Kesemutan, Gejala Apa, Ya?

Neuropati merupakan kondisi kerusakan saraf yang dialami oleh 26% orang yang berusia 40 tahun ke atas. Penyebabnya adalah menurunnya fungsi saraf seiring pertambahan usia.
Gejala yang sering dikaitkan dengan neuropati diantaranya:

  • Nyeri.
  • Rasa baal.
  • Mati rasa.
  • Kram.
  • Kaku.
  • Kesemutan.
  • Rasa terbakar.
  • Kulit hipersensitif.
  • Kulit mengkilap tidak wajar.
  • Rambut rontok pada area tertentu.
  • Kelemahan tubuh dan anggota gerak.
  • Atrofi atau pengerutan otot.

Yang perlu diperhatikan, semua gejala ini timbulnya spontan, tanpa ada pemicu aktivitas atau posisi tubuh tertentu. Bila, misalnya, kram timbul karena berenang, atau kesemutan timbul karena berada dalam posisi yang sama terus-menerus, maka ini bukan gejala neuropati tapi disebabkan oleh aliran darah yang kurang lancar saja.

Bila sudah menunjukkan gejala neuropati, biasanya kerusakan saraf sudah terjadi. Dengan lambatnya pertumbuhan saraf, sekitar 1mm/hari dalam kondisi kesehatan dan asupan yang sempurna, akan diperlukan waktu yang lama untuk bisa memperbaiki saraf. Menurut dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSSI Pusat yang juga konsultan neurologis dari Departemen Neurologi FKUI/RSCM, jaringan saraf yang tumbuh kembali pun tidak akan kembali seperti semula. Mirip dengan batang pohon yang ditebang, tunas-tunas baru yang tumbuh akan lebih bercabang-cabang daripada batang asalnya. Percabangan baru ini menimbulkan efek organ tubuh tersebut menjadi lebih sensitif.
Perlu menjadi perhatian juga, bahwa anggota tubuh yang paling dahulu terasa gejala neuropati biasanya kaki. Karena jaringan sarafnya yang lebih panjang daripada organ tubuh lain, kaki lebih rentan gangguan karena lebih jauh dari jalur pusat.

Semakin dini kerusakan saraf dapat dideteksi, semakin besar peluang perbaikan saraf yang rusak karena seiring pertambahan usia, fungsi saraf semakin menurun. Pada orang yang sehat, proses ini dimulai ketika memasuki usia 40 tahun. Sementara pada penderita penyakit sistemik/metabolik, bisa dari usia 30-an. Gaya hidup, pola makan dan minimnya frekuensi olahraga juga meningkatkan risiko terkena neuropati pada usia yang lebih muda.

Penyebab neuropati yang paling banyak ditemukan adalah:

  • Penyakit sistemik/metabolik seperti diabetes (50% penderita diabetes berisiko terkena neuropati), lever, dan ginjal.
  • Keracunan: paparan zat kimia, alkohol. Alkohol menyebabkan gangguan penyerapan vitamin neurotropik B1, B6, dan B12, yang pada gilirannya menyebabkan defisiensi.
  • Defisiensi vitamin B1, B6, B12, dan D, yang disebabkan oleh kurangseimbangnya gizi dalam tubuh.
  • Efek samping obat kimia/chemo drugs seperti misalnya obat TBC; tumor (paraneoplastic); dan penyakit keturunan seperti Charcot Marie Tooth.

Vitamin B1, B6, dan B12 diketahui menjadi komponen penting yang berfungsi menjaga dan menormalkan fungsi saraf dengan memperbaiki gangguan metabolisme sel saraf, dan memberikan asupan yang dibutuhkan supaya saraf dapat bekerja dengan baik. Vitamin B12, terutama, berfungsi menjaga dan memperbaiki selubung saraf.

Pencegahan neuropati yang paling sederhana tapi paling susah praktiknya adalah perbaikan gaya hidup.

  • Upayakan asupan gizi yang seimbang, terutama yang mengandung vitamin neurotropik. Vitamin ini banyak terdapat di kacang-kacangan, beras tumbuk, beras merah, sayur-sayuran, daging dan ikan. Beras putih justru sebaiknya dihindari karena sedikit mengandung vitamin B kompleks tetapi tinggi gula. Bila dirasa asupan vitamin neurotropik kurang, tambahkan suplemen dalam daftar sehari-hari. Sekali sehari saja cukup, kok.
  • Olahraga teratur.
  • Istirahat yang cukup untuk regenerasi saraf. Istirahat disini selain konteks tidur yang cukup juga perhatikan aktivitas sehari-hari. Beri kesempatan tubuh untuk istirahat dari posisi atau kegiatan yang monoton untuk melancarkan peredaran darah. Contohnya bekerja dengan mouse komputer secara terus-menerus dapat memicu penyakit saraf yang disebut Carpal Tunnel Syndrome yang gejalanya nyeri di daerah pergelangan tangan yang aktif.
  • Hindari gaya hidup yang memicu timbulnya penyakit sistemik/metabolik. Bila telanjur terkena, obati penyakit tersebut sembari mengobati neuropatinya.

Untuk dapat mendeteksi dini neuropati, Merck bekerja sama dengan PERDOSSI mengedukasi masyarakat tentang pentingnya deteksi dini neuropati dengan meluncurkan Neuropathy Service Point atau NSP sejak tahun 2012. Tahun ini, melalui NSP Portable, masyarakat dapat:

  • Menjalani pemeriksaan berupa skrining non invasif, sehingga cepat, mudah, aman, dan gratis. Pemeriksaan menggunakan palu reflek, garpu tala 128 Hz, dan monofilamen 10 gram.
  • Mengisi skor Michigan (semacam kuesioner) yanag merupakan skor untuk skrining awal neuropati.
  • Memperoleh informasi dan edukasi mengenai neuropati, gejala-gejala, dan tindakan yang perlu dilakukan.

Tahun lalu NSP ada di 15 rumah sakit di Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar selama bulan Juni sampai Oktober. Tahun ini ditargetkan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas di pulau Jawa dan Sumatera, dan mulai merambah kota-kota di Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Papua.