‘Teguran’ Langsung Dari Tuhan

Pernah nggak mengalami kejadian mendapat teguran langsung dari Tuhan atas apa yang baru saja kita lakukan? That exact moment happen to me just couple weeks ago.

Sore itu saya sedang bersiap untuk berangkat ke sebuah acara yang bersamaan dengan jadwal kursus Kumon anak sulung saya, Akhtar. Ada PR yang harus dia kerjakan sebelum berangkat kursus, tapi bukannya mengerjakan, ia malah menonton tv. Saya sudah mengingatkan untuk mengerjakan PR-nya saat itu juga, tapi beberapa saat kemudian ia hanya naik ke kamarnya kemudian bermalas-malasan di tempat tidur.

Rasanya kesal sekali, melihatnya tidak bertanggung jawab terhadap tugasnya, sementara saya sudah harus berangkat. Akhirnya saya mulai membentak dan mengancam akan menghukumnya apabila dia tidak langsung mengerjakan PR-nya. Duh..saya bentak berkali-kali dengan kata-kata “Harus dihukum dulu, ya, baru mau mengerjakan? Kalau diberitahu tidak bisa, harus dihukum dulu berarti!”

 

 

Entah kenapa rasanya kesal sekali, ditambah dengan si kecil yang mengacak-acak meja kosmetik saya. Tapi akhirnya setelah ‘drama’ tersebut, saya bisa berangkat dan Akhtar pun berangkat ke kursusnya.

Acara selesai tepat pukul 8 malam, saya langsung meluncur ke stasiun untuk naik KRL AC. Di dalam gerbong kereta, saya ketemu dengan seorang tetangga, ibu yang seumuran ibu saya. Wah, baru sekali saya ketemu ibu ini di kereta. Kami pun ngobrol, masing-masing bertanya dari mana. Kemudian, percakapan yg membuat saya ‘berasa dijewer': “Akhtar sudah berapa tahun? Cepat ya udah gede”. Kalau sama anak, jangan galak-galak. Didengerin aja, dimengerti. Kalau kita galak, nantinya dia justru akan melawan. Dia maunya apa, kita sampaikan ke anak kita maunya seperti apa. Nanti kan ada kompromi. Kalau kita baik, mau ngerti, nanti gedenya anak-anak akan segan untuk berbuat hal-hal yang gak baik. Tapi kalau kita galak, anak akan melawan”.

Daan bla..bla..bla percakapan berlanjut ke hal-hal lain.

Duerrr…! Ada angin apa…? Ibu ini memang terkenal chatty, tetapi ujug-ujug ngomongin soal itu? Tidak pernah! Oh, ibu ini tinggalnya jauh lho, jarak rumahnya kira-kira 15 rumah dari rumah saya. Jadi nggak mungkin dia overheard. Tapi tidak pakai pikir lama dan macam-macam, saya berkesimpulan ini memang teguran langsung dari Tuhan lewat ibu tersebut, karena perlakuan saya ke Akhtar. I’m over reacting, mungkin tanpa saya sadari juga sikap itu sebagai pelampiasan karena kesal adiknya menumpahkan foundie Shu Uemura saya kemarin.

Dan saya bersyukur ditegur langsung seperti itu, karena rasa ‘tidak enak’ itu akhirnya terkonfirmasi langsung bahwa tindakan saya adalah SALAH, dengan membentaknya sedemikian rupa. Saya kemudian minta maaf kepada Akhtar yang bahkan saat saya tiba di rumah, he already act normal like nothing happen :D

Saya kemudian ingat pada sesi Ibu Elly Risman tentang menghadapi anak lelaki usia sekolah, sampai menjelang belasan tahun. “Tidak usah berharap anak laki-laki usia sekolah (dasar dan menjelang belasan tahun) akan mendengar instruksi atau perkataan kita begitu saja. Itu nature-nya mereka. Alih-alih menyuruh anak melakukannya, sampaikan dalam bentuk pertanyaan, sehingga anak memikirkannya”.

Mudah-mudahan kejadian ini bisa mengingatkan saya terus, agar jangan sampai kalah oleh nafsu amarah dalam diri kita. Ibu tadi mungkin sama seperti generasi ibu-ibu saya, yang tidak mendapat limpahan edukasi dan informasi pengasuhan anak seperti era kita sekarang, tapi pengalaman dan intuisi sebagai seorang ibu, yang akhirnya membawanya pada nasihat seperti di atas. Dan ternyata pengalaman serta intuisinya memang confirm, dengan prinsip komunikasi dengan anak yang kita pahami saat ini.


14 Comments - Write a Comment

  1. Peluk Nisa dan Akhtar! Kadang masih sering marah-marah kalo anak2 bikin ulah disaat suasana hati lagi ngga baik daaan abis itu baru nyesel deh. Noted untuk pesen dari Ibu Elly Risman tentang mendidik anak laki-laki usia sekolah. Thanks for sharing yaa

  2. Waaaaah..namanya sama kayak nama anak gw yg msh 6bln,,Akhtar. Kalo mbk ngartiinnya apa?? #salahfokus. :D

    Anyway.. Gw jg tipe2 yg cepet kesel, ntaah nanti ya kalo anak gw udh mulai sekolah bgitu, dulu jd guru les privat aja rasanya keseeel bgt kalo kagak ngarti2. Semoga Akhtarku penurut..penurut..penurut..bantu mama g bikin dosa ya.hihihi.. TFS mbk

  3. Aduh, nyes banget, ya, Nis :(
    Rasanya semua orang pasti pernah mendapat ‘teguran’ ini. Baik secara sadar ataupun tidak. Basically, menurut gue, ‘rasa bersalah’ itu yang bikin kita ‘menghubung-hubungkan’ suatu kejadian dengan kejadian yang lain sehingga menganggap kejadian setelah kita melakukan ‘kesalahan’ jadi sebuah ‘teguran’.

    Anyway, thanks for sharing, Nisa. Memiliki rasa bersalah sesungguhnya jadi sebuah alarm buat diri kita sendiri, IMHO :)

  4. I was surprised to read this article after a series of articles by Leija on French child-rearing (which I adore reading and agree thoroughly). I am a firm believer of discipline and limits for children. Children need to learn that there are rules and obligations in this world and parents have to teach them just that. For example, if they start driving a car, wouldn’t you expect them to obey traffic rules? For their own and others’ safety? Or that they have to do their work before they can have money to spend? Or would you rather protect them under mother’s protective wings for ever?

    I would be worried if all parents in this world try to be friends with their children and not even dare to scold them. I can’t imagine what kind of society we all will end up with if children are not taught discipline from an early age. I’m guessing a society where everything is tolerated, because nobody ever learns that there are rules to keep a society intact.

    A friend of mine forwarded this article, which I think is a good continuation of Leija’s series. http://www.psychologytoday.com/blog/suffer-the-children/201203/why-french-kids-dont-have-adhd

    1. kulakula, saya percaya orangtua, -apalagi yg udah overinformed, artinya belajar untuk menjadi orangtua- masing-masing bisa memahami mana yang paling cocok untuk keluarganya. so, artikel ini bukan berarti kontra dengan article series dari Leija. I do believe in discipline to our kids, without scolding them. And we’re in mommiesdaily practically open to any case, different cases of parenting story, for us to learn and take something from them.

  5. namanya ortu itu berbeda dengan teman.. ketika anak memang salah, sudah sewajarnya anak ditegur.
    Kalau kita hanya berusaha mendengar dan mengerti, memangnya anak itu juga sudah bisa mendengar dan mengerti?

    Disiplin itu perlu.
    Dan salah satu tugas ortu adalah menerapkan disiplin dalam batasan yang jelas.
    Kalau dibilangin dengan baik-baik memang sudah tidak mempan, tidak ada salahnya dibentak or nada diperkeras.

    Hukuman itu juga memang perlu.
    Kalau ga dari mana dia belajar konsekuensi?

    Yang ga boleh itu kalau sudah mengancam akan menghukum tapi ketika beneran ga dilakuin ternyata hukuman ga jalan. or mengancam akan menghukum, tapi ga jelas hukumannya entar apa.

    ya… itu pendapat gw doang sih… gw belum punya anak, tapi gw berkaca ama pengalaman gw sebagai seorang anak dari ortu gw.

  6. kalo menurut aku sih sebetulnya adalah menempatkan diri kapan menjadi teman dan kapan menjadi ortu, aku termasuk yg menjalani masa kecil dengan ibu yg suka membentak, mengancam, memukul, menghukum dan sayangnya bukan kapok atau mengerti kenapa aku dihukum yang aku dapatkan adalah “emosi’ nya

    Ibu aku cukup disiplin, pagi bangun beresin tempat tidur tapi aku ngga pernah mengerti kenapa harus kalo sekarang ketika dewasa mungkin batu mengerti ooh kalo tempat tidur berantakan itu ngga enak dilihat dan kalau ngga dikepruk banyak kotoran diatas tempat tidur tapi dulu yg aku tangkap kalo ngga melakukan pasti dimarahin, thats it
    yang aku mengerti sekarang adalah kuncinya anak mesti mengerti kenapa dia mesti disiplin? dan ortu pun harus menerapkan hal yg sama ngga boleh makan didepan tv ya ortu pun ngga makan didepan tv

    Ketika ketupatkartini memarahi yang keluar adalah “emosi” dan itu yg dibaca anak bukan kenapa dia mesti mengerjakan PR? dan apa konsekuensi panjang dari ngga ngerjain PR?
    mengenai parenting style tiap negara punya parenting style berbeda2 dan saya ngga bisa bilang french style parenting is the best karena semua pasti ada plus minusnya atau tiger mom itu menyiksa anak karena kenyataannya ada anak yg cocok dengan gaya disiplin yang keras ada juga yang malah jadi ngelawan
    ngga ada yang salah dan ngga ada yang bener, terserah ortu mau mengadopsi gaya parenting yg mana “sukses” engganya akan keliatan pada anak ketika dia beranjak gede

    aku pribadi menerapkan disiplin pada anak sekaligus mencoba jadi temannya, dengerin keluh kesahnya disekolah, nemenin main, ada beberapa hal yg strict ngga boleh ada juga hal yg aku biarkan bebas misalnya mainan lumpur atau main hujan2an pake jas ujan, hal yg berbahaya aku larang tapi hal yg dimana dia akan belajar dari konsekuensi aku biarkan merasakan sendiri yg penting udah dikasih tau bahayanya….

  7. When I was a second grader at my elementary school, I was scolded for forgetting to do my homework. I had to mop the floor in front of the whole school and had to write fifty lines of “I shall never forget to do my homework”. I must say it worked because I never had to mop the school floor again in my life because I never forgot to do my homework thereafter.

    When I was little, I was taught to be careful while eating. If I let grains of rice drop on the floor, I was told by my mother to pick them up one by one on all fours. That taught me to be careful while eating.

    If I broke a glass then I had to help out with cleaning up. I am still careful with glasses until now.

    My mother’s cosmetics? I knew better than playing with them, because I knew they were not toys. How? She told me.

    Was my mother a tiger mom? Don’t think so. I was only taught discipline.

    Those are consequences a child would learn to remember for his whole life. There is always a consequence for not doing one’s obligation or breaking the rules.

  8. kalo menurut aku yg juga merasakan “konsekuensi” akan lebih baik kalo anak mengerti kenapa dia sebaiknya ngga melakukan itu bukan hanya karena “takut dihukum” tapi karena tindakan itu merugikan dirinya sekarang maupun nanti. mungkin discipline mother works for you, tapi kalo aku pribadi lebih berharap mendapat lebih banyak pelukan dan intimate moment bersama ibuku

    anakku ngga pernah memainkan barang pribadi milik ortunya, setidaknya sampai sekarang usia 4 tahun, kenapa? karena dia tau itu adalah barang milik ortunya dan bukan mainan, dan masih banyak hal lain yg lebih menarik untuk dimainkan, ketika dia pengen memukul2 panci dia akan bertanya “boleh dimainin ngga pancinya?” kalau aku bilang ngga boleh dia akan bertanya apa benda lain yg boleh dimainin
    anakku tipa yg banyak bertanya dan aku akan dengan senang hati berusaha menjawabnya, beda dengan ibuku yang ngga suka ditanya2, menyuruh diam yang akhirnya bikin aku menarik diri

    Buat aku semua gaya parenting ngga ada yang salah maupun benar pasti ada plus minusnya ;)
    kedisiplinan perlu, bersikap friendly juga ngga salah asal sesuai dengan situasi kondisi

Post Comment