Bukan Tas Biasa

Saat punya anak pertama, saya tahu bahwa punya anak itu mahal dan setiap kali ada teman saya yang menikah sering saya wanti-wanti untuk tetap menabung karena punya anak itu mahal. Beneran mahal? Gimana nggak shock kalau tahu harga sikat rambut anak harganya 25 ribu? Maminya saja pakai sisir plastik atau kadang sisiran pakai jari karena rambutnya pendek :D

Setelah anak-anak besar, lebih pusing lagi. Apalagi ada beberapa barang yang sudah keluar uang berjuta-juta (stroller, baby cot, baby car seat, you name it!) tapi selepas anak sekolah di TK sudah tidak terpakai lagi. Garage sale mungkin bisa menjadi salah satu jawaban untuk barang-barang seperti ini.

Kali ini saya tertarik untuk membahas barang kebutuhan anak yang dari waktu ke waktu mengalami penambahan fungsi dari tugas awalnya, yaitu diaper bag atau tas perlengkapan bayi.  Lima tahun lalu saat saya punya anak pertama, diaper bag yang saya tahu adalah diaper bag kebanyakan yang terbuat dari bahan dengan motif yang saya yakin semua ibu-ibu tahu. Standar abis dengan model kotak dan dua kantong kiri kanan pake ritsleting.  Nggak ada yang salah, sih, dengan tas ini apalagi bagi yang memegang prinsip “Toh, hanya pakai sebentar ini”. Semua kembali kepada  pilihan pribadi.

Coba lihat beragam model tas popok yang keluar saat saya memasukkan kata “diaper bags” di Google.  Cakep-cakep, ya, gimana nggak bikin ‘mata hijau’ coba? Tentu saja modifikasi ini harus ditebus dengan lembaran lembaran fulus yang lebih banyak lagi :D

 

Bagi saya pribadi, diaper bag itu tidak dipakai hanya sebentar. Stroller mungkin akan ditinggalkan saat anak belajar mandiri tetapi saat anak masih hitungan belum lulus SD rasanya masih akan selalu menjadi anak-anak. Tisu basah, air minum, baju ganti harus selalu siap sedia saat berpergian. Jadi saya berani berinvestasi di barang yang satu ini.

Saya suka dengan desain standar diaper bag yaitu banyak kantong atau kompartemen terpisah. Ini membuat saya nggak kelabakan membongkar satu tas demi mencari satu barang. Kebiasaan saya membawa diaper bag ini mengakibatkan saya memaksimalkan penggunaan diaper bag saya menjadi sebuah tas kantor. Aneh? Nggak juga, kan, seperti yang saya bilang di atas, semua kembali kepada pilihan pribadi. Hari gini, mah, produsen diaper bag pakai jasa desainer fashion juga. Malah saking modisnya, jarang ada yang tahu kalau tas yang dipakai ini adalah sebuah diaper bag.

Diaper bag saya keluaran okiedog dibeli seharga sekitar Rp900,000. Saat saya mengeksekusi tas dengan harga segitu, saya sudah putuskan untuk mem-‘bully’ dia sampai titik darah penghabisan (baca:pelit). Jadilah tas ini saya bawa ke kantor.

Berikut ini saya gambarkan organisasi perlengkapan perang saya di tas ini :

Bukan Tas Biasa 1

Jadi, ibu-ibu yang lain bisa share dengan saya selain diaper bag apa lagi barang perlengkapan bayi yang bisa dimanfaatkan setelah bayi sudah  besar?


2 Comments - Write a Comment

  1. Ih sama banget…
    Jadi inget 2 tahun lalu waktu abis lahiran, temen kantor nanya mau dikadoin apa dari uang urunan temen2 kantor.. Budget nya pas buat beli Okiedog.. Pas dibilang tipe dan warna spesifik (beserta harga), pada bengong hahahaha.

Post Comment