Menyusui Adalah Kompetisi..

Hidup ini terasa ekstra keras terhadap ibu-ibu yang baru melahirkan, apalagi setelah 40 minggu masa kehamilan di mana kita menikmati perhatian spesial dari orang-orang di sekeliling.

Semuanya berubah total saat bayi kita lahir. Seorang ibu yang baru melahirkan diharapkan langsung mempunyai maternal instinct dan otomatis langsung cakap dalam mengurus bayinya. Seakan-akan semua itu belum cukup, di era jejaring sosial seperti sekarang, rasanya keputusan apa saja yang diambil akan menjadi kompetisi yang menentukan siapa ibu yang lebih baik, mulai dari csect vs vaginal birth sampai dengan MPASI homemade vs instant.

Bicara tentang hal ini, tentu saja masalah ASI vs Sufor tidak boleh ketinggalan. Beberapa tahun terakhir, kampanye pemberian ASI semakin terdengar gaungnya. Bahkan, tanggal 1-7 Agustus setiap tahun, diperingati sebagai World Breastfeeding Week. Tahun ini, tema yang diusung adalah “Breastfeeding Support: Close to Mothers“. Banyak yang belum mengetahui bahwa menyusui bukanlah hal yang mudah. Sebelum saya hamil, saya selalu berpikir bahwa menyusui adalah hal yang sangat alamiah bagi ibu dan bayinya. Come on, we’ve been doing it since the stone age! Ternyata, dari artikel-artikel yang saya baca menjelang berakhirnya masa kehamilan saya mengatakan hal yang sebaliknya. I swear, with my pregnancy brain, it felt like rocket science. Saya kebingungan menghadapi istilah-istilah baru seperti latch-on (pelekatan mulut bayi pada puting ibu) dan LDR (letdown reflex). Ternyata, menyusui bukanlah sekedar menempelkan mulut bayi ke payudara ibu.

Berbekal sedikit pengetahuan dan keyakinan bahwa tidak ada seorang pun ibu yang bisa tak bisa menyusui, saya pun bertekad akan memberikan bayi saya ASI ekslusif selama 6 bulan. Akan tetapi kenyataan berkata lain, walaupun sudah mengkonsumsi suplemen lancar ASI dan memijat payudara dari minggu ke 37 kehamilan, ASI saya tidak keluar sama sekali di tiga hari pertama setelah melahirkan. Saya masih ingat rasa sakit saat puting dipuntir oleh suster agar memudahkan pelekatan, juga rasa nyut-nyutan payudara yang sudah dipompa 45 menit dan hanya mengeluarkan setetes ASI. Walaupun saya mengetahui bahwa produksi ASI didukung oleh mood yang baik, rasanya tidak mungkin tidak stres di hari-hari pertama setelah melahirkan. Setelah didesak kanan kiri, saya pun dengan sangat terpaksa memberikan Kei susu formula. Perlu diketahui bahwa saya bukanlah ASI NAZI yang anti terhadap sufor, tapi saya percaya bahwa ASI adalah yang terbaik untuk bayi dan kalau manusia zaman purba aja bisa, masak saya enggak bisa?

Mengutip teman saya, Gemma, “Ngga usah diadu mana yang lebih sakit antara melahirkan normal dan CSect. Karena yang pasti lebih sakit adalah menyusui.” Inilah kalimat yang tepat untuk merangkum pengalaman saya menyusui selama ini. Selain rasa sakit puting dipuntir suster yang akan membekas di ingatan seumur hidup, masih banyak sakit-sakit lainnya yang muncul selama menyusui. Saya selalu membatin bahwa menyusui bukanlah kompetisi setiap hati ini mencelos melihat foto kulkas ibu-ibu lain yang penuh sesak dengan stok ASIP.

Akan tetapi, pengalaman menyusui yang baru saya jalani selama dua bulan ini mengatakan sebaliknya…

Menyusui adalah kompetisi, kompetisi melawan diri kita sendiri. Melawan rasa lelah karena bayi yang minum ASI biasanya lebih cepat lapar. Melawan rasa sakit ketika puting lecet dan tetap harus menyusui. Melawan rasa kantuk, ketika tetap harus memompa payudara di jam 3 pagi agar produksi tetap lancar. Melawan rasa malas untuk mencuci dan mensterilkan peralatan pompa agar bisa langsung digunakan. Melawan rasa kesal ketika melihat hasil pompa yang sedikit walaupun sudah memompa lama.

Saya yakin hampir semua ibu menyusui mengalami hal-hal yang saya sebutkan di atas. Semua itu tidak terasa sulit dan terbayarkan dengan bonding time dengan anak selama menyusui. Bahkan, banyak ibu yang patah hati ketika harus menyapih anaknya. Ketika ASI saya mulai keluar dan saya mulai menyusui Kei, saya sangat menanti-nantikan bonding moment saat menyusui. Alih-alih perasaan bahagia yang muncul, perasaan sedih dan depresi tiba-tiba menyelimuti saya. Awalnya saya pikir saya mengalami baby blues, akan tetapi setelah saya perhatikan, perasaan ini hanya muncul ketika saya menyusui dan memompa ASIP. Setelah mencari informasi di Internet, saya menemukan bahwa sensasi yang saya (dan sebagian kecil ibu menyusui) alami adalah sebuah kondisi bernama DMER.

DMER atau Dysphoric Milk Ejection Reflex adalah respon fisiologis di mana kadar zat dopamin dalam otak menurun secara drastis sebelum air susu keluar (LDR). Kondisi ini menimbulkan rasa depresi, cemas dan sedih ketika menyusui. Buyarlah semua bayangan saya tentang bonding time yang hangat dan manis selama menyusui. Walaupun begitu, sampai tulisan ini ditulis, saya masih menyusui Kei.

Mendapatkan ASI adalah hak setiap anak, there’s no way I’m gonna take it away from her even though I’m struggling hard in the entire process. Saya cukup beruntung karena tak henti-hentinya diberikan dukungan oleh teman-teman. Dari kiat-kiat cara memijat, makanan yang bisa melancarkan ASI sampai ada teman yang jauh-jauh mengirimkan pinjaman pompa saat pompa saya ngambek.

Masih banyak lagi kendala-kendala yang dihadapi oleh seorang ibu menyusui selain yang sudah saya tulis di atas. Tema yang diusung oleh WBW2013 sangatlah tepat sasaran karena menyusui bukanlah hal yang mudah. People should be aware that breastfeeding mothers need all the support they could get. Mari kita turut menyebarkan informasi dan menumbuhkan kesadaran ke sekeliling kita mengenai betapa pentingnya mendukung pemberian ASI untuk bayi selama 6 bulan pertama hidupnya.


2 Comments - Write a Comment

  1. Setuju banget, menyusui adalah kompetisi. kompetisi mengalahkan diri sendiri, yg nggak disiplin jadi harus disiplin memompa ASI. Yang malas kebangun malam, harus rajin bangun malam demi menyusui anak. Menyusui buat gue bukan hanya sekedar ngasih makan anak, tapi juga bikin diri gue lebih baik.
    TFS, Stella :)

Post Comment