Editor’s Letter: Learn Something This May!

Tadi pagi saya naik taksi menuju ke lokasi event Buavita. Kebiasaan saya kalau naik taksi adalah, ngajak ngobrol pengemudinya. Kenapa? Saya, yang nggak nyetir mobil setiap hari saja malas banget menghadapi macetnya Jakarta, apalagi beliau, yang kerjanya memang di jalan.

Dari obrolan basa-basi, biasanya saya mendapatkan entah ilmu, informasi jalan, serta hal-hal baru dari sudut pandang berbeda.

Pagi itu, Bapak Hafidz (nama si pengemudi) memberikan kisah yang menurut saya inspiratif. Inti ceritanya adalah, ia memiliki 2 anak. Saat ini kedua anaknya sedang menjalani kuliah S2 (!!!!). Si sulung di Kanada, si bungsu di Malaysia. Keduanya mendapat beasiswa. “Kalau kasih makan anak dan keluarga dari rezeki yang halal, Insya Allah (anak dan keluarga) sukses, Mbak.” Itu pelajaran pertama dari beliau.

Obrolan kami berlanjut. Dari situ, saya tahu bahwa Pak Hafidz sudah bertitel Haji, pernah ke Jepang, Turki, Australia, Malaysia, Kanada, Singapura, dan lain sebagainya. Takjub? Tunggu dulu. Ternyata Pak Hafidz, sebelum jadi sopir taksi pernah punya jabatan di sebuah perusahaan internasional. Wow!

Kenapa jadi sopir taksi? Sudah bangkrut atau butuh duit sekali? Ternyata tidak. Ia jadi sopir taksi semata-mata karena iseng. Ia ingin tetap beraktivitas dan bermanfaat. Masalah duit, nggak jadi hal yang penting. Apalagi berdasarkan ceritanya, ia punya sejumlah ruko yang dikontrakkan dan sebuah rumah yang disewakan. Nggak cukup sampai di situ, ia juga baru membeli rumah di Sentul City.

Seperti kisah sinetron? Atau nggak percaya dengan ceritanya? Mungkin saya terlalu naif, tapi dari penuturannya, saya tahu, ceritanya sungguhan. Lesson learned: hidup jangan kemakan gengsi :)


Ya, pelajaran bisa didapat di mana saja. Saya sangat percaya itu. Ilmu yang kita dapat di sekolah, menurut saya kadang kurang cukup banyak untuk kita menjalani hidup.

Untuk menjadi orangtua atau pasangan hidup, apakah ada sekolahnya?

Kalau sekarang, sih, enak sekali. Banyak ‘sekolah’ offline dan online agar kita bisa menjadi orangtua/pasangan yang lebih baik. Aneka milis, forum, bahkan akun sosial media para tokoh parenting, kesehatan, finansial, dsb, bisa diakses secara gratis oleh kita. Belum cukup ilmunya? Seminar, talkshow, workshop juga banyak diadakan di mana-mana. Enak sekali, kan?

Bulan ini tema kami adalah school is cool. Selain akan membahas mengenai sekolah untuk anak-anak, mulai dari kurikulum, persiapan sekolah, dsb, kami juga akan membahas mengenai sekolah bagi para orangtua. Tentu, bukan sekolah seperti yang dibayangkan/ pernah dijalani, ya. Tapi lebih ke pelajaran berharga yang telah kita dapatkan seumur hidup ini. Apalagi menurut saya, menjadi orangtua adalah jurusan “sekolah” paling sulit dan ga ada “lulusnya” :).

Salam hangat dari kami, jangan bosan-bosan belajar, yuk!


6 Comments - Write a Comment

  1. iyaahh…klo pas bengong lama juga gw suka iseng ngajak ngomong org. pas ketemu yg suka ngomong jg mayan lah. kayak kapan hari pas iseng nge-roker dr cawang ke kota pp :D it’s warm inside saat ketemu ibu2 dg anak2 yg udah remaja yg mengamini prinsip kita. asa kepikir alhamdulilaahh gue kaga sesat2 amat jalannya :p maklumlah, eke kan mak2 preman

  2. Lita….

    Gue juga sering banyak belajar dari pengemudi taksi…. salah satunya tadi pagi, waktu mau sampai tujuan gue baru tahu dompet gue ketinggalan di rumah *akibat buru2* , pas gue panik, pengemudinya malah bilang, “Ya, sudah mbak, nggak apa-apa, bayarnya nanti saja, Nanti kan saya bisa ke rumah, mbak,”

    Ya, ampun… baeekkk amat, yah! Pengemudinya percaya aja gituh. Waktu dlm perjalanan, dia juga cerita, ada penumpang yg protes kalau argonya lebih mahal waktu naik taksinya. Konon, biasanya nggak semahal itu…. pas dijelasin, kalau argo bisa beda karena macet, eeeh si mbak2 itu katanya keukeuh bilang argonya mahal. Dan, cuma direspon sama pak supirnya, “Kalau begitu, bayar saja seperti argo yang biasanya, mba”.

    Wew…. ikhlas banget, ya? Dodolnya, mbak2nya itu juga nggak tau diri, bayarnya sesuka hatinya, nggak sesuai sama argo. Pak supir taksi juga bilang, “Ya, biar aja, mba… yang penting dia ikhlas kasih ke sayanya. Rejeki itu kan bisa datang dari mana saja…”

    Belajar emang bisa dari mana aja, yaa…. nggak melulu di sekolah ^^

Post Comment