Motherhood Monday: Lea Kartika Indra Tentang Disiplin

“Pekerjaan dan keluarga tidak boleh dijadikan pilihan, harus seiring sejalan..””

Kalimat yang keluar dari mulut Ibu Lea Kartika Indra, Communications Director PT. Ford Motor Indonesia ini, benar-benar ‘jleb’, buat saya dan mungkin juga beberapa ibu bekerja yang lain. Maklum, ada beberapa  ibu bekerja yang sering diliputi rasa bersalah karena ‘menyerahkan’ anaknya ke pihak lain selama dia bekerja. Tapi, saya mendapat pandangan lain setelah ngobrol dengan perempuan ramah ini.

Bersuamikan seorang Angkatan Laut, membuatnya pandai menerapkan disiplin dan sangat mementingkan kesehatan. Ia pun rutin berolahraga serta makan makanan yang sehat.

“Kesehatan, gaya hidup dan pola makan itu mendukung produktivitas saya sebagai ibu, istri dan keluarga”, katanya. Ah, saya setuju sekali!

Di sela-sela kesibukannya saat Ford Safety Driving untuk PGRI (Persatuan Guru Indonesia) beberapa pekan lalu, saya pun bertanya-tanya mengenai manajemen waktu, pekerjaan dan keluarga.

Ibu Lea sebagai ibu, seperti apa, sih?

Saya sebagai ibu berusaha untuk meluangkan waktu sebanyak mungkin dengan keluarga. Karena kalau dalam pekerjaan, tentunya nggak habis-habis. Tapi saya mencoba untuk mendisiplinkan diri, dalam artian, nggak pulang sampai larut malam kecuali betul-betul nggak bisa dikompromikan. Saya sangat disiplin dalam manajemen waktu terutama saat saya di kantor. Ataupun saat meeting. Berusaha waktu kerja, ya untuk bekerja. Sehingga bisa mempunyai waktu untuk keluarga.

Sekarang ini dalam era teknologi, sebetulnya kita bisa lebih fleksibel. Yang namanya bekerja, nggak harus semata-mata duduk manis di kantor. Jadi saya itu sudah mulai bekerja pertama kali bangun tidur, sambil siap-siap berangkat, saya ngecek gadget sehubungan dengan kerjaan. Di mobil sambil balas email, jadi sampai kantor, tinggal mengerjakan hal-hal yang harus dikerjakan di kantor.

Kemudian nanti pulang kantor, saya meneruskan pekerjaan di mobil. Sampai di rumah, tinggal sama keluarga. Kalau memang kerjaan belum beres juga, setelah anak tidur, baru deh mulai lagi kerja.

Anak-anak sudah besar (anak Ibu Lea berusia 9 dan 6 tahun), mereka sudah ngerti ibunya kadang-kadang harus keluar kota atau tidak bisa hadir di momen tertentu. Pernah nggak sih, mereka protes dan gimana mengatasinya?

Kalau protes, sesekali saja, ya. Karena mereka kayanya cuek, atau memang mereka nggak pernah merasakan kondisi yang lain, ya. Jadi mungkin mereka pikir ini adalah hal yang wajar. Cuma saja kalau protes lebih ke waktu. Dulu saya selalu pulang kantor malam, anak-anak sudah tidur, saya baru pulang, mereka berangkat sekolah, saya masih tidur. Tapi itu dulu. Kalau sekarang sayaudah nggak mau. Mereka protesnya lebih ke nyindir aja, jadi seperti ini, kalau ditanya “besar nanti mau jadi apa?”, jawabnya nggak mau kaya mama.. Hahaha… jleb banget ya!

Nanti saya tanya lagi, kenapa nggak mau kaya mama? Jawabnya, mama kan sibuk, selalu sibuk. Di rumah aja jarang, aku nggak mau kaya mama. Itu bentuk protes mereka. Kadang-kadang mereka ultah, saya nggak ada, lho! Saya akan bilang, “nanti ultah kamu dirayakan setelah mama pulang, ya” atau nanya mereka mau oleh-oleh apa, misalnya. Ya kalau lagi berjauhan kan bisa tetap mengucapkan selamat ultah, pulangnya bawa hadiah ultah dan makan bareng, seperti itu saja, mereka cukup happy, sih. Mereka udah ngerti ibunya harus begitu, dan kayanya mungkin bagi mereka efeknya hanya ketunda aja makan-makannya hahaha..

Nah, ibu bekerja umumnya ‘sepaket’ dengan rasa bersalah. Pernah merasakan seperti itu?

Saya jarang, sih. Menurut saya, kalau saya tidak bekerja, akan lebih sulit daripada saya  bekerja. Karena di zaman seperti saat ini, menurut saya, wanita memiliki suatu aktivitas apalagi jika bisa membantu ekonomi keluarga itu termasuk untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Hal ini mengurangi potensi dalam rumah tangga terjadi keributan yang nggak perlu.

Saya bukan tipe orang yang ambisius dalam mengejar karir, lebih tipe yang mengalir saja. Kalau saya berada di posisi saat ini, ya, mensyukurinya. Dulu saya sempat berpikir, kalau ngurus anak saja, nggak kerja, kayanya enak deh. Tapi secara logika, kalau saya bisa berkarya, nilai tambah dengan apa yang saya bisa, itu tidak berarti hanya untuk perusahaan di mana saya bekerja. Tapi juga untuk keluarga. Jadi kalau dibilang feeling guilty, jarang, ya. Apa saya kurang keibuan, ya? Hahaha…

Sekarang kerjanya di bidang otomotif, sebelumnya juga bidang kerjanya cowok banget. Nggak sengaja kecemplung atau memang minatnya ke sana?

Pertanyaan ini membuat saya berpikir, haha… Saya tidak pernah melihat itu sebagai yang bidangnya cowok banget. Tapi memang, setelah dihayati, iya juga ya. Di kantor saya selalu lebih banyak cowok daripada cewek. Jadi waktu di perusahaan sebelumnya, saya kan di pabrik, saya satu-satunya manajer perempuan. Enak ya? Haha… Kalau masuk pabrik, itu semua buruh pabrik “suit-suiit”.

Nah, kondisi ini sama dengan di Ford saat ini. Semua Board of Director-nya laki-laki. Saya satu-satunya perempuan, yang lainnya laki-laki. Dan mungkin di tahun-tahun yang akan datang akan bertambah perempuannya.

Apakah sengaja? Enggak, ya. Kesannya saya pengen cantik sendiri, hahaha… kebetulan saja.

Ada hambatan atau keuntungan dengan posisi seperti itu?

Kalau di Ford, kesetaraan gender adalah hal yang utama. Kita memandang semua orang setara. Tidak memandang orang berdasarkan SARA adalah code of conduct. Jadi saya tidak merasakan adanya pembedaan tertentu di situ. Tantangannya, menurut saya sejauh ini, biasa saja, ya, yang dihadapi oleh kaum pria juga. Sama aja. Apa contohnya ya?

Mungkin kalau cowok bekerja, hal-hal domestik nggak membebani mereka. Sementara kalau perempuan mau nggak mau ‘dibebani’ hal tersebut..

Di Ford selalu boleh. Mau laki-laki, perempuan, sama saja. Ambil rapor, boleh izin. Anak sakit, boleh (izin) juga. Kalau di Ford, sebelum menunjuk seorang perempuan ke sebuah posisi yang misalnya 75% waktunya traveling, kami memastikan apakah Anda memiliki kendala dengan keluarga? Karena kalau tidak, nanti si employee, either one, antara pekerjaan atau keluarga ada yang keteteran. Harus ada komunikasi yang intens untuk perempuan di suatu jabatan terutama kalau traveling time-nya banyak. Kebetulan saya traveling time-nya nggak sampai 75% sebulan. Cuma waktu kerja saya memang relatif lebih panjang. Tapi di Ford itu memang load kerjanya cukup besar setiap employee, maka kita mencoba sistem agar employee bisa bekerja di mana saja, kemudian misalnya setiap hari Jumat, jam 5 kantor harus sudah kosong. Semua harus sudah pulang, nggak boleh ada lembur. Mau lebih awal lagi pulangnya, juga boleh. Ini berlaku bagi semua, pria atau wanita. Karena kita, saya, nih misalnya, sebagai ibu, ditopang satu culture di mana ibu lebih bertanggungjawab di rumah. Kulturnya seperti itu. Sebenarnya kalau pola pikir yang lebih luas, bapak itu punya peranan penting di rumah tangga. Setara lah dengan ibu. Jadi sebenarnya, menurut saya, karyawan laki-laki pun harus diberi kesempatan yang sama dengan karyawan perempuan untuk menghabiskan waktu di rumah.

Nah, dengan suami sendiri bagaimana mengomunikasikannya, Bu Lea?

Kalau suami saya itu, jarang komplen dengan saya. Dia kalau saya pulang malam, kayanya sudah biasa juga. Yah, tidak terlalu senang, sebenarnya. Karena menurut dia, tuh, anak-anak perlu diperhatikan , perlu ibu. Nggak mungkin kan kalau nggak ada ibu, karena itu tanggungjawab ibu untuk ada bersama anak-anaknya. Kemudian saya banyak beraktivitas Sabtu-Minggu atau hari libur, asyik, ya, kerjaan saya? Dan saya nggak dapet cuti, lho! Haha..

Biasanya yang saya lakukan adalah, melakukannya bersama keluarga. Jadi biasanya saya pergi dari rumah bareng keluarga, saya didrop di lokasi kerja, anak saya main di sekitar lokasi, lalu setelah selesai kerja, mereka jemput saya. Kalau saya keluar kota di akhir minggu, anak-anak akan ikut saya keluar kota.

Suami protes? Saya rasa enggak, enak malah kayanya dia, haha..

Berarti membutuhkan komunikasi yang baik dengan suami, kan?

Tanpa komunikasi, saya rasa suami sudah mengerti. Nggak pernah dikomunikasikan secara intens, yang biasanya lebih intens adalah saat saya pindah kerja. Misalnya seperti dulu saya mau pindah ke Ford, lokasi kerja dulu lebih dekat. Dan beban kerjanya juga lebih ringan dibandingkan saat ini. Di Ford, rumah saya di Utara, kantornya Selatan. Pekerjaannya juga bebannya jauh lebih berat. Semua itu sudah disadari jauh sebelumnya. Nah, saat mengambil keputusan itulah saya melibatkan dia secara intens. Enakan di sini nyantai-nyantai,  atau pindah dengan suasana baru, tantangan baru. Tapi konsekuensinya ini dan ini.

Pada dasarnya suami saya orangnya idealis. Menurut dia kalau kita punya potensi dan kemampuan maka harus dikejar.

Waktu dengan suami berduaan, masih ada?

Kebetulan, saya tipe yang senang berduaan dengan suami. Cuma, suami saya enggak. Hahaha, dia tipenya family man banget.

Menurut dia, waktu keluarga itu adalah ayah-ibu dan anak-anak. Jadi sulit banget berduaan dengan tipe suami yang seperti ini. Makanya kalau orang-orang asik bisa berduaan nonton sama suami, saya cuma sedih, hahaha..

Kalau saya bilang, “ayo kita pergi berdua aja”. Suami saya pasti, “ anak-anak sama siapa?”. Gituuu… jadi lama-lama saya pasrah, mau diapain aja.  Saya maunya yang romantis-romantis, berdua, suami saya maunya bareng-bareng, hahaha…

—-

Seru banget pembicaraan saya sama Ibu Lea. Nggak ada habisnya, beneran, deh! Kalau mau ditranskrip semua, rasanya akan jadi 7 artikel sendiri, haha. Saya selalu senang bertemu dengan orang baru, mereka pasti membawa cerita yang berbeda di mana masing-masing bisa diambil pelajarannya. Ya nggak, sih?


One Comment - Write a Comment

Post Comment