keadaan. Yang penting adalah berikan respon yang tetap membuka kenyamanan untuk berkomunikasi.

Susah-susah gampang, ya?

 


3 Comments - Write a Comment

  1. Wah… Nis, penting banget, nih artikelnya. Jangankan Akhtar yang sudah besar, Bumi aja yang baru 3 tahun sdh bisa complain. Yang paling sering, sama kaya point ke dua. Nggak mau di ajak jalan jauh, alasannya capek. Maunya di gendong. Memang, ya, sebagai ortu sumbu sabar kita harus ekstra panjang, TFS, yah, Nis!

Post Comment