Family Friday: Ivy Batuta, Tanpa Pengasuh= Mudah!

Berbeda dengan ibu-ibu kebanyakan yang langsung panik saat ditinggal pengasuh anaknya, Ivy Batuta justru sebaliknya. Di tengah segudang aktivitasnya, mulai dari siaran di radio, presenter acara stripping, hingga masuk dalam tim pengajar di L’oreal group, Ibu dari Qiara dan Zivanka ini justru memutuskan untuk tidak menggunakan  jasa pengasuh untuk kedua anaknya.

Hebat banget, ya! Saya saja, yang belum lama ini ditinggal pengasuh Bumi secara tiba-tiba, nyaris kena serangan jantung *lebay* :D. Alhasil, setiap hari rasanya nggak pernah absen mencari informasi untuk mendapatkan  penggantinya.

Memang, sih, istri dari Eduardes Agung ini nggak membantah kalau dirinya sering merasa kerepotan. Bahkan katanya “Setiap hari saya harus mengalami KTT alias kerepotan tingkat tinggi, hahaha. Mungkin semua anak, sesuai anak saya ini kan memang sedang aktif-aktifnya, jadi memang sedikit repot.”

Beberapa waktu lalu, saya memang sempat berbincang dengan perempuan yang memiliki suara khas ini. Meskipun hanya sebentar, tapi ada banyak nilai yang bisa kita pelajari dari pengalamannya.

Mengingat jam kerja Mbak Ivy sangat padat, bagaimana, sih, caranya mengatur waktu untuk si kecil?

Saya, tuh, nggak punya office hour dari jam 8 sampai jam 5, jadi bisa dibilang justru waktu saya bersama anak-anak lebih fleksibel dan lebih banyak. Kenapa lebih banyak, karena juga mereka sering saya ajak kerja. Dan itu nggak terhitung, deh, berapa kali saya ajak. Jangankan yang di luar kota, ya, di dalam kota saja sering. Kalau kerja saya seperti bawa rombongan sirkus, deh. Jadi bisa dibilang hubungan kami sangat lengket.

Apalagi sampai sekarang saya masih pegang anak-anak sendiri, mulai dari mandiin, belajar, dan main. Jadi sering banget saya mengalami kondisi saat ingin berangkat kerja, tiba-tiba harus membersihan anak yang buang air besar. Repot, ya?

Tidak ada pengasuh yang membantu?

Nggak, selama ini saya selalu dikecewakan dengan pengasuh. Saya ini termasuk perempuan yang keras, dalam arti sangat disiplin dengan peraturan yang ada di rumah. Bukannya galak dan sering omelin mereka, ya. Jadi, kalau mereka sudah melanggar peraturan yang buat saya sifatnya sangat krusial, saya jadi nggak bisa mempertahankannya.

Boleh tahu seberapa krusialnya?

Macam-macam, ada yang mencuri, ada juga yang lebih parah lagi. Saya juga nggak suka dengan pegasuh yang pemalas, misalnya, mereka ingin anak saya tidur saja, supaya mereka bisa istirahat. Padahal belum tentu anak saya juga ingin tidur karena justru mereka ingin main. Cerita soal pengasuh anak, sih, nggak akan habis dalam satu hari, deh! Drama rumah tangga saya itu bukan antara saya dan anak-anak. Tapi justru dari orang luar, Asisten Rumah Tangga atau pengasuh anak-anak.

Sudah trauma mempunyai pengasuh anak, ya?

Saya memang sedang memutuskan untuk nggak pakai pengasuh di rumah. Habisnya, sepanjang pengalaman saya, kok, selalu dikecewakan sama mereka, ya? Kalau satu dua bulan, nggak cocok dan dikecewakan seperti itu akhirnya saya malas lagi mencari penggantinya. Butuh waktu lama untuk recovery-nya. Capek kalau begitu-begitu lagi.

Kalau soal pola asuh, bagaimana, sih, Mba Ivy dan suami menerapkannya?

Free style, hahahaha. Ya, saya mengikuti dinamika kita saja. Yang pasti saya membiasakan untuk nggak terlalu sering bilang tidak pada anak-anak. Biar saja mereka mengeksplorasi diri dan lingkungannya. Kalau dia mau main air dispenser sampai banjir dan akhirnya kepeleset, ya, biar dia tahu akibatnya. Mau main air panas, ya, biar saja mereka rasakan air panas itu seperti apa. Tapi ya pastinya masih dalam pengawasan saya.

Ada nggak sisi negatif dari pola asuh seperti ini?

Pola asuh seperti ini memang ada benar ada nggaknya, banyak teman yang komentar, pola asuh saya ini sangat selon dan membuat anak-anak jadi nggak disiplin.

Misalnya, saya kan sering mengajak anak kerja, buat sebagian orang hal seperti ini akan merusak kedisplinan mereka, soalnya jadwal tidur dan makan jadi nggak teratur. Tapi ya, ini memang pilihannya. Saya nggak berani menitipkan anak-anak saya sama orang yang tidak saya kenal tanpa supervisi dari keluarga. Jadi mau nggak mau, ya, saya ajak.

Tapi, apa benar anak-anak jadi nggak disiplin?

Justru itu, saya malah merasa ke dua anak saya ini jadi mandiri. Mereka sudah bisa makan sendiri, pakai baju sendiri, dan ini nggak saya ajarkan, lho. Mungkin mereka terbiasa melihat orangtuanya yang disiplin,  jadi mereka akhirnya ikutan juga.

Selain itu ada nggak, sih, sisi positif dengan sering mengajak anak-anak kerja?

Sebenarnya ini, sih, lebih karena saya parno saja, ya. Mau dititip ke mana? Dititip ke neneknya, ya, kalau pas bisa. Kalau nggak bisa, ya, bagaimana. Tapi dengan begini, saya jadi sangat dekat dengan anak-anak. Dekat saja, mereka menemukan kenyamanan dengan saya. Kan ada masanya mereka seperti ini, ada masanya mereka sudah nggak mau ikut-ikut saya kerja lagi. Tapi karena mereka “hidup” di jalan, mereka itu hapal dengan jalan-jalan, mereka juga jadi mudah bersosialisasi dengan orang lain.

Wow, salut, ya! Dalam bayangan saya, namanya selebritis, pasti dikelilingi ‘dayang-dayang’ yang siap sedia membantu kemanapun mereka pergi. Tapi dalam kasus Ivy.. Acungi dua jempol!


One Comment - Write a Comment

Post Comment