Gizi Cukup? Saatnya Aktivitas Fisik!

Ketika menghadiri peluncuran program minum susu oleh Frisian Flag, yang membuat saya tertarik justru presentasi salah satu narasumber, yaitu dr. Sophia Hage. Beliau menerangkan tentang perlunya aktivitas fisik untuk anak-anak. Nah, program minum susu, kok, nyambung ke aktivitas fisik anak?

Sebetulnya nggak cuma soal minum susu, sih, tapi keseluruhan asupan gizi anak ternyata belum cukup untuk perkembangannya kalau tidak ditambah dengan aktivitas fisik. Anak (dan orang dewasa juga, sebenarnya) harus rutin bergerak dengan aktivitas fisik yang sesuai proporsinya. Tidak hanya untuk anak dan orang dewasa yang cenderung obesitas saja, lho, yang harus banyak bergerak. Yang kurus, sehat walafiat, juga tetap harus rutin berolahraga supaya terjaga fisik dan kesehatannya.

Bisa jadi sebenarnya anak sudah beraktivitas fisik sesuai porsinya baik di sekolah maupun di rumah. Coba cek contoh bentuk-bentuk aktivitas fisik anak berikut ini:

  • menari/senam
  • bermain di luar ruangan
  • berlarian
  • melompat-lompat
  • bersepeda
  • bermain bola
  • berenang

Apakah salah satu (atau lebih) sudah dilakukan setiap hari selama paling sedikit 1 jam? Kalau sudah, berarti aktivitas fisik anak sudah cukup.

Pertanyaan berikutnya, apakah aktivitas fisik harian kita sudah cukup juga? #jleb :D

Aktivitas fisik dapat dibagi menjadi dua, kegiatan sehari-hari dan olahraga. Apa bedanya?

Olahraga merupakan kegiatan yang direncanakan, bertujuan, dan biasanya gerakannya bersifat repetisi atau berulang. Sementara aktivitas fisik mencakup segala aktivitas sehari-hari, baik yang bersifat beban (mengisi galon mungkin? :D), maupun aerobik (naik turun tangga atau mengepel, misalnya), atau gabungan keduanya (mencuci baju, lalu mengangkat ember baju basah ke lantai dua untuk dijemur..hahaha, ibu-ibu banget, yaa).

Karena aktivitas fisik sifatnya random, tidak selalu dilakukan dalam range waktu tertentu, dan belum tentu rutin, maka berolahraga masih lebih efektif hasil dan efeknya terhadap kesehatan.

*gambar dari sini

Kebiasaan berolahraga berpengaruh pada otot, tulang, paru-paru, dan jantung. Jantung yang sehat pada gilirannya akan memompa darah dan nutrisi dengan lancar. Nah, lancarnya peredaran darah kemudian berhubungan dengan kinerja ginjal juga. Paru-paru saat santai atau istirahat menghirup 5-6 liter udara per menit, sedangkan saat berolahraga dapat mencapai 90 liter. Otomatis asupan oksigen juga lebih banyak yang terhisap saat berolahraga. Tulang yang rutin digunakan untuk berolahraga kepadatannya akan lebih tinggi. Sehingga nanti di masa dewasa lebih kecil kemungkinan terkena osteoporosis.

Sebaik-baiknya olahraga di dalam ruangan, akan lebih baik yang terkena matahari karena olahraganya jadi berbonus vitamin D. Dengan bantuan sinar matahari, tubuh bisa memproduksi vitamin D sendiri, lho. Murah, kan? Sementara sumber vitamin D dari makanan rata-rata sifatnya fortified (ditambahkan saat proses produksi), atau adanya di bahan makanan yang cukup mahal atau susah dicari seperti ikan salmon, tuna atau sarden kaleng, dan jenis jamur tertentu. Dengan cukupnya vitamin D dalam tubuh, pertumbuhan tulang akan makin pesat. Jangan terlalu siang tapi, ya. Maksimal pukul 10 pagi saja. Karena saat matahari terlalu panas, paparan sinar ultravioletnya justru akan meningkatkan resiko kanker kulit.

Jadi, bila anak sehari-hari sudah cukup aktivitas fisiknya di halaman sekolah, PR-nya tinggal di akhir pekan, nih. Ada rencana kegiatan olahraga rutin setiap akhir pekan, Mommies? Jangan seperti saya yang cuma sebatas rencana tapi, yaaa *sigh*.

sumber:

– presentasi dr. Sophia Hage
– http://www.health.com/health/gallery/0,,20504538,00.html


Post Comment